
Lillia menganggukkan kepala paham saat mendengar pelayan itu mengatakan jika wanita tua tadi adalah nyonya besar pemilik villa ini. Perasaan cemas pun tiba-tiba hadir di benaknya. Takut jika sampai kedatangan wanita tua itu justru sebuah masalah untuk Anna.
“Ya Tuhan…semoga semua baik-baik saja.” ujarnya dalam hati.
Ketika Anna tiba di hadapan Oma Indah, ia meletakkan teh susu seperti yang Oma Indah perintah tadi.
“Apa ada lagi yang bisa saya bantu, Nyonya?” tanya Anna dengan sopan.
Oma Indah menggeleng lalu kemudian tangannya menepuk pelan kursi di sampingnya. Tentu Anna mengerti isyarat apa itu. Namun, ia bingung jika harus menuruti tentu saja itu sangat tidak sopan.
“Saya duduk di bawah saja, Nyonya.” tuturnya justru duduk di lantai.
“Hei jangan duduk di situ, Anna. Duduklah di sampingku.” tutur Oma Indah kemudian.
Anna sampai heran dan kaget mengetahui jika Oma Indah tahu namanya. Ia sampai mengerjabkan mata berusaha menyadarkan diri jika benar Oma Indah menyebut namanya.
“Em Oma tahu nama saya…” ragu ia meneruskan ucapannya.
Oma Indah terkekeh. “Saya tahu nama kamu. Saya kesini bahkan karena ingin bertemu kamu, Anna. Duduklah di sini.” Pelan Anna mengangkat tubuhnya dan duduk di samping Oma Indah.
Belum usai keterkejutan dari Anna, kembali Oma Indah memegang tangan gadis cantik itu. Sontak Anna menahan napas lantaran gugup setengah mati.
“Kamu kenal sejak kapan cucuku?” tanyanya langsung tanpa basa basi.
Anna mengernyitkan kening. “Cucu Nyonya? Maksudnya Pak Tegar?” Pertanyaan Anna pun langsung di angguki kepala oleh Oma Indah.
Bingung namun Anna berusaha tenang. “Sudah sejak saya bekerja di kebun, Nyonya. Tapi hanya sekedar tahu saja. Beliau memanggil saya bekerja di sini baru beberapa hari yang lalu.” jelasnya.
“Jadi Tegar yang meminta kamu kerja di sini?” tanyanya lagi. Dan Anna pun mengangguk membenarkan.
Toh memang begitulah kebenarannya. Ia tidak ingin berbohong.
“Yasudah pergilah. Aku akan menetap di sini beberapa hari ke depan.”
Jantung Anna semakin berdegub kencang mendengar ucapan Oma Indah. Itu artinya ia akan sering bertemu wanita tua ini. Sumpah demi apa pun Anna masih gugup. Meski pun tak melakukan kesalahan, tentu ada rasa gugup pada majikan sebagai pelayan seperti Anna.
__ADS_1
“Baik, Nyonya. Saya permisi.” Anna pun pergi meninggalkan Oma.
Tenang Oma memikirkan sang cucu. Senyum kecil terbit di wajah ayunya. Tegar memang tepat memilih seorang wanita seperti Anna. Wanita sederhana yang jelas terlihat tidak haus akan harta. Berbeda dengan para gadis di kota sana. Semua berlomba-lomba mengincar kedudukan sebagai Nyonya Tegar.
“Apa? Oma ke villa, Bu? Yang benar saja? Untuk apa Oma kesana sendiri? Kenapa mendadak? Dan kenapa harus ke desa itu? Kan banyak vila yang kita punya di dekat kota ini?” Tegar yang kala itu baru saja pulang kerja terkejut mendengar ucapan sang ibu.
Ia takut jika sampai Anna di salahkan dalam kejadian semalam. Tegar tidak mungkin membiarkan ini semua terjadi. Segera ia pun bergegas hendak pergi menyusul sang oma. Sayangnya, Samsul sudah lebih dulu memanggilnya.
“Tegar, persiapkan keberangkatan kita malam ini juga.” Perintah Samsul yang mengingatkan Tegar akan pekerjaan mereka di luar kota.
Tegar memijat keningnya pusing. Kenapa di saat genting seperti ini ia harus mendapatkan pekerjaan penting juga? Bingung, satu-satunya jalan adalah menghubungi telepon di villa.
Tegar masuk ke dalam kamar. Lama menunggu namun panggilan tak kunjung terjawab.
“Aku telepon Oma saja.” tuturnya.
Benar, tak lama kemudian Oma Indah mengangkat telepon Tegar.
“Halo…ada apa, Tegar?” tanya Oma indah.
“Oma kenapa kesana? Oma tidak berbuat macam-macam dengan Anna kan?” Pertanyaan dari Tegar benar-benar membuat Oma Indah menajamkan matanya.
Tegar pusing beberapa kalo mengusap rambutnya kasar. Pertanyaan sang oma benar-benar sulit untuk ia jawab. Kini Tegar semakin gelisah rasanya.
Tanpa sadar panggilan pun sudah di putus sepihak oleh Oma Indah. Wanita tua itu tak ingin membuang-buang waktu bertelponan dengan sang cucu.
Kini ia lebih memilih kembali menuju kamar yang biasa ia tinggali ketika di villa itu.
Saat melewati ruang tengah, tak sengaja Oma melihat Lillia hendak bergegas pergi. Di sana Anna pun mencium punggung tangan sang ibu.
“Ibu hati-hati yah? Nanti setelah semua selesai Anna akan pulang sebentar.” ujarnya dan Lillia pun tersenyum menganggukkan kepala.
“Kamu jangan terlalu capek. Ingat Asma kamu masih sering kambuh.” lembut Lillia membelai rambut anaknya. Anna hanya bisa patuh.
Oma Indah yang tak sengaja melihat pun tersenyum. Mereka adalah keluarga yang harmonis sepertinya meski tak bergelimang harta pikirnya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja muncul bayangan ketika Anna mencium punggung tangan Tegar. Entah hayalan dari mana datangnya.
“Astaga kenapa jadi aku yang halu yah? Apa ini karena Dinda yang keras dan tidak pernah mencium tangan suaminya selama ini?” gumam Oma mengingat sang anak yang sangat keras kepala itu.
Perpisahan pun terjadi. Lillia meninggalkan Anna pulang dan berpamitan pada Oma saat hendak melewatinya.
Melihat Anna seorang diri di dapur merapikan rak piring, Oma pun berinisiatif untuk memanggil Anna.
“An,” Anna menoleh ke belakang.
“Ikut temani saya jalan-jalan di kebun mau?” Tentu saja Anna tak bisa menolak. Sekali pun kerjaannya belum usai.
“Baik, Nyonya saya mau.” jawabnya.
“Biar kerjaan kamu nanti di selesaikan pelayan lainnya.” Patuh Anna menganggukkan kepala.
Keduanya pun mulai keluar dari villa. Inilah momen yang menyenangkan bagi Oma Indah. Berjalan kaki dengan melewati kebun yang berada di pegunungan tentu sangat menyenangkan. Meski masih cerah mentari namun udara begitu sejuk.
Sesekali ia memegang tangan Anna saat menaiki jalan yang berbatu. Keduanya saling bercerita untuk mendekatkan diri.
Tak jarang Anna menyapa beberapa pekerja di kebun itu.
“Kamu kenal sama mereka semua, An?” tanya Oma.
“Iya kenal sekali, Nyonya. Kan mereka teman kerja saya sebelumnya.” jawab Anna apa adanya.
***
Sedangkan di kantor, kini Danny kehilangan semangat. Memaksa diri untuk bekerja meski pikiran masih berterbangan di desa tempat Anna tinggal.
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja keributan terjadi di depan ruang kerjanya. Beberapa pekerja berteriak meminta tolong hingga lamunan Danny pun buyar seketika.
“Tolong! Tolong!” Teriakan menggema. Danny sontak berlari keluar.
Ia melihat banyak karyawan mengerumuni entah apa itu.
__ADS_1
“Ada apa ini?” tanyanya setengah berteriak.
Danny membelah kerumunan orang dan betapa terkejutnya ia melihat sosok papahnya tergeletak di lantai dengan kedua mata yang terpejam.