Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Kejutan Tak Terduga


__ADS_3

Dewabrata Group?


Guntur belum sanggup mengucapkan sepatah kata pun setelah mendengar sebuah kejutan besar yang tidak pernah terpikir olehnya.


Bagaimana mungkin ia mengabaikan asal-usul Awan dan tidak mencari tahu. Bahkan sejak awal Guntur sadar Awan menggunakan nama belakang Dewanto. Tetapi, tidak pernah terbayangkan jika bawahannya itu memang adalah salah satu dari pewaris Dewabrata Group.


"Maaf, Ayah, Zidan. Saya benar-benar tidak tahu tentang itu," ucapnya dengan wajah memucat.


"Tidak apa-apa, Kak Guntur. Kak Awan memang tidak terlalu mau mengungkap siapa dirinya."


Guntur meraba tengkuk lehernya. Pikirannya mendadak kalut memikirkan bagaimana jika Fery Dewanto mengetahui semua perbuatannya terhadap Awan. Mungkin ia akan membatalkan semua kerja sama antara perusahaan. Terlebih, Dewabrata Group adalah salah satu investor di perusahaan orang tua Guntur.


Melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya, Guntur lalu menatap Ayah Ahmad. "Maaf Ayah, sepertinya saya harus segera pergi. Saya masih ada urusan penting di luar."


"Silahkan, Nak Guntur," jawabnya masih dengan nada ramah.


Sementara Zidan menatapnya tanpa ekspresi.


Guntur pun terburu-buru meninggalkan rumah itu. Niatnya untuk ikut menyumbang ia lupakan begitu saja.


............


Di kamar ....


“Sekarang sudah mau cerita?” 


Dalam hangatnya pelukan Pelangi, Awan mengangguk. 


Lembut tangan wanita itu membelai wajah suaminya, yang diakhiri dengan kecupan sayang di kening. Lalu bangkit dan menuju lemari untuk mengambil kotak yang tadi disimpannya. Melihat itu, Awan sudah mampu menebak apa isi kotak yang baru saja diletakkan Pelangi di atas tempat tidur. 


Tanpa menunggu lagi, Awan segera membukanya. Tangannya terkepal meremas selembar foto yang menggambarkan dirinya tengah berada dalam sebuah tempat hiburan malam, hingga foto menjadi kusut dan membentuk bola kecil. Ia lempar dengan kasar ke arah lantai. 


“Banyak-banyak istighfar, Hubby!” 


Mata Awan terpejam seraya menarik napas dalam. “Astaghfirullah.” 


Pelangi menggenggam tangan suaminya. “Insyaa Allah aku akan percaya apapun penjelasan Hubby. Hubby juga percaya sama aku, kan?” 


Awan mengangguk pelan. 


"Aku hanya butuh penjelasan untuk dua jenis foto saja. Kalau foto-foto kebersamaanmu dengan wanita lain, aku tahu itu hanya bagian dari masa lalu."

__ADS_1


Awan menarik napas dalam sebelum mulai menjelaskan. “Semalam aku memang ke tempat Ben. Maaf kalau aku tidak bilang sebelumnya. Tapi demi Allah, aku ke sana bukan untuk berbuat maksiat, tapi karena Ben sedang butuh bantuan.” 


“Ben itu siapa?” 


“Sahabatku sejak kecil. Pemilik tempat hiburan malam tempat aku dulu sering mabuk-mabukan.” 


Pelangi mengangguk mengerti. “Lalu bagaimana dengan foto perkelahian itu?” 


“Sejak keluar dari kompleks, aku merasa diikutin. Saat dalam perjalanan pulang, beberapa orang mengeroyok aku. Aku hanya membela diri, Hunny! Kalau tidak ... pasti aku yang pulang ke rumah dalam keadaan bonyok.” 


Pelangi meneliti wajah suaminya dengan raut wajah khawatir. Bola matanya mendadak dipenuhi cairan bening. Betapa tidak, Awan baru pulih setelah mengalami kecelakaan. "Tapi Hubby tidak terluka, kan? Apa di badannya ada bekas pukulan?"


"Tidak sih. Hanya saja kakinya sedikit ngilu, tapi tidak apa-apa."


“Hubby kenal pelaku pengeroyokannya?” 


Awan menggelengkan kepala. “Aku tidak kenal preman-premannya. Tapi aku berhasil membuat mereka mengakui siapa dalangnya.” 


Pelangi terkesiap. Tatapannya begitu menuntut jawaban. “Lalu siapa yang menyuruh mereka?” 


“Bandar Korma!”  jawan Awan singkat dengan ekspresi kesal.


“Aku akan jawab. Kamu akan percaya sama aku, kan?” 


“Insyaa Allah, Hubby.” 


Awan menatap Pelangi dalam-dalam sebelum menjawab, “Mantan tetangga kamu, yang juga bos aku. Guntur.” 


Mata Pelangi membeliak mendengar jawaban suaminya. Sama sekali tidak pernah menyangka bahwa Guntur yang selama ini terlihat baik berniat untuk mencelakai suaminya. “Astagfirullah.” 


Kaget kan? Bisa percaya nggak sekarang? 


"Apa Hubby punya bukti kuat selain pengakuan pelaku pengeroyokan itu?"


"Sayangnya tidak, makanya aku diam! Aku pikir, kamu dan siapapun tidak akan percaya sama aku." Awan menjeda ucapannya dengan hela napas. "Tidak mungkin kan, orang seperti Guntur mau mencelakai orang lain."


Lelehan air mata mengalir di pipi Pelangi. Tangannya gemetar meremas ujung pakaiannya. "Aku akan bicara dengannya." Pelangi bangkit dari duduknya, namun Awan menarik pergelangan tangannya.


"Jangan!"


"Hubby, ini sudah tindakan kriminal. Kemarin dia hanya mengirim orang untuk mengeroyok. Bagaimana ke depannya?"

__ADS_1


"Tenang dulu. Kita tidak ada bukti, dia bisa saja kembali menuduh aku mau memfitnahnya." Ucapan Awan membuat Pelangi terdiam dan memilih kembali duduk di tempatnya. Ucapan Awan memang ada benarnya.


"Aku juga sudah bicarakan dengan Zidan tadi pagi!" ucap Awan lagi.


“Terus, Zidan bilang apa?” 


"Tidak bilang apa-apa. Tidak membelaku, tidak juga membela si Bandar Korma itu. Dia cuma minta untuk bersabar dan lebih hati-hati."


Pelangi membelalak tak percaya. Bagaimana mungkin Zidan diam saja ketika mendengar kakak iparnya hendak dicelakai seseorang.


"Kalau begitu aku akan bicara dengan ayah."


"Jangan, Hunny!" bujuk Awan. "Ingat, ayah punya sakit jantung. Bagaimana kalau ayah kepikiran dan sakit." Akhirnya kalimat ampuh itu berhasil meluluhkan Pelangi. Sehingga yang dilakukannya hanya memeluk suaminya dengan penuh syukur karena terhindar dari bahaya.


"Mending kita indehoy aja di sini," celetuk Awan setelah beberapa saat kemudian.


Kepala Pelangi mendongak menatap suaminya diiringi sorot mata penuh tanya. "Indehoy itu apa?"


Sebuah pertanyaan yang membuat Awan ingin menepuk jidat. Ia baru sadar istrinya mungkin tidak banyak tahu tentang istilah anak muda zaman sekarang.


Elah, kirain ngerti. Polos amat sih, istilah gituan aja nggak tahu.


Awan tersenyum dan mengusap rambut Pelangi. "Indehoy itu berasal dari Bahasa Belanda, Hunny. Artinya di atas tumpukan rumput kering."


Orang sini aja tuh yang plesetin jadi kegiatan anu.


Seolah belum puas dengan jawaban suaminya, Pelangi masih menatap penuh tanya.


"Sini aku ajarin!" Awan mendorong Pelangi dengan lembut hingga terbaring. Lalu, memeluk dan menciumnya dengan mesra.


Hingga rasanya seluruh dunia hanya milik berdua.


Tak lama berselang ....


Tok Tok Tok! Suara pintu yang diketuk membuat Awan mendengus dan menatap pintu dengan kesal.


"Kak Awan, mau ikut pertemuan ke masjid tidak?" Suara Zidan terdengar jelas dari balik pintu.


Lo punya kebiasaan baru ya, Dek! Gangguin orang!


...........

__ADS_1


__ADS_2