Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Kenapa Tidak Bilang?


__ADS_3

Mudah bagi Awan untuk meluluhkan Pelangi yang memiliki hati selembut kapas, tetapi tidak mudah baginya untuk menghilangkan rasa bersalah dalam dirinya. 


Saat Pelangi sudah lelap dalam hangatnya pelukan sang suami, Awan malah tak dapat memejamkan mata. Terlebih jika menatap wajah Pelangi yang tertidur dengan mata sembab. 


Awan mencium kening dan memastikan wanitanya itu benar-benar sudah lelap, sebelum beranjak dari tempat tidur. 


“Di kamar ini masih ada barang tentang Priska nggak sih?” Awan bermonolog seraya membuka laci-laci nakas. Mencari-cari benda yang berhubungan dengan masa lalu. Lebih baik disingkirkan sebelum Pelangi yang menemukan lebih dulu. 


Benar saja, sebuah album foto berisi kenangan kebersamaannya dengan Priska ada di salah satu laci. Dua tahun lalu, Priska membuat album itu dan memberikannya kepada Awan sebagai tanda cinta mereka.


Melanjutkan pencarian, Awan menelusuri seisi kamar hingga sebuah box yang ia gunakan untuk menampung semua benda pemberian priska hampir penuh. 


Gila aja, sampai sebanyak ini! gumamnya dalam hati.


Tak ingin Pelangi mendapati dirinya dan setumpukan kenangan itu, Awan pun segera membawa box tersebut ke taman belakang rumah. Semua benda itu akan dimusnahkannya tanpa sisa. 


Namun, jika Awan pikir membakar semua kenangan masa lalu akan menghilangkan rasa bersalahnya, maka salah besar. Wajah sedih Pelangi selalu saja menghantuinya. 


Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, namun matanya seperti enggan terpejam. 


Kok jadi nggak tenang gini sih? 


Ia melepas pelukannya dari Pelangi dan beranjak dari tempat tidur.


_


Malam pun semakin larut. 


Masih dengan mata terpejam, Pelangi meraba pembaringan disisinya. Sepasang mata itu perlahan terbuka setelah tak menemukan sang suami.

__ADS_1


Kepalanya mendongak demi mencari keberadaan sang suami. Senyum pun terbit di sudut bibirnya mendapati punggung tegap yang terbalut baju koko berwarna putih, tengah berdiri di atas sajadah. 


Awan sedang menjalankan shalat malam. 


...........


Selepas shalat subuh, Awan berolahraga ringan di taman belakang rumah. Menurut saran dokter, ia harus sering melatih otot kakinya agar cepat pulih.


Sejenak, Awan melirik ke arah Pak Marno. Seorang sopir yang telah lama bekerja untuk ayahnya.


Awan lalu mendekati pria itu dengan membawa kotak berliannya. Semalam ia ingin membakarnya, namun diurungkannya. Karena mungkin benda itu akan bermanfaat untuk orang lain.


Alis Pak Marno pun terangkat hingga menciptakan kerutan di keningnya. Awan tiba-tiba menyerahkan sebuah kotak ke hadapannya.


“Apa ini, Den?” tanyanya. 


“Buat istri Bapak.” 


"Terima kasih, Den!"


“Sama-sama. Semoga istri Bapak suka.” Awan lalu meninggalkan Pak Marno dan memasuki rumah. Sementara Pak Marno masih terpaku di tempat. 


Karena penasaran ia membuka kotak tersebut yang membuat matanya membelalak setelah melihat isinya. 


“Den!” teriaknya dengan raut muka tak percaya. Namun, Awan hanya merespon dengan melambaikan tangan.


“Aduh, si Juminah mimpi apa semalam sampai dapat berlian. Moga nggak dijual buat beli minyak goreng!” 


.............

__ADS_1


Pagi ini Pelangi sedang memasak bersama ibu dan Bik Minah. Ibu Sofie menanyakan banyak hal tentang memasak. Ia juga memberitahu tentang niat baiknya untuk berhijab. 


“Oh ya, Priska sudah tidak pernah ganggu kamu, kan?” tanya Bu Sofie sesaat setelah selesai membuat sarapan.


Sambil menunggu yang lain, mereka duduk berdua di meja makan.  


“Tidak, Bu,” jawab Pelangi seraya tersenyum. 


“Syukurlah. Soalnya dia itu agak nekat anaknya. Ibu takut kamu masih digangguin. Kalau Awan bagaimana? Apa masih sering ketemu Priska? Kata ayah, Awan jadi pimpinan proyek untuk hotel keluarganya Priska.” 


“Ibu dengar dari Priska, katanya pembangunannya gedung hotel itu akan dimulai. Artinya, Awan akan sering keluar kota dan ketemu Priska di sana.” 


Pelangi terdiam. Tiba-tiba teringat kembali pada temuannya semalam. Tak dapat dipungkiri, rasa sakit itu masih saja ada meskipun berusaha ia tutupi. Melihat wajah menantunya yang tiba-tiba murung, Bu Sofie pun mengusap bahunya. 


“Maafin ibu, Pelangi. Ibu tidak bermaksud menakuti kamu. Ibu cuma khawatir kalau Priska masih mengganggu rumah tangga kalian. Kamu tahu kan seperti apa perempuan itu?” 


Pelangi kembali merenung.


“Kenapa Mas Awan tidak bilang kalau mau keluar kota dengan dia?” 


...........


Bagian ini pasti rame nih gegara minyak goreng 🤣🤣🤣


.


.


.

__ADS_1


...Terima kasih untuk setiap dukungan baik berupa like komen dan hadiah. 🤗🥰🥰...


__ADS_2