
Pagi yang masih terlihat gelap membuat sosok pria tegap terbangun dari tidurnya. Matanya mengerjap beberapa kali memandang ke arah jendela kamar yang belum terbuka tirainya.
“Ah sepertinya menyenangkan olahraga pagi ini. Apa sekalian mengajak Anna saja yah?” gumam Tegar teringat akan sosok wanita yang sudah berada di rumahnya saat ini.
Tentu saja ada kesenangan tersendiri bisa bersama Anna di kota tempat tinggalnya. Ada kehidupan baru yang Tegar rasakan.
“Loh…itu dia.” Tegar kaget kala melihat dua wanita sedang duduk merapikan bunga di taman. Beberapa kali keduanya saling membantu menggeser pot bunga yang berukuran besar.
Tak sadar Tegar tersenyum melihat pemandangan menyenangkan itu. Ia selalu di buat terkagum-kagum dengan sikap rajin Anna.
Pada akhirnya pria itu pun bergegas untuk berganti pakaian olahraga. Niatnya untuk mengajak Anna pun ia urungkan.
“Ah pakai baju yang mana? Ini? Ini? Ini? Kenapa semua tidak ada yang cocok?” Tegar kebingungan menentukan pilihannya.
Pikirannya saat ini benar-benar pusing terlebih di kepalanya entah mengapa terlintas bayangan-bayangan kala ia berjalan nanti di depan Anna. Dengan keringat yang bercucuran Tegar merasa dirinya akan jauh lebih mempesona.
“Lewat saja? Atau harus menyapa? Seharusnya lebih bagus pura-pura tidak tahu. Mungkin dengan begitu Anna akan memperhatikan aku dan memujiku pada ibunya?”
Pagi yang kabut ternyata belum mampu membuat otak waras Tegar pulih. Pria itu sedang mengatur strategi untuk menarik perhatian sang pujaan.
__ADS_1
Masa bodohlah dengan sang tunangan yang memang tidak ia sukai. Depi mungkin tengah menangis jungkir balik semalaman setelah pulang dari rumahnya. Tapi, mau bagaimana lagi. Perasaan cinta memang sulit di paksa berhenti atau pun di paksa menerima.
“Loh Ann, itu Pak Tegar kan?” Lillia yang melihat pria tampan tengah berjalan begitu sangat sempurna.
Mata tua Lillia pun bisa melihat dengan jelas jika penampilan Tegar saat ini sungguh bak seorang atlet yang siap bertanding. Di lengkapi dengan headset di telinga menambah ketampanannya.
“Iya, Bu. Biarkan saja paling mau olahraga.” ujar Anna masa bodoh kembali sibuk menata tamanan.
Tegar yang semula berlari kecil melewati mereka merasa heran. Keningnya pun mengernyit melihat tak ada respon dari Anna.
“Eh aku sudah lewat. Kenapa nggak ada panggilan juga yah?” gumamnya yang heran.
“Balik lagi ah, siapa tahu tadi dia nggak lihat aku.” ujar Tegar benar-benar kembali melewati Anna.
Ia berjalan sedikit lebih pelan menuju ke rumah. Sayangnya respon Anna masih sama, acuh. Ia pun masuk dan keluar membawa sebotol air mineral.
Seperti sebelumnya Tegar melirik Anna dengan mata yang kecil ingin memastikan jika wanita itu akan melihatnya ketika lewat.
“Loh Anna kok belum juga ada nyapa sih? Apa penampilanku ini kurang menarik?” tanya Tegar pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Ia di buat pusing pagi itu dengan pikirannya.
Tanpa sadar tubuhnya justru diam mematung tanpa melanjutkan langkah ke depan. Tegar terus bertanya-tanya.
“Pak Tegar? Apa ada yang di cari?” Kini bukan Anna yang bertanya justru Lillia yang memiliki inisiatif sebab sang anak merasa tidak ingin tahu tentang Tegar.
Anna begitu takut dengan kejadian ketika Depi datang. Ia tak ingin mendapatkan masalah dengan orang yang tidak ia kenal.
Tegar yang mendengarnya pun justru menoleh pada Anna bukan Lillia yang bertanya padanya.
“Anna, kamu bisa lihat saya tidak?” tanyanya justru membuat Lillia dan Anna sama-sama mengernyitkan kening.
“Saya lihat, Pak.” jawab Anna singkat.
Tegar justru memperhatikan tubuhnya dari atas sampao bawah memastikan jika ia sudah sempurna.
“Saya bagaimana?” tanya Tegar meminta pendapat pada Anna.
Pelan Anna menoleh pada sang ibu lalu menatap Tegar kembali. “Bapak baik.” jawabnya tak sesuai dengan harapan Tegar.
__ADS_1
Mendengar jawaban Lillia, Tegar hanya bisa menghela napasnya kasar.