
Sebuah puncak yang tinggi dengan pemandangan yang sangat indah. Bagian kota bisa terlihat dari ketinggian tempat Firhan saat ini menenangkan pikirannya. Jauh dari pandangan matanya bisa terpancar jelas cinta yang tampak rapuh. Cinta yang kini tak lagi memiliki harapan untuk bersama, perceraiannya dengan Lillia sudah menjadi keputusan yang ia ambil untuk masa depan anak-anak mereka dan juga rumah tangganya bersama Zaniah.
"Aku akan menerima semuanya yang Tuhan sisahkan untukku. Dan semoga kau bisa berbahagia, Lia dengan pilihanmu." ujarnya.
Pada akhrinya sore hari Firhan pun kembali pulang. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bersikap seperti sebelum kemunculan Lillia. Zaniah juga bukanlah seorang istri yang buruk menurutnya. Tidak sepantasnya ia mendapatkan hukuman dari sang suami dengan tetap mencintai mantan istrinya.
Setibanya di rumah, Firhan melangkah masuk. Di lihatnya Zaniah yang duduk di sofa depan televisi tanpa mau menyambut kedatangannya. Semua itu bukan tanpa alasan. Firhan yakin Zaniah tidak ingin jika sambutannya berakhir di cueki olang sang suami.
"Kenapa tidak menyambutku seperti biasa?" Kini Firhan bertanya dengan wajah datarnya. Awalnya Zaniah terheran. Ia mengernyitkan kening hingga pada akhirnya wanita itu bergegas berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati sang suami.
__ADS_1
Di ciumnya punggung tangan Firhan lalu Zaniah tersentak saat mendapat kecupan di keningnya tiba-tiba. "M-mas kok gitu sih?" Zaniah tersenyum kaku dan malu.
Ia menunduk gugup melihat tatapan sang suami. Firhan pun tak juga mengatakan apa pun. Ia hanya menggandeng tangan sang istri hingga mereka pun tiba di sebuah kamar tempat keduanya saling menghangatkan tubuh pasangan masing-masing.
"Kita mulai semuanya dari awal, Niah." lirih namun jelas Firhan berucap membuat Zaniah terasa seperti patung yang tidak bisa bicara atau pun bergerak.
Keduanya pun akhirnya bersatu dalam cinta yang kembali mereka rajut dengan suci. Semua kesalahan terasa hilang kala Firhan mengatakan untuk memulai semuanya kembali dari awal.
Hal yang berbeda terjadi di tempat Tegar, Lillia dan Anna yang sudah bersiap untuk segera pulang berusaha di cegah oleh Oma Indah. Wanita tua itu meminta keduanya untuk bertahan beberapa hari lagi di sini. Sayang, Lillia terlalu takut jika semua akan berubah menjadi kacau jika ia tinggal beberapa hari lagi. Takut, Zaniah akan bertindak di luar dugaan atau bahkan Wuri yang pernah memintanya pergi dari hidup sang suami.
__ADS_1
"Oma, kami harus kembali. Di desa kami akan jauh lebih tenang." ujar Lillia memohon kembali. Bahkan tangannya kini begitu erat di genggam oleh Oma Indah.
Sedih rasanya melepas kepergian mereka. Sebab rumah terasa begitu ramai jika ada Anna dan juga ibunya.
"Yasudahlah. Ibu ini memang keras kepala, An. Besok lusa Oma akan menyusul. Kalian pulang di antar Tegar saja yah?" ujarnya menyerah pada akhirnya.
Mendengar Tegar yang akan mengantar, Anna dan sang ibu merasa sang tidak nyaman. "Tidak, Nyonya. Jangan Pak Tegar yang mengantar kami. Sebaiknya kami naik bus saja. Pak Tegar tidak perlu repot-repot menjadi supir ke desa." sahut Anna.
Bisa di bayangkan bagaimana murkanya gadis bernama Depi nanti jika tahu sang tunangan rela menjadi supir dan bolos bekerja untuk mengantar dua wanita desa itu.
__ADS_1