
Di pagi hari yang begitu dingin tak sadar tubuh ramping milik Anna menggeliat setelah sepanjang malam ia diam membeku dalam dekapan hangat Tegar. Anna membalikkan tubuh menghadap wajah Tegar. Terasa aroma tubuh yang masih segar menyeruak ke dalam indera pernafasannya.
“Sudah bangun?” Pertanyaan mengejutkan membuat Anna membelalakkan mata menyadari siapa sosok di depannya.
Tanpa berkata apa pun Anna mendorong keras tubuh kekar milik Tegar. Ia gugup setengah mati hingga turun dari ranjang pun Anna tidak bisa mengendalikan langkah dan terjatuh.
“Anna, awas!” Tegar berteriak namun tak cukup cepat menangkap Anna yang kini sudah tersungkur di lantai.
Anna tersenyum kikuk sembari berdiri dan berlari cepat keluar dari kamar. Jelas Anna melihat keadaan Tegar yang sudah baik-baik saja saat ini. Ia pun berinisiatif membersihkan wajah lalu menuju dapur untuk membuat sarapan.
Tegar pun bergegas mandi untuk segera kembali ke kota. Kepulangannya sudah terlambat yang seharusnya kemarin sore. Sejenak Tegar tersenyum senang membayangkan satu malam ia habiskan memeluk tubuh Anna.
__ADS_1
“Kalau begini aku rela setiap malam sakit perut.” gumamnya terkekeh menertawai diri sendiri.
Sementara Anna yang sudah berkutat di dapur tampak susah fokus. Beberapa kali ia memukul kepalanya lantaran terus membayangkan kejadian semalam. Tak pernah ia bayangkan jika Tegar akan tidur satu ranjang dengannya. Tak dapat di pungkiri ada rasa senang yang Anna rasakan bisa dekat dengan pria seperti Tegar.
“Astaga An, sadar dong. Ini godaan setan. Ibu tahu bisa di pecel kamu.” Anna pun menggelengkan kepalanya dan kembali lanjut memasak.
Tanpa sadar kegiatan wanita itu terlihat dari mata milik Tegar. Pelan Tegar mendekati Anna. Melihat bagaimana tangan Anna dengan lincah memasak serta memotong beberapa sayuran dan bawang.
Pagi itu keduanya pun berpisah, Tegar melaju dengan mobil menuju kota. Sedangkan Anna pulang untuk mandi dan membersihkan rumah.
Lillia mendekati Anna dan memeriksa tubuh anaknya. “An, kamu dari mana saja? Kenapa baru pulang? Bagaimana keadaan Pak Tegar? Baik-baik saja kan, An?” Lillia memegang tangan anaknya sembari menatap kesekeliling.
__ADS_1
Anna pun tersenyum tenang melihat sang ibu. Ia mengangguk. “Bu, aku baik-baik saja. Semalam Pak Tegar tidak mau juga di kasih obat. Jadi aku menunggunya sampai tertidur. Tadi dia sudah pulang ke kota. Malam ini ibu temani Anna tidur di sana yah?” ujarnya.
Lillia mendengar ucapan sang anak pun menghela napas lega. Ia hanya bisa menganggukkan kepala.
Keduanya masuk ke dalam rumah untuk membersihkan rumah. Hari ini Lillia memutuskan tidak bekerja. Sepanjang malam ia begitu mencemaskan sang anak hingga pagi pun tubuhnya terasa lemas.
Berbeda halnya dengan sosok pria yang sibuk menelusuri kebun pagi itu. Danny bertanya ke beberapa orang.
“Bu, gadis yang tingginya segini, rambutnya hitam panjang. Wajahnya mungil siapa yah namanya?” Bertanya dengan kata-kata ambigu. Sontak membuat wanita paruh baya itu hanya mampu mengernyitkan keningnya.
“Aduh saya tidak tahu. Banyak di sini perempuan yang wajahnya mungil seperti itu.” Danny menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
Ia berjalan lagi menelusuri kebun bertanya dari satu orang ke orang lainnya.
Namun, Danny tak kunjung menemukan sosok yang ia cari saat ini.