Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Extra Part Maryam-Guntur


__ADS_3

Jika Awan dan pelangi sedang berbahagia dengan kehamilannya, di sisi lain Guntur sedang berjuang untuk meluluhkan kembali sang istri. Seminggu berlalu sejak Maryam keluar dari rumah sakit, selama itu pula ia mendiamkan Guntur dan memilih tidur di kamar terpisah.


Malam selepas bekerja, Guntur mampir ke sebuah toko bunga dan membeli seikat kembang merah yang akan ia persembahkan untuk sang istri. Mungkin butuh waktu bagi Maryam untuk memaafkan dan selama proses itu, Guntur terus berusaha untuk memperbaiki diri dan menebus kesalahannya. 


Tak butuh waktu lama, pria itu telah tiba di apartemen. Seperti hari-hari sebelumnya, hanya kesunyian yang menyambut, karena sejak keluar dari rumah sakit, Maryam lebih banyak mengurung diri di kamar.


“Maryam di mana, Umi?” tanya Guntur kepada umi, setelah tak menemukan istrinya di kamar.


Umi yang sedang menonton TV lantas menoleh kepada putranya. “Bukannya ada di kamar?” 


“Tidak ada, Umi.” 


Informasi yang diberikan Guntur menciptakan kerutan tipis di kening umi. Biasanya, Maryam tidak keluar kamar jika tidak ada sesuatu yang penting.


“Coba periksa lagi. Mungkin sedang di kamar mandi.” 


Guntur pun kembali ke kamar untuk memastikan. Namun, tetap tak menemukan keberadaan sang istrinya.  


Perhatian Guntur akhirnya teralihkan pada secarik kertas di atas meja. Dengan perasaan tak karuan, ia menjatuhkan tubuhnya di ujung tempat tidur. Tangannya gemetar, bola matanya mendadak digenangi cairan bening membaca kata demi kata yang tertulis di sana.


“Assalamu’alaikum, Umi ... Maafkan saya pergi tanpa permisi. Saya bukan tidak betah tinggal bersama Umi dan Abah. Tapi, saya butuh waktu untuk menenangkan diri dan menata ulang kehidupan saya. Semoga Umi, Abah dan Mas Guntur selalu dalam lindungan Allah. Maryam.” 


Guntur menjatuhkan kertas di tangannya. Seperti kehilangan kemampuan untuk berpikir, ia mematung di tempat.

__ADS_1


"Maryam pergi?"


Detik itu juga, Guntur tersadar. Keluar dari kamar dengan tergesa-gesa dan menyambar kunci mobil yang tadi ia letakkan di atas meja.


"Umi, Maryam pergi! Saya mau cari dia dulu!" ucap Guntur membuat umi terkejut.


"Apa, Maryam pergi? Kamu yakin?"


Guntur memberikan sepucuk surat yang ditinggalkan Maryam. Umi pun cukup terkejut membaca isi surat itu.


"Kamu mau cari ke mana?"


"Mau ke bandara dulu, Umi. Mungkin Maryam mau pulang ke kota asalnya."


Tanpa menunggu lagi, pria itu melangkah cepat keluar dari apartemen. Mengemudi dengan kecepatan tinggi. Bahkan ia tak peduli lagi dengan umpatan pengendara lain yang hampir ditabraknya.


Pria itu lantas menepikan mobil. Dengusan frustrasi terdengar ketika menyadari ban mobil dalam keadaan bocor.


Baru saja Guntur akan memesan taksi online, namun ternyata ia lupa membawa ponsel.


"Astaghfirullah."


Di sisi lain, Awan sedang dalam perjalanan untuk pulang ke rumah. Dari kejauhan melihat seorang pria yang tak asing baginya.

__ADS_1


"Bukannya itu Bandar Korma, ya? Ngapain di mari?"


Ketika telah berada dalam jarak dekat, Awan menepikan kendaraan saat melihat ban mobil sang bos dalam keadaan kempis.


"Ada yang bisa dibantu?" tanya Awan membuka kaca jendela mobil.


Guntur tampak terkejut dengan keberadaan Awan di sana. "Ban mobil saya bocor. Saya lagi buru-buru ke bandara."


Mau kabur ke mana lo sampai buru-buru ke bandara?


"Ehm, memangnya mau ngapain ke bandara?" tanyanya lagi.


"Istri saya kabur! Saya mau nyusul!" jawab Guntur polos tanpa mengindahkan ekspresi wajah Awan yang begitu terkejut.


"Hah kabur?" Awan berpikir sejenak, tidak pula menawarkan bantuan atau tumpangan. Bagaimana jika Guntur melakukan kekerasan sehingga Maryam memilih kabur dari rumah? Pikiran konyol itulah yang terbesit di benaknya.


"Saya boleh minta tolong di antar ke bandara?"


Bibir Awan mengatup rapat. Ia menatap Guntur curiga dan pria itu dengan cepat mampu menebak apa yang sedang dipikirkan Awan.


"Demi Allah, saya tidak melakukan apa yang ada di pikiran kamu. Saya hanya mau menyusul istri saya sebelum terlambat."


"Ya udah, cepet naik!"

__ADS_1


Awas aja bohong, gue bogem lagi tuh muka!


............


__ADS_2