
Sekian lama menetap di desa, kini tiba saatnya Lillia beraama Anna menginjak kota kembali. Meski rasanya sangat rapuh memijakkan kaki di kota yang penuh masa kelam, namun semua harus tetap ia lakukan.
Memejamkan mata sejenak sebelum benar-benar menurunkan kaki dari mobil, bahkan Lillia sampai menarik napas dalam.
“Ibu, ayo.” ajak Anna. Lillia mengangguk mengikuti perintah sang anak.
Kedatangan keduanya di sambut baik oleh Tegar.
“Oma, bagaimana perjalanan?” tanya Tegar pada omanya.
Hari ini manik mata pemuda tampan itu berbinar kala melihat sosok yang ia tunggu sedari malam. Gelisah mendengar Anna akan datang ke kota.
“Hus kamu ini malah pandangi si Anna. Ayo masuk.” ajak Oma Indah tahu jika sang cucu begitu terpikat oleh gadis dari desa ini.
Anna dan ibunya masuk ke dalam rumah. Tampak Samsul dan Dinda menyambut mereka semua dengan senyum yang mengembang.
“Kalian bisa langsung ke kamar sana yah. Ikuti bibi ini. Anna, bawa ibu kamu istirahat. Di sini kalian tidak perlu bekerja. Karena kalian kesini ada keperluan. Bukan untuk bekerja.” Anna hanya bisa menganggukkan kepala.
Meski yang terjadi nanti pasti bukan seperti itu. Bagaimana pun Anna dan Lillia seorang pelayan. Tidak mungkin mereka mau diam di rumah saja sementara rumah yang mereka tempati begitu besar dan banyak sekali pekerjaan yang menanti tentunya.
“Kami permisi dulu, Tuan, Nyonya.” ujar Lillia di ikuti Anna.
Sepasang suami istri pemilik rumah itu mengangguk memberi ijin. Tinggallah Tegar sekeluarga di ruang tengah.
“Kamu yakin memilih gadis itu?” Samsul kini akhirnya angkat suara setelah lama memperhatikan wajah anaknya yang tak lepas memandang Anna.
“Sangat yakin, Ayah.” sahut Tegar mantap.
Samsul menatap sang istri sembari menghela napasnya kasar.
Dinda paham mengapa suaminya begitu lemas setelah mendengar pengakuan Tegar.
“Gar, bagaimana dengan Depi? Kalian sudah bertunangan.” tutur Dinda akhirnya meneruskan unek-unek sang suami.
Tegar justru tampak acuh. Ia hanya mengedikkan kedua bahunya lalu bergegas meninggalkan mereka semua menuju kamar.
Di sini memang bukan dirinyalah yang salah. Melainkan Oma Indah yang mengatur semuanya. Wanita tua ini begitu pandai membuat Tegar tak ada pilihan selain meneruskan pertunangan dengan Depi.
“Orangnya sebentar lagi pasti akan datang, Oma. Kami tidak berani ikut-ikutan dengan keputusan Oma dan Tegar.” sahut Dinda memilih pergi bersama sang suami.
__ADS_1
Sayang, belum saja keduanya berdiri suara sapaan dari luar rumah terdengar menggema hingga masuk ke dalam rumah besar mereka.
“Oma…” gadis cantik yang berpakaian formal berjalan melenggok dari pintu utama menuju ruang tengah.
Ia tersenyum kala melihat sepasang calon mertuanya. Depi begitu ceria, ia selalu banyak bicara ketika bertemu dengan Oma Indah. Gadis baik, periang, dan pekerja keras. Tentu saja Oma Indah tidak asal dalam memilih jodoh untuk Tegar.
Tapi kali ini Oma salah, sebaik apa pun gadis yang ia pilihkan nyatanya hati tidaklah bisa semudah itu menyatu.
“Mati aku!” ujar Oma Indah lirih.
Rasa tak tega jelas membuat wanita tua itu bingung saat ini. Di dalam sana sedang ada gadis yang membuat sang cucu tergila-gila.
Sementara di depannya saat ini ada gadis juga yang tengah menjalankan perannya sebagai calon istri.
“Ayah, Ibu, Oma.” Depi mencium punggung tangan mereka satu persatu.
“Oh iya, ini kue buatan mamah. Tadi kesini mau ngantar ini sekalian mau ketemu Tegar. Dia sibuk yah, Ibu? Sudah lama kami tidak ada bertemu.” Dinda yang mendapatkan pertanyaan dari Depi hanya mengangguk kaku sembari matanya menatap ke arah suaminya lalu beralih ke sang ibu.
Mereka pun duduk kembali di sofa. Sedangkan Depi ke dapur sendiri menyiapkan kue yang ia bawa dari rumah.
Tampak beberapa kali gadis itu bersenandung di dapur. “Wah Tuan sedang di kelilingi wanita cantik yah?” bisik salah satu pelayan.
Depi yang sibuk tampak tidak begitu menghiraukan bisik-bisik mereka.
Pada akhirnya keempat orang yang duduk di sofa menikmati kue yang Depi bawa.
“Bagaimana kerjaan kamu, Dep?” Oma Indah mulai bertanya basa basi.
“Lancar, Oma. Semua berkat Oma. Aku jadi semangat nyelesaikan semua pekerjaan di perusahaan. Yah setidaknya dua minggu lagi semua sudah selesai dan tinggal cuti nikah saja. Semoga Tegar juga bisa begitu yah, Oma?” ceritanya dengan semangat yang tinggi.
Dinda yang mendengar pun sampai tersedak kue.
“Ini minumlah.” Samsul memberikan minum untuk sang istri.
Sama sekali Depi tak merasakan ada kejanggalan di keluarga itu.
“Bi, panggilkan Tegar yah!” pintah Oma pada pelayan.
Depi memperbaiki duduknya sedikit menggeser berharap sang calon akan duduk di sisinya. Tak lama kemudian Tegar pun datang.
__ADS_1
Wajah cerahnya mendadak datar saat melihat siapa yang menoleh ke arahnya. Gadis yang bahkan tak pernah ada di dalam pikirannya selama ini.
“Depi?” sapa Tegar lebih dulu.
“Hei, Gar.” balas Depi menyapa.
Di detik berikutnya Depi melunturkan senyum kala melihat Tegar memilih duduk di samping sang oma. Ia tampak kecewa rasanya. Kerinduannya pada Tegar sangat sulit untuk di obati.
“Dimana Anna, Oma? Apa dia belum keluar?” tanya Tegar justru fokus pada gadis pujaannya.
Oma yang tak tega dengan Depi justru mencubit lengan sang cucu. “Tegar, kamu ini.”
Suasana tiba-tiba saja canggung. Depi yang sejak tadi tersenyum kini menatap Tegar dengan heran.
“Anna? Siapa dia?” tanyanya.
Dan waktu yang sama pun Anna datang membawa berkas. “Pak Tegar maaf, ini berkas yang anda minta saya bawa. Tadi saya lupa memberikan pada Bapak.” Tegar pun menoleh menatap Anna.
Pria itu berdiri mengambil berkas dan menggenggam tangan Anna.
“Ayo gabung. Ibumu sudah tidurkan?” tanya Tegar.
Anna yang tidak menjawab justru menoleh ke bawah melihat tangannya saat ini. Buru-buru Anna melepas tangan itu.
“Maaf, Pak.” ujar Anna.
Depi terus memperhatikan sosok gadis yang lebih muda darinya. Meski belum cukup dewasa ia bisa melihat jelas kecantikan yang Anna miliki. Entah mengapa perasaan Depi jelas terasa sesak.
“Depi, kenalkan ini Annalise. Dia gadis yang membantu Tegar ketika di desa mengurus perkebunan.” tutur Oma Indah meluruskan semuanya.
Sontak Depi kaget. Selama ini yang ia tahu jika di desa seorang pria lah yang membantu Tegar. Semua itu bukan tanpa sebab. Ia sendiri yang beberapa kali membayar orang untuk memata-matai Tegar ketika di desa.
Dan kini ia di buat syok saat mengetahui ada bidadari di desa terpencil itu.
“Oma, bukankah yang membantu Tegar seorang pria?” tanyanya penuh tuntutan.
Tegar sendiri pun kini sadar jika perjalanannya ternyata di awasi oleh gadis ini.
“Belum menikah ternyata kamu sudah lancang menguntitku, Depi?” Pertanyaan Tegar membuat Depi gugup setengah mati. Ia gelagapan hendak menjawab apa saat ini.
__ADS_1