
Pelangi menatap takjub saat memasuki rumah. Sebuah pigura besar yang menggantung di dinding menjadi sambutan pertama baginya. Masih lekat dalam ingatannya, ketika sedang liburan ke puncak, Awan memaksa untuk membuat foto post-wedding.
“Ternyata foto yang waktu itu untuk dipajang di sini, ya?” ucap Pelangi seolah tak dapat menyembunyikan rasa bahagia.
“Iya. Bagus ya?” Pria itu tersenyum senang saat membaca ekspresi bahagia istrinya. “Kamu suka?”
Pelangi mengangguk antusias. Kejutan indah ini membuatnya ingin selalu memeluk sang suami sebagai bentuk terima kasih. Awan benar-benar rela melakukan apapun demi membahagiakannya. “Terima kasih, Hubby. Aku sangat senang hari ini.”
“Sama-sama, Sayang.” Awan merangkul tubuh istrinya. “Mau lihat kamar kita?”
“Aku mau lihat yang di bawah dulu, baru ke atas.”
“Boleh.”
Mereka berkeliling ke setiap sudut rumah. Awan memang memiliki selera yang bagus, tidak hanya untuk desain eksterior, tapi juga bagian interiornya, dan satu hal yang Pelangi sadari, Awan seolah benar-benar tahu seleranya. Semua tertata dengan sangat menarik dan memanjakan mata. Bahkan cat dinding menggunakan warna favoritnya.
“Di belakang juga ada kolam renang. Kamu mau berenang?” ajaknya dengan antusias.
“Nanti saja deh, kalau sudah pindah ke sini,” jawabnya mengingat di rumah itu ia belum memiliki apapun, termasuk pakaian ganti.
Awan mengangguk pelan. “Ya sudah tidak apa-apa, lagian kolamnya juga belum diisi air kok.”
Bibir Pelangi mengatup menahan tawa. "Kalau begitu kenapa tadi ajak berenang?"
"Sengaja, biar kamu tahu aku rela melakukan apapun demi kamu."
Rasanya Pelangi ingin tertawa saja. Sejak kapan suaminya itu pandai merayu?
Awan lalu membawanya ke dapur. Pelangi mengulas senyum tipis. Semua perabot dapur sudah lengkap dan tertata rapi. Kalau seperti ini, tidak perlu repot lagi berbenah karena rumah dalam keadaan siap huni.
__ADS_1
“Dapurnya bagus, aku suka.” Komentar singkat itu membuat Awan merangkul bahunya.
“Mau coba masak?”
“Memang ada bahan?”
“Tidak ada sih? Hehe.”
Bibir Pelangi mengerucut lucu. Mendadak Awan menjadi manusia super iseng yang menggemaskan.
Saat Awan berjalan membelakanginya untuk memeriksa bagian dapur, Pelangi malah terpaku menatap punggungnya. Awan awalnya adalah seorang pria brutal yang hampir setiap hari menyakiti dan menolaknya. Mempermalukannya di hari pernikahan dengan menghilang entah kemana.
Kini yang tampak di hadapan Pelangi hanyalah sosok suami sempurna yang menjadi semakin baik di setiap harinya. Jantung Pelangi seperti akan lepas dari tempatnya, ketika tiba-tiba Awan mendekapnya. Lalu, beberapa saat kemudian menuntunnya keluar dari dapur. Membawanya menaiki tangga hingga tiba di sebuah kamar.
“Ini kamar kita.”
“Sayang, ranjangnya empuk deh, mau coba?”
Pelangi menatap suaminya.
“Masih siang, Hubby!” ujarnya seraya mencubit pinggang, setelah mampu menebak isi kepala sang suami.
............
Mobil yang dikemudikan Awan melaju di tengah keramaian jalan siang itu. Mereka akan mampir sebentar di sebuah restoran untuk makan siang, sebelum pulang ke rumah.
"Hubby, ibu sudah tahu belum kalau rumahnya habis kerampokan sama anaknya sendiri?" tanya Pelangi tiba-tiba saat teringat ulah iseng sang suami yang membawa tanaman hias milik mertuanya ke rumah baru mereka.
Pertanyaan itupun membuat Awan menarik napas dalam. "Tahu."
__ADS_1
"Terus bagaimana reaksinya?" tanya Pelangi lagi. Dipikirnya Bu Sofie akan kesal dengan ulah putranya yang suka seenaknya sendiri.
"Ibu biasa aja, kok."
"Masa sih?" Pelangi menatap suaminya penuh keraguan.
"Iya, Sayang. Ibu itu sudah biasa kerampokan. Dulu aku malah ngerampoknya lebih sadis dari ini. Makanya sekarang biasa aja." Jawaban polos yang meluncur bebas itu membuat Pelangi melongo tak percaya.
Kelakuan Awan di masa lalu memang di luar batas.
"Memang dulu Hubby suka merampok apa di rumah ibu?"
Awan terdiam sejenak, memikirkan dosa-dosa masa lalunya. "Aku pernah merampok mobil hadiah ulang tahun ibu dari ayah. Hasilnya buat traktir teman-teman di tempatnya Ben. Pernah juga aku ngerampok ...."
Ucapan Awan menggantung, seiring dengan tatapan curiga oleh Pelangi. "Rampok apa?"
"Tapi demi Allah aku cuma merampok di rumah orang tua sendiri. Kalau di rumah orang lain aku tidak berani."
Pelangi mengangguk mengerti. Sebelumnya Ayah Fery pernah menceritakan bahwa Awan hanya memberontak terhadap kedua orang tuanya. Sebaliknya, cukup sopan jika berhadapan dengan orang lain.
"Jadi rampok apa di rumah ibu?"
"Ibu kan suka koleksi tas mahal. Aku sering rampok untuk dikasih guru di sekolah, biar dikasih lulus ujian, soalnya aku sering bolos."
"Astagfirullah, Hubby!"
"Maafin aku, Hunny! Makanya sekarang aku berdoa siang malam, supaya anak kita nanti tidak ikut jejak ayahnya," ujarnya sambil mengulurkan tangan mengelus perut sang istri.
............
__ADS_1