Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Rencana Guntur?


__ADS_3

Suasana semakin memanas, beberapa orang yang berada di sekitar klinik mulai berkerumun saat melihat adanya keributan. Tak ingin menimbulkan kekacauan di tempat umum, abah dan umi memutuskan untuk membawa Maryam pulang ke sebuah apartemen mewah, tempat mereka tinggal selama berada di Indonesia. 


Pelangi dan Awan pun tak dapat berbuat apa-apa, selain menyerahkan urusan Maryam ke tangan kedua orang tua Guntur. 


Setibanya di apartemen, umi membawa Maryam ke sebuah kamar. Dengan berderai air mata, wanita itu menceritakan tentang awal pertemuannya dengan Guntur.


“Maafkan saya Umi. Saya nekat datang ke mari hanya untuk membicarakan pernikahan saya dengan Mas Guntur. Tapi kalau memang Mas Guntur tidak menginginkan saya, saya pasrah dan tidak akan memaksa,” lirih Maryam dengan sisa-sisa isak tangisnya. 


Wanita paruh baya itu turut menyeka air matanya. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa putra  semata wayangnya itu telah menikahi seorang wanita tanpa sepengetahuannya. “Bukan sepenuhnya salah kamu, kami sebagai orang tua yang seharusnya lebih mengawasi Guntur dengan kondisi kejiwaan yang belum stabil. Kamu sabar ya.” 


“Mas Guntur sudah menolak saya, Umi. Jadi lebih baik saya pulang saja.” 


“Jangan! Bagaimana dengan anak dalam kandungan kamu? Dia juga cucu umi.” Umi memeluk Maryam demi menenangkannya. 


“Tadinya saya pikir masih bisa membujuk Mas Guntur. Tapi setelah tahu siapa wanita yang dia cintai, sepertinya saya tidak akan bisa menggantikan posisinya.” 


“Kenapa kamu berkata seperti itu?” tanya umi.


Maryam menyeka cairan bening yang mengaliri wajahnya. “Dilihat dari sisi mana pun, saya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Pelangi, Umi.” 


Maryam sadar akan sulit baginya untuk mendapatkan hati suaminya.


“Kata siapa? Umi yakin kamu juga wanita yang baik.” 


“Tapi dalam pandangan Mas Guntur saya tetap tidak layak. Tidak apa-apa, Umi. Saya ikhlas.” 


“Jangan berkata begitu, Nak. Guntur hanya tidak sadar mana yang benar dan salah. Dia pasti akan menerima kamu, apa lagi kamu dengan sedang mengandung anaknya. Abah pasti mencari jalan keluar yang terbaik untuk kita semua.”


Ucapan umi membuat Maryam sedikit lebih tenang. Sementara abah tengah berbicara dengan Guntur di ruangan lain, karena pria itu terus menolak untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. 


“Saya tidak sengaja, Abah. Waktu itu saya pikir dia Pelangi.” Sebuah jawaban yang membuat abah mengusap dadanya yang mendadak terasa sesak. 


"Astaghfirullahaladzim. Itu bukan sebuah alasan! Suka atau tidak, kamu harus bertanggungjawab dan menikahi Maryam secara resmi!” ucap abah menekan tanpa dapat ditawar lagi. 

__ADS_1


Guntur menatap abah, lalu dengan cepat menggelengkan kepala sebagai bentuk penolakan.  


“Tapi saya mencintai Pelangi dan saya hanya mau menikah dengan dia.” Tatapannya nanar, sesekali menjambak rambutnya dengan gemetar.


Abah bersandar di kursi seraya menghela napas panjang berkali-kali. Ucapan Guntur layaknya seseorang yang telah kehilangan akal sehatnya.


“Istighfar, Nak! Ingat dosa!” Guntur terdiam beberapa saat, membuat Abah mengusap bahunya. "Coba istighfar dulu sampai kamu merasa lebih baik!"


“Astaghfirullahaladzim.” Tiga kali Guntur menyebut kalimat itu dengan cairan bening menggenang di bola matanya. 


"Sudah lebih baik?"


Ia mengangguk.


“Ikhlaskan Pelangi, Nak! Dia sudah menjadi milik orang.” 


Guntur sadar kenyataan itu, tetapi cinta untuk Pelangi mengalahkan segalanya. “Tapi suami Pelangi itu bukan laki-laki yang layak, Abah. Dia hanya seorang pemabuk dan suka berbuat maksiat. Pelangi tidak akan bahagia bersamanya.” 


“Atas dasar apa kamu menilai dia tidak layak? Ingat, Allah lebih mencintai taubat pendosa dari pada orang yang mengaku sholeh tapi sombong!”


"Akan menjadi dosa besar bagi kamu mencintai istri orang, apa lagi berniat merebut."


"Tapi bagaimana dengan Pelangi?"


"Tidak usah kamu pikirkan Pelangi. Dia bahagia atau tidak, itu bukan urusan kamu!" Pria dengan rambut memutih itu kembali menekan bahu putranya. "Yang seharusnya kamu pikirkan sekarang adalah Maryam dan anak di dalam kandungannya."


...........


Pelangi terlonjak saat tiba-tiba Awan datang dan memeluknya dari belakang. Wanita itu sedang berdiri menghadap jendela sambil merenungi kejadian tadi sore. Ia belum tenang sebelum mendapat kabar dari Maryam. 


“Kamu kenapa melamun?” tanya Awan seraya menciumi ceruk leher istrinya. 


“Tidak apa-apa. Aku hanya sedih dengan kejadian tadi.” 

__ADS_1


Awan membalikkan tubuh Pelangi dan memeluknya. “Sudah jangan dipikirkan. Setidaknya orang tua Guntur sudah tahu tentang Maryam. Mereka pasti mencari jalan terbaik.” 


“Tapi aku merasa bersalah sama Maryam, Hubby.” 


“Kenapa harus merasa bersalah? Kamu tidak salah apa-apa.” 


Bandar Korma aja tuh yang brengsek. Pakai nggak mau ngaku lagi. tambahnya dalam hati.


Awan mengusap punggung Pelangi. “Sudah ya, jangan dipikirkan lagi. Kamu bisa stres nanti.” 


Pelangi mengangguk dengan senyuman tipis.


“Oh ya, aku belum bilang, tadi sore aku ketemu sama Priska untuk membahas proyek. Dia titip salam untuk kamu.” 


“'Alaika wa 'alaihassalam ,” jawabnya. “Bagaimana kabarnya?” 


“Baik. Katanya setelah proyek ini selesai dia akan pindah ke Jerman,” jawab Awan enteng. Ia membawa Pelangi untuk duduk di pembaringan.


“Hubby, apa dia sudah ikhlas untuk melepasmu?” tanya Pelangi. Mengingat pertemuan terakhir dengan Priska yang masih tak dapat menerima keputusan Awan untuk memilihnya.


“Insyaa Allah. Lagi pula di dunia ini ada banyak laki-laki. Akan sangat bodoh kalau dia hanya terpaku dengan satu orang.” 


 


........ ...


Maryam merasa lega setelah berbicara dengan abah dan umi. Atas bujukan kedua orang tuanya, Guntur pun setuju untuk menikahi Maryam secara resmi dan akan digelar secepatnya. 


Mulai malam ini pula, Maryam akan tinggal bersama umi dan abah. Seorang sopir telah diperintahkan umi untuk mengambil barang-barang Maryam di rumah sewa. Maryam menyeret kopernya menuju kamar yang telah dipersiapkan untuknya. Saat melewati ruang tengah, ia mendengar suara suaminya yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon. 


“Saya tidak mau ada kegagalan. Saya mau dia celaka!” 


Maryam yang bersembunyi di balik dinding mengerutkan dahinya. 

__ADS_1


“Mas Guntur ada rencana apa? Siapa yang mau dicelakai?” 


...........


__ADS_2