Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Kamu Tidak Percaya Sama Aku?


__ADS_3

Bukan hal mudah bagi Awan untuk bersikap tenang setelah mendengar cerita Zidan pagi tadi. Sepanjang hari ini, ia tak dapat bekerja dengan baik. Amarah yang melingkupi dirinya seperti gunung merapi yang meletup-letup dan siap memuntahkan magma. 


Jika tidak teringat peringatan Zidan untuk selalu menahan diri, Awan pasti sudah mencari Guntur dan menghajarnya habis-habisan. Tak peduli dengan hukuman yang akan dijatuhkan padanya. Beruntung hari ini Guntur tak memunculkan batang hidungnya di kantor setelah pertemuan di lobi tadi pagi. 


Mentari mulai bersembunyi di ufuk barat, meninggalkan cahaya kemerahan di langit. Bumi pun perlahan diselimuti kegelapan. Hanya lampu-lampu dengan cahaya berpendar yang menjadi penerang. 


Awan menarik sudut bibirnya saat menatap buket mawar putih di kursi sebelahnya. Dalam perjalanan pulang ke rumah, ia menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah toko bunga. Sebuah kotak perhiasan juga ada di sana sebagai pelengkap. 


Awan pikir harus menebus kesalahannya. Hati kecilnya cukup peka bahwa Pelangi pasti sakit hati dengan kalung yang ia temukan semalam. 


“Bismillah, semoga ini bisa meluluhkan Pelangi.” 


Pajero Sport yang dikemudikan Awan memasuki gerbang rumah. Jika biasanya saat pulang akan ada Pelangi yang menyambut di ambang pintu dengan senyum teduhnya, namun kini wanita itu tidak terlihat. 


“Assalamu’alaikum. Sayang, kamu di mana?” ucap Awan dengan kedua tangan tertekuk ke belakang punggung. Menyembunyikan kejutan yang akan ia persembahkan untuk sang istri. 


Setibanya di kamar, pria itu melongokkan kepala di antara celah pintu. Tampak Pelangi sedang menjalankan shalat. Awan tersenyum menatapnya. Hal itulah yang membuatnya semakin jatuh hati pada Pelangi  di setiap harinya. 


Laki-laki mana yang tidak menginginkan Pelangi? Dia cantik, hatinya lembut dan salihah. 


“Hubby sudah pulang?” ucap Pelangi sesaat setelah selesai shalat dan mendapati suaminya tengah duduk di tempat tidur.


“Iya, Sayang. Barusan.” 

__ADS_1


 Pelangi melepas mukena dan menyambut sang suami dengan mencium punggung tangannya. Seperti biasa Awan akan mencium kening. Kemudian menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. 


“Aku minta maaf.” 


Pelangi mendongakkan kepala demi menatap wajah suaminya. “Minta maaf kenapa?” 


“Soal semalam.” 


“Aku pikir masalah itu sudah selesai.” 


Mungkin masalah semalam sudah selesai bagi Pelangi, tetapi tidak bagi Awan. Wajah kecewa dan air matanya membuat Awan terkurung oleh rasa bersalah sepanjang hari ini. Apa lagi setelah mengetahui kejadian buruk yang pernah dialami Pelangi karena Guntur. 


“Aku tidak enak sama kamu.” Tangan Awan yang melingkar pada tubuh Pelangi semakin erat. “Kamu pasti sangat kecewa karena aku.” 


Awan meraih buket bunga mawar putih yang tadi ia letakkan di atas meja. “Ini buat kamu, sebagai permintaan maaf aku.” 


Bibir Pelangi melengkung membentuk senyuman ketika menatap bunga indah pemberian suaminya. “Tahu dari mana aku suka mawar putih?” 


"Aku tanya sama Zidan."


Awan kembali meraih kotak perhiasan dan menyerahkan ke hadapan istrinya. Sejenak, Pelangi terpukau pada keindahan kilau berlian yang diberikan suaminya.


"Terima kasih, Hubby. Tapi tidak perlu berlebihan seperti ini. Sebenarnya aku tidak begitu suka menggunakan benda mahal seperti ini. Semalam, aku hanya mengira itu kejutan untukku. Makanya aku sangat senang."

__ADS_1


"Maafkan aku. Di saat kamu tahu semua  tentang aku, sebaliknya aku malah tidak tahu apapun tentang kamu. Bahkan aku baru tahu kalau kamu suka bunga mawar putih.” 


“Tidak apa-apa, Hubby. Aku tidak akan kecewa dalam waktu yang lama hanya karena hal-hal kecil seperti itu. Kecuali ... saat kamu menyembunyikan sesuatu dari aku.” 


"Memang apa yang bisa aku sembunyikan dari kamu?"


"Yakin tidak ada?"


Dua pasang mata itu saling bertemu dan larut dalam tatapan yang dalam. Mata Pelangi yang mendadak dipenuhi cairan bening membuat Awan meyakini ada sesuatu yang sedang dipendam istrinya.


"Apa maksud kamu, Hunny?"


Pelangi terdiam sejenak. Ia bisa saja langsung menanyakan tentang rencana kepergian suaminya keluar kota yang juga melibatkan Priska. Tetapi, dalam lubuk hatinya berharap suaminya sendirilah yang memberitahu tanpa menyembunyikan apapun.


Meskipun ia berusaha untuk tetap berbaik sangka kepada sang suami, namun bukankah sebuah pernikahan itu memang harus dilandasi kejujuran?


“Apa Hubby tidak merasa sedang menyembunyikan sesuatu dari aku?” Sebuah pertanyaan yang berhasil menciptakan kerutan di kening Awan. Ini adalah kali pertama Pelangi seperti meragukan dirinya.


Kesal, Awan menarik tubuh Pelangi hingga tubuh mereka terhempas ke tempat tidur. Ia memerangkap tubuh kecil itu dengan tatapan menghujam.


“Kamu tidak percaya sama aku?” 


..........

__ADS_1


__ADS_2