
Kemarahan terlihat jelas di wajah keriput Oma Indah. Tatapannya begitu tajam pada sang cucu tampan ini. Di lihatnya kembali kontak yang bertuliskan Anna Vila. Lalu kemudian ia menyodorkan ponsel itu pada sang anak.
“Lihat, Indah. Ini anakmu sudah mulai belajar yang tidak benar. Tegar, kamu pikir perempuan di villa itu baik untuk di gauli? Kamu mau kena penyakit menular?”
Tak kuasa mendengar ocehan sang oma, Tegar sampai membuka mulutnya lebar lantaran terkejut mendengar ucapan sang oma.
“Apa benar ucapan Oma, Tegar?” Dinda, sang ibu pun turut andil dalam hal ini. Ia mendekati sang anak yang masih terdiam membisu.
Lama tak mendapat respon, akhirnya Dinda berinisiatif untuk menelpon nomor yang ada di ponsel Tegar. Begitu panggilan di angkat terdengarlah suara wanita dengan lembut di seberang sana.
“Halo, Pak Tegar. Ada apa yah?” tanyanya.
Semua saling pandang termasuk Tegar yang kala itu mendengar jelas suara Anna.
“Ibu, cukup!” Ia merebut ponsel itu sesegera mungkin sebelum terjadi kesalah pahaman lebih panjang.
Panggilan pun kembali di matikan. Anna yang mengantuk akhirnya memilih meninggalkan telepon itu dan tidur di kamar. Sementara di kediaman Tegar saat ini semua tengah menatap Tegar penuh selidik.
“Oma dan semuanya salah paham. Ini bukan villa yang kalian maksud. Tolong dengarkan penjelasanku dulu. Anna adalah pelayan di villa di desa itu. Ibu, Oma, kalian jangan berpikiran buruk. Batasan bergaul saya tahu itu.” Panjang lebar Tegar menjelaskan hingga semuanya pun menghela napas lega mendengar pengakuan Tegar. Itu artinya pria ini tidak bergaul melewati batas.
“Lalu, untuk apa kamu menghubungi malam-malam begini? Oma yakin kamu mau menelponnya kan? Kalau tidak untuk apa coba menatap nomor itu dari tadi. Bahkan Oma lihat kamu senyum-senyum sendiri.”
Melihat tatapan penuh selidik sang oma, Tegar beralasan mengantuk dan memilih masuk ke kamar.
“Hoaammm…sudahlah susah bicara sama Oma yang nggak pernah muda. Tegar capek mau tidur dulu. Besok ada kerjaan pagi-pagi sekali.” Melihat tingkah sang cucu Oma Indah hanya menggelengkan kepala.
Semua pun kembali ke kamar masing-masing usai perdebatan malam itu.
Waktu yang di harapkan akan panjang justru berlalu dengan sangat cepat. Sia-sia usaha Danny saat ini. Ia pulang dengan wajah lemas siang itu lantaran tak juga bisa mendekati Anna.
Pagi hari hingga siang ia menuju rumah Anna, namun tak ada tanda kehidupan di dalamnya. Dan Danny yakin pasti Anna bersama ibunya sengaja tak tinggal di rumah sebab ingin menghindari dirinya.
__ADS_1
Pulang ke kota adalah pilihan Danny saat ini. Ia pulang di sambut oleh Zaniah. Sebab sang papah sudah bekerja kembali di kantor.
“Danny, kamu baru sampai kenapa langsung baring di sofa? Sana mandi dulu.” pintah Zaniah mendapati sang anak berbaring di sofa depan televisi.
Bahkan sepatu pun tidak ia lepaskan. Tas baju di mobil sampai pelayan yang harus mengemasi ke dalam rumah.
Kali ini Zaniah paham sang anak sangat lemas karena persoalan hati. Sebab itu ia pun tak ingin terlalu cerewet.
Pelan ia duduk di sisi tempat Danny baring. Di belainya rambut sang anak.
“Masih belum berhasil juga?” tanyanya pelan dan Danny mengangguk kecil. Bicara pun rasanya sangat malas Danny lakukan.
Ia memilih bungkam saja. Berteris terang dengan sang ibu sungguh membuatnya malu. Tak pernah Danny merasa di tolak mentah-mentah seperti ini. Dimana ia harus menaruh wajahnya kalau Zaniah sampai tahu sang anak tidak di beri kesempatan bicara pada wanita itu karena ibunya?
“Yasudah, kamu istirahat. Biar mamah buatkan susu hangat yah?” Pelan Zaniah mengusap rambut sang anak dan berlalu pergi.
Membiarkan Danny tenang tentu menjadi pilihan yang tepat. Ia tahu saat ini Danny masih sangat tinggi memiliki ego dan gengsi. Sebagai orangtua ia harus pandai mencari waktu untuk bicara yang tepat.
Namun, rasa ingin tahu Danita terhadap Danny membuatnya hilang kewarasan.
“Om, em Pak maaf. Apakah Danny belum juga pulang?” tanyanya setengah gugup.
Hanya bertanya seperti itu rasanya tak mungkin membuat Danita sampai di pecat pikirnya.
Firhan pun menjawab singkat. “Belum.”
Ingin sekali Danita bertanya lebih, namun keberaniannya hanya sampai di situ saja. Ia tidak berani lebih lagi.
Melihat sikap datar Firhan, ia pun memilih untuk pergi usai memberikan berkas pada Firhan.
Di tempat yang berbeda justru terjadi ketegangan. Kala sosok wanita tua telah tiba di sebuah desa tempat di mana sang cucu mengatakan ada pelayan baru di vilanya.
__ADS_1
Oma Indah yang ingin memastikan semua tentang hal yang berkaitan dengan sang cucu akhirnya memasuki vila itu di temani sang supir.
Kedatangannya bahkan di sambut hangat oleh beberapa pekerja di halaman vila. Yah memang vila milik keluarga mereka sangat besar. Dan ada beberapa pelayan juga selain Anna.
“Dimana pelayan baru yang di katakan cucuku itu?” tanya Oma Indah pada salah satu pelayan.
“Em Anna ada di dapur, Nyonya. Dia pelayan bagian dapur di sini.” terang satu pelayan itu.
Oma Indah pun bergegas menuju dapur. Tak sabar rasanya bertemu dengan perempuan yang menjadi sumber keributan di rumah semalam.
Terlihat punggung dua wanita yang saling bercerita di depan wastafel. Mereka tampak membersihkan kotoran di dinding serta alat masak lainnya.
Dari nada bicaranya mereka adalah dua wanita yang sangat lembut.
“Ehem…” Terkejut Anna dan Lillia membalikkan badan mereka.
Wanita tua dengan penampilan yang modis tentu membuatnya tetap terlihat cantik meski tak lagi muda. Namun, siapa wanita tua ini? Mereka sama sekali tidak mengenalnya.
“Maaf, anda siapa yah?” pelan Lillia memberanikan diri bertanya. Meski tak kenal ia tetap berlaku sopan dengan menundukkan kepala.
“Anna, yang mana bernama Anna?” Suara serak dari sosok Oma membuat Anna sedikit mengangkat kepala.
“Saya, Nyonya.” jawabnya pelan.
Dari atas hingga ke bawah ia memperhatikan penampilan Anna. Hingga pandangan Oma Indah jatuh pada wajah cantik Anna. Senyum pun ia sembunyikan saat itu.
“Cantik sekali…dimana Tegar menemukan wanita seperti ini? Sangat cantik dan lembut.” gumamnya dalam hati.
“Buatkan saya teh susu.” Saya tunggu di taman belakang.” Setelah memberikan perintah itu, Oma Indah berlalu menuju taman belakang tanpa menjawab pertanyaan dari Lillia barusan.
Patuh Anna segera bergerak membuatkan apa yang wanita tua itu perintah tadi.
__ADS_1
Sementara Lillia bertanya pada pelayan lain dengan hati-hati. Setidaknya jika terjadi apa-apa ia bisa siaga melindungi sang anak.