Pejuang Restu

Pejuang Restu
Kehebohan Malam Hari


__ADS_3

Malam hari Zaniah melakukan panggilan video pada anak prianya. Perasaan cemas tentu saja ia rasakan sebab mereka sangat jarang berjauhan seperti ini. Meski pun Danny bukanlah anak kandungnya, namun Zaniah sudah begitu menyayangi sosok Danny. Sejak kecil hidup bersama, tak ada perasaan asing antara keduanya.


“Iya, Mah?” Sapaan hangat dari Danny meski jelas wajahnya saat ini tengah lemas tak bersemangat.


“Hei anak mamah ada apa? Bagaimana misi hari ini? Apakah ada kemajuan?” tanya Zaniah setengah bercanda. Namun, Danny justru menanggapi dengan decakan kesal.


“Kemajuan apanya, Mah? Malah di usir dari rumahnya.” adu Danny.


“Wah berarti ada kemajuan dong. Buktinya dapat alamat rumahnya kan?” Danny pun menceritakan bagaimana sikap dingin ibu dari gadis yang ia suka saat ini. Segala bentuk penolakan dari Lillia ia peragakan pada Zaniah. Tak tahan beberapa kali Zaniah sampai terkekeh.


Entah mengapa sikap galak itu membuatnya teringat pada seseorang. Namun, ia segera menepis bayangan di pikirannya itu. Dan seketika itu juga senyum di wajahnya pun sirna.


“Yasudah sekarang kamu istirahat. Besok usaha lagi terus pulang. Masih panjang waktu kamu, Danny. Perusahaan saat ini membutuhkan kamu. Akhir pekan bisa kan kesana lagi. Kali aja kedatangan kamu sekarang kurang tepat. Biar mereka tenang dulu. Mamah dan Papah tidak akan tinggal diam kok.”


Mendengar dukungan sang mamah, Danny pun setuju untuk istirahat. Ia memutuskan untuk segera pulang keesokan harinya.


Sementara Anna berbaring di pangkuan sang ibu. Lembut Lillia membelai rambut Anna. Momen yang sangat jarang mereka rasakan malam ini akhirnya mereka rasakan.


Jika biasanya setiba di rumah keduanya akan memilih istirahat lantaran lelah bekerja seharian. Tidak malam ini. Seharian mereka hanya kerja ringan saja. Hingfa malam harinya masih ada waktu untuk bersantai.

__ADS_1


“Bu…” panggil Anna.


Matanya menatap ke wajah Lillia yang menunggu ucapan selanjutnya.


“Apa ayah Anna orangnya tampan?” Pertanyaan yang lama ia pendam akhirnya terucap juga.


Lillia menghentikan pergerakan tangan di rambut Anna. Mendengar kata ayah, rasanya ia sangat marah. Tak sudi mengakui jika Anna adalah anak dari pria yang sangat ia benci. Yah, Panji adalah pria yang paling ingin lillia hapus dari masa lalunya.


“Jangan pernah menanyakan hal yang Ibu tidak inginkan, An. Tidak ada Ayah. Jangan pernah sebut nama itu di depan Ibu.” Kebencian jelas Lillia perlihatkan pada sang anak.


Dan Anna sadar, semua pasti tak akan mudah ibunya lewati sampai mereka melangsungkan hidup di desa ini. Patuh Anna pun diam.


Meski kamar yang tidak begitu mewah, namun Lillia termanjakan tubuh letihnya selama bertahun-tahun oleh kasur empuk malam ini.


Teringat jelas terakhir kali ia meninggalkan kota malam itu adalah di rumah sakit. Sang mertua mengusirnya usai tahu Lillia mengandung benih pria lain.


Tak sadar air matanya jatuh menetes di bantal mengingat sakitnya hati Lillia hidup terlunta-lunta hingga ia di pertemukan dengan sosok wanita tua. Sayang saat ini beliau sudah tiada lagi.


“Bagaimana keadaan Mas Firhan saat ini yah? Aku sangat merindukannya. Zaniah, apa dia tahu semua ini? Apa dia tahu apa yang terjadi padaku? Aku rindu dengan kalian semua.” Hanya bisa membayangkan bagaimana kejadian masa lalu, Lillia pun hanyut dalam tidurnya.

__ADS_1


Berbeda dengan Tegar yang kesulitan tidur malam itu. Kasur besar dan empuk membuatnya sama sekali tak mampu memejamkan mata. Beberapa kali membalikkan tubuh kesana kemari nyatanya ia masih gelisah.


“Huh mengapa sulit tidur sih? Besok aku harus bangun pagi untuk persiapan meeting.” keluhnya.


Tegar memilih bangkit dari tidurnya dan kembali mengecek ponsel. Tangannya bergerak ingin menghubungi Anna, namun ia tahan.


“Loh belum tidur? Mau nelpon siapa sih?” Wanita tua yang tak lain adalah sang oma mendapati cucunya gelisah. Tegar sampai memegang dada lantaran kaget.


“Oma belum tidur?” tanyanya balik.


“Dosa orangtua nanya kok malah nanya balik. Kenapa sih? Mau nelpon siapa? Sini biar Oma yang telpon.” Segera tangan wanita itu merebut paksa ponsel milik Tegar.


Tegar tak bisa menahan tangan sang oma yang sangat cepat.


“Anna Villa? Siapa ini, Gar? Kamu main villa-villaan? Itu dosa loh, Ya Tuhan cucuku…” suara Oma menggema di ruang tengah malam itu.


Seluruh isi rumah mendadak di buat panik. Kedua orang tua Tegar berlari menuruni anak tangga. Beberapa pelayan turut mendekati arah sumber suara.


“Oma, apa sih? Kok jadi teriak-teriak begitu?” tanya Tegar tak habis pikir dengan semuanya.

__ADS_1


Mendadak malam itu ruang tengah jadi ramai.


__ADS_2