
Setibanya di desa, Tegar rasanya begitu berat jika harus meninggalkan Anna. Namun, pekerjaan sedang menantinya saat ini dan juga Oma Indah yang tidak ingin jika sang cucu bertempat tinggal satu atap dengan gadis yang ia sukai tanpa adanya pengawasan dari keluarga.
“Huh kalau saja Oma tidak melarang pekerjaanku bisa saja di handle dari sini.” gumam Tegar menggelengkan kepala kesal.
Melihat kedua punggung Anna dan Lillia yang memasuki vila, Tegar segera melajukan mobil meninggalkan mereka dengan perasaan yang berat.
Lillia yang tiba segera menuju halaman belakang.
Anna memilih masuk ke kamarnya.
Sejak kejadian hari itu keluarga Zaniah kembali menghangat. Sedangkan Danny tampak memikirkan cara mendekati Anna. Gelisah hanya berpikir di kota, pagi itu juga ia memutuskan untuk menuju desa.
Danny melajukan mobil tak perduli jika ia meninggalkan kantor sang ayah. Baginya Anna tidak boleh lolos dari jangkauannya.
Di waktu yang sama pula Danita datang melajukan mobil dan tiba di halaman rumah Danny. Kedatangannya menampakkan kerutan di dahi gadis cantik itu.
“Selamat pagi, Non.” Sapaan security. Namun, sapaan itu justru di acuhkan oleh gadis tersebut.
__ADS_1
Danita melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan tatapan para pelayan di rumah Danny. Ia ingin segera bertemu dengan Danny. Beberapa kali menanyakan dengan pelayan yang berbeda jawabannya sama mereka semua tidak ada yang tahu kemana perginya sang tuan.
Merasa tak memiliki sabar yang lebih, Danita segera meraih ponsel. Bukan untuk menghubungi Danny. Melainkan ia menghubungi Firhan. Ia harus bisa mendapatkan informasi Danny dan bisa mendapatkan pembelaan dari Firhan juga.
Beberapa kali menghubungi namun Danita tak kunjung mendapatkan jawaban. Ia tidak tahu jika saat ini Firhan tengah terlelap usai menikmati waktu panjangnya bersama sang istri. Dering ponsel pun nyatanya tak membuat keduanya terusik sama sekali. Tidur saling berpelukan dengan tubuh yang polos tentu rasanya begitu menyenangkan.
"Dimana Om Firhan?" tanya Danita pada salah satu pelayan kembali.
"Saya juga tidak tahu, Non." jawab pelayan yang memang tidak tahu di mana sang majikan. Sebab Firhan dan Zaniah masuk ke kamarnya tanpa di perhatikan oleh pelayan.
Merasa sia-sia waktu saat ini, Danita merasa ada feeling jika yang ia cari saat ini sepertinya sedang berada di desa. Namun, perjalanan rasanya terlalu jauh jika ia mengendarai mobil seorang diri.
Berbeda dengan sosok Danny. Pria itu kini tengah memikirkan kata apa yang akan ia susun untuk berbicara dengan Anna. Melihat bagaimana permasalahan yang menghadapi keluarga mereka, rasanya Danny sadar tidak akan mudah mendapatkan restu dari ibu Anna.
"Kenapa dunia begitu sempit sampai aku bertemu dengan gadis yang justru anak dari wanita masa lalu papah? Huh jauhnya aku berkelana justru begitu dekat hubungan kami sesungguhnya." Danny tak habis pikir memikirkan ini semua. Hingga tak terasa mobil pun mulai memasuki desa perkebunan itu.
Sepanjang jalan Danny memperhatikan satu persatu pekerja. Ia yakin Anna tak ada di sini. Dan satu tempat yang ia yakini menjadi tempat Anna tinggal. Yaitu vila milik Tegar. Segera ia pun melajukan mobil menuju vila.
__ADS_1
Dimana saat Danny tiba, beberapa pelayan tak ada yang berani memberi izin masuk.
Hanya ada satu pelayan yang tahu jika Danny adalah tamu Anna. Ia bergegas lari masuk memanggil Anna.
“An, di depan ada pria yang waktu itu. Pasti mau ketemu kamu.” ujarnya berlari mendekati Anna.
Bukan hanya Anna yang mendengar. Tapi juga ada Lillia. Sontak Lillia pun berjalan lebih dulu meninggalkan Anna yang diam tak berani berbuat apa pun.
“Kenapa diam?” tanya pelayan lagi.
“Tidak. Itu pasti bertemu ibu.” jawab Anna yang tahu jika sang ibu tidak akan memberikan ia izin bertemu Danny.
Mendengar jawaban Anna, pelayan pun menghela napas. “Kalau cinta di perjuangin. Jangan di biarkan berjuang sendirian. Lama-lama juga pasti lelah.” tuturnya menasihati Anna.
Anna malas mendengar hal yang menurutnya tidaklah penting. “Aku nggak ada cinta-cintaan.” ujar Anna.
“Apa jangan-jangan cintamu malah sama Tuan Tegar?” Anna menggelengkan kepala tak habis pikir mendengar tuduhan yang bahkan tak pernah sama sekali ada di pikirannya selama ini.
__ADS_1
Ia menggeleng sembari berjalan meninggalkan pelayan itu. Anna memilih tak banyak bicara. Sebab itu akan jauh lebih baik menurutnya.