
Keesokan hari akhirnya tiba waktu dimana Danny sekeluarga berangkat menuju desa. Bukan hanya Firhan dan Zaniah. Melainkan Wuri dan juga Dika sebagai pasangan tertua. Mereka mengendarai mobil dengan Danny yang mengemudikan mobil. Sementara Papah Dika duduk di samping kemudi.
Selama perjalanan tak ada yang berbicara kecuali Papah Dika bertanya tentang desa itu pada Dannya.
Firhan tampak terus membungkam bibirnya diam. Tujuannya ke desa hanyalah membantu anaknya. Ia tidak ingin Danny merasakan sakit akibat cinta yang terhalang. Sementara pikirannya sendiri masi belum bisa tenang memikirkan sang istri yang entah kemana saat ini.
“Aku akan sembuh dan mencarimu, Lia. Tunggu aku.” gumam Firhan dalam hatinya.
Sejak kesembuhannya dan pulang dari rumah sakit, Firhan sangat irit bicara pada siapa pun. Dengan Zaniah sekali pun ia begitu dingin.
“Semoga setelah ini semua selesai, perlahan Mas Firhan bisa kembali seperti semula. Semoga Zeni juga tidak akan kembali pada keluargaku.” ujar Zaniah berdoa dalam hatinya.
Di tempat desa yang ingin mereka kunjungi, justru Anna sedang bermain di sungai bersama Tegar. Keduanya bermula ingin membersihkan sandal yang kotor. Sebab minggu ini memang tengah memasuki musim hujan. Dimana jalanan akan sangat banyak yang rusak.
Keduanya keasikan bermain air hingga menghabiskan waktu yang cukup lama.
__ADS_1
“Pak, habis ini apa saya boleh ijin ke rumah sebentar mau ambil pakaian saya dan juga untuk ibu?” Tegar yang mendengar ucapan Anna pun mengiyakan.
“Tapi saya ikut.” jawab Tegar dan Anna tidak keberatan. Toh pria ini bisa saja ia suruh menunggu di teras rumahnya.
Lama keduanya berjalan hingga hampir sampai di rumah milik Anna. Tiba-tiba sebuah mobil lebih dulu memasuki halaman rumah itu. Kening Anna mengernyit heran.
“Siapa itu, An?” tanya Tegar juga penasaran.
Jika di lihat dari penampilan mobil jelas itu adalah mobil yang elit dan mahal. Tegar memperhatikan satu demi satu orang yang keluar dari dalam mobil.
“Saya juga tidak tahu, Pak. Sepertinya orang salah alamat.” Baru saja Anna hendak mendekat dan bertanya, kedua matanya di buat terkejut dengan pria yang baru turun dari mobil terakhir.
Kini Anna pelan melangkah mendekati keluarga Danny. Begitu pun Tegar yang berjalan si belakangnya.
“Maaf, mencari siapa yah?” tanya Anna dengan lembut.
__ADS_1
Semua mata yang tertuju ke arah pintu rumah serentak menoleh ke belakang. Sosok gadis cantik, bak boneka membuat mereka bisa menebak jika inilah yang membuat Danny sampai gelisah di kota.
“Sesuai dengan kegigihan kamu, Dan.” sahut Oma Indah.
Danny mendengar ucapan sang Oma tersenyum lebar. Ia senang itu artinya sang oma juga sependapat dengannya jika Anna sosok gadis idamannya.
“Kami mencari kamu dan ibumu. Ada?” tanya Firhan langsung tanpa basa basi.
Anna tergagap sebelum menjawab. “Saya dan ibu? Ada perlu apa yah? Bapak, Ibu, dan semuanya?” tanya Anna penasaran.
Tegar yang melihat keadaan sepertinya cukup penting segera mengambil alih bicara.
“Sebaiknya kita bicara di vila saya saja. Di sana ibunya Anna berada.” ajak Tegar dan Anna hanya bisa patuh saat ini.
Mereka pun bergerak menaiki mobil sedangkan Anna dan Tegar menunggu jemputan dari vila.
__ADS_1
Sepanjang jalan Anna terdiam memikirkan siapa yang datang sebenarnya. Ketakutannya tiba-tiba menyerang mengingat sang ibu sangat tidak ingin berhubungan dengan orang dari kota.
Kecuali Tegar dan keluarga yang memang sudah lama mereka kenal.