Pejuang Restu

Pejuang Restu
Lari Dari Tanggung Jawab


__ADS_3

Keesokan harinya pagi sekali, Danny bersiap berangkat meninggalkan kota menuju desa dengan mengantongi ijin dari kedua orangtuanya. Rasanya tidak sabar untuk melihat kembali keadaan kebun di desa. Salah, yang lebih tepatnya melihat senyum manis dari Annalise.


Pertama kali dari sejarah sosok Dannya pergi tanpa ada yang menemani, termasuk Danita. Wanita yang selalu mengawasi pergerakan pria ini dan memastikan semua makanan sehat yang ia makan.


“Semoga Danny bisa menemukan wanita yang tepat yah, Pah?” Zaniah berbicara pada sang suami.


Keduanya akhirnya memutar tubuh untuk masuk ke dalam rumah usai melihat mobil Danny tak lagi ada di pandangan keduanya.


“Apa itu artinya Danita bukan pilihan yang tepat untuk Danny, Mah?” tanya Firhan menatap sang istri penuh tanya.


Zaniah tiba-tiba saja memikirkan pertanyaan sang istri. Teringat bagaimana dulu ia dan Firhan awal mula. Tak ada cinta namun ia bersikeras mengejar Firhan. Bahkan selama menikah meski hubungan keduanya baik-baik saja, Zaniah bisa merasakan kekosongan dalam pernikahan mereka.


Hal itu membuatnya tak ingin hal yang sama Danita rasakan mau pun Danny. Mereka bisa mencari cinta mereka masing-masing tanpa ada yang memaksa.


“Mah,” panggil Firhan membuyarkan lamunan istrinya.


Zaniah terlonjak dan menatap sang suami. Ia beralih menonton televisi saat keduanya duduk di di sofa.


“Mamah mau buat cemilan. Papah tunggu di sini yah?” pintahnya pada Firhan.


Merasa bosan sebagai pemilik perusahaan rasanya Firhan sangat ingin pergi ke perusahaan. Sayang restu sang istri belum ia dapatkan.


“Jangan bicara soal perusahaan. Papah dulu bilang kalau sudah sukses papah wajib dengarin mamah. Alasan dulu selalu kerja karena masih bawahan. Sekarang sudah pemilik perusahaan jadi nggak ada lagi alasan buat paksa tubuh kerja.” Celetuk Zaniah membuat Firhan terkekeh.


Ia pun patuh duduk dengan tenang menunggu hasil tangan sang istri.

__ADS_1


Di belahan bumi yang berbeda, Anna tampak memasak pagi itu. Masak cah kangkung dengan beberapa cabe yang sedikit lebih banyak dari porsi masak orang kota. Udang goreng tepung dan juga terong sambel. Semua sudah tersaji di meja makan.


Dari arah tangga sosok Tegar terlihat begitu rapi. Ia tersenyum melihat wanita cantik sudah berada di dapur sepagi ini.


“Pak Tegar, ini makan paginya sudah siap.” ujar Anna menunjuk pada meja makan.


“Kamu yang masak ini semua?” tanya Tegar. Dan Anna menganggukkan kepala tanda mengiyakan.


Tegar duduk dan Anna bergerak hendak menuju ke wastafel mencuci sisa masakan.


“Duduk dan makan bersamaku. Sore nanti aku harus kembali ke kota.” Tanpa membantah Anna mendekat dan duduk. Gugup rasanya makan di kursi yang empuk dan pasti sangat mahal.


Beberapa waktu menikmati masakan Anna, Tegar sangat suka. Namun, wajah putih pria itu tidak bisa berbohong. Ia tengah menahan pedas yang luar biasa. Wajahnya memerah seperti terkena matahari yang terik.


“Pak Tegar baik-baik saja?” tanya Anna panik.


Momen pagi itu terpaksa harus membuat Tegar terbaring lemas sore ini.


Anna pun yang seharusnya pulang ke rumah satu jam lalu, terpaksa harus merawat sang majikan.


“Pak Tegar, ini saya baru beli obat di warung. Bapak harus minum biar tidak sakit lagi perutnya.” Melihat bungkusan obat, Tegas hanya membungkam bibirnya.


“An, saya tidak suka minum obat.” tuturnya yang masih ingin protes sudah harus lari ke kamar mandi kembali.


Anna tampak prihatin melihat keadaan sang boss yang lemas. “Aduh ini pasti gara-gara masakanku yang terlalu pedas. Bagaimana ini?” gumamnya bingung sekaligus ketakutan.

__ADS_1


Anna tidak tahu harus berbuat apalagi selain memberikan obat pada Tegar.


Takut jika sampai di marah atau di suruh bertanggung jawab, dengan polosnya ia berlari keluar villa. Anna ketakutan, ia ingin pulang dan mengadu pada sang ibu.


“Ya ampun An, kamu kok baru pulang? Kenapa, Nak?” Lillia menghampiri sang anak di depan pintu rumah.


Bukannya menjawab, Anna justru menarik tangan ibunya ke dalam rumah.


Wajah panik Anna membuat Lillia juga cemas bukan main.


“Bu, Anna takut. Anna takut di suruh tanggung jawab, Bu.” adunya.


Wajah Lillia semakin di buat bingung. Ia memegang kedua tangan anaknya. Berusaha menenangkan, dan menit berikutnya Anna pun bisa menjelaskan apa yang terjadi pada mereka.


Sementara di Villa, Tegar sudah beberapa kali berteriak memanggil Anna, namun yang di panggil tak kunjung menampakkan wajah.


“Kemana sih dia?” gerutu pria itu.


***


Wajah lesu dan badan letih membuat ketampanan Danny tak berkurang sedikit pun. Mencari kesana kemari sosok Annalise hingga petang, namun ia tak mendapatkan apa yang ia inginkan.


Danny berbaring di dalam mobil lantaran mengantuk. Ia memikirkan hari esok untuk mencari gadis yang membuatnya penasaran itu.


“Sebaiknya aku pergi ke bagian kepala pengawas saja besok. Dia pasti mengenal gadis yang aku cari.” ujar Danny bersemangat.

__ADS_1


Usai mendapatkan jalan untuk esok hari, ia pun melajukan mobil menuju penginapan yang tidak jauh dari desa itu. Sebab tidak mungkin rasanya jika ia tinggal di desa itu. Danny tak akan betah meski hanya satu malam saja. Suasana desa yang gelap minim cahaya lampu.


__ADS_2