
Di desa tepatnya di depan villa milik Tegar kini Danny berdiri berhadapan dengan seorang wanita yang akan ia perjuangkan restunya. Yah, Lillia harus bisa merestuinya untuk mencintai Anna. Bagaimana pun Danny tahu kasih sayang orang tua yang begitu menginginkan anak mereka hidup bahagia bersama pria yang tepat. Maka dari itu Danny berjanji tidak akan lelah untuk memohon bahkan menunjukkan keseriusannya pada Anna di hadapan Lillia.
"Mau apa kau kemari?" ketus Lillia menyambut kedatangan Danny. Ia sama sekali tidak akan memberikan izin mereka bertemu.
Sudah cukup hubungannya dengan Firhan selama ini yang ribet. Lillia tidak ingin itu terjadi juga dengan anaknya.
"Bu, saya kemari mau bertemu dengan Ibu. Saya mau bicara soal Anna. Saya benar-benar serius dengan Anna, Bu." ujar Danny dengan sungguh-sungguh.
Sayangnya, ucapan pemuda itu sama sekali tak membuat hati Lillia menghangat. "Anna sudah saya jodohkan dengan Pak Tegar. Tolong jangan mengulangi kesalahan seperti saya. Menjadi orang ketiga di hubungan orang lain. Carilah kehidupanmu sendiri bersama wanita lainnya." Tanpa basa-basi Lillia berucap. Danny pun sampai menatap tak percaya mendengarnya.
Jelas ia tahu jika wanita di depannya saat ini tengah memintanya menjauh dengan membawa nama orang lain. Bahkan Danny sangat tahu yakin jika Lillia hanya berbohong saat ini.
__ADS_1
"Berikan saya kesempatan membuktikan semuanya, Bu. Saya mohon." tutur Danny.
"Pergilah. Saya akan menikahkan mereka berdua. Saya harap kamu tidak merusak kebahagiaan keluarga kami. Maaf jika di masa lalu saya menjadi duri di keluarga kalian. Itu sebabnya biarkan hidup kami tenang di desa ini tanpa kenal kalian lagi. Saya mohon mengertilah jika saya benar-benar menyayangi Anna. Dia satu-satunya keluarga saya, dia anak satu-satu yang saya harapkan bisa hidup bahagia." usai mengatakan hal tersebut Lillia melangkah masuk menutup pagar villa itu.
Danny yang berdiri mematung belum saja sempat mengutarakan kata-kata permohonan kini hanya bisa menatap pagar tanpa ada lawan bicaranya.
Berdiri menatap sendu. Ia berpikir begitu sulit memperjuangkan wanita yang sama sekali bukan kekasihnya. Bahkan hingga detik ini pun Danny masih tidak tahu apakah wanita yang ia perjuangkan juga memiliki rasa dengannya?
"Aku harus mengurus pembelian di sini. Yah, dengan begitu kerjaanku akan semakin banyak di sini. Itu ide benar. Aku harus bisa lebih lama di desa ini untuk menunjukkan pada ibunya Anna." gumam Danny penuh dengan semangat memperjuangkan cintanya.
Ia tidak tahu jika di tengah jalan kini Danita tampak menggerutu kesal sebab ban mobilnya tiba-tiba saja bocor. Dan jalanan yang ia tempuh saat ini termasuk jalanan menuju desa yang sudah jauh dari kota.
__ADS_1
"Hah sial sial sial. Ini semua gara-gara wanita desa itu. Danny seharusnya tidak pergi ke desa itu. Aku jadi susah seperti ini." umpatnya menendang-nendang ban mobil miliknya.
"Sudahlah jangan marah terus, Danita. Kita harus segera mencari pertolongan. Kamu telpon orang-orang bengkel yang bisa datang. Kita nggak bisa nunggu di sini terus keburu gelap nanti." sahut teman Danita yang bernama Angel.
Danita setuju, ia pun mencari-cari nomor bengkel terdekat dari google hingga akhirnya ia pun mendapatkannya. Kini mereka berdua hanya bisa menunggu di dalam mobil sebab cuaca begitu terik rasanya.
"Lagian lu nekat banget. Danny itu orangnya keras. Kalau sudah itu maunya mana bisa di paksa." sahut Angel lagi memberikan nasihat pada Danita.
"Berisik lu. Gue bawa buat nemanin ke desa. Bukan buat ceramahi gue." ujar Danita melawan.
Ia tidak akan terima begitu saja jika pria yang selama ini ia tempeli bak prangko lepas begitu saja dengan wanita lain. Tidak. Danita tidak akan membiarkan itu terjadi. Danny adalah pria yang sempurna untuknya.
__ADS_1