Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Membangun Dari Titik Awal Bersama


__ADS_3

Zidan belum mampu mengurai rasa malu akibat pertanyaan Awan beberapa menit lalu. Setelah meninggalkan kafe, Toyota Calya putih yang kemudikannya ia arahkan ke sebuah toko buku terdekat. 


Awan mengekor di belakang Zidan memasuki toko buku tersebut, sambil memperhatikan beberapa rak buku yang dilewatinya.  


“Mau ngapain di sini?” Pertanyaan itu tak serta merta dijawab oleh Zidan. Pemuda itu memilih berjalan menuju sebuah rak buku paling ujung, dengan Awan yang tetap setia berjalan di belakangnya. 


“Kakak bisa belajar dari sini.” Zidan menyodorkan sebuah buku. 


Awan pun meraih buku pemberian adik iparnya dengan kerutan tipis di kening. Ada beberapa pertanyaan yang tiba-tiba terbesit dalam benaknya. “Buku apa ini, Dek?” 


“Di dalam buku itu ada semua jawaban dari pertanyaan kakak di kafe tadi. Ada panduannya juga, jadi Kak Awan bisa belajar dari sana.” 


Senyum sumringah pun terukir di sudut bibir Awan. Sekali lagi Zidan menyelematkan dirinya dengan memberi sebuah pencerahan, sehingga tidak perlu lagi bertanya kepada Ayah Ahmad. Malu? Sudah pasti. 


“Terima kasih, Dek! Maafin kakak belum bisa jadi suami yang baik untuk kakak kamu.” 


“Insyaa Allah Kak Awan bisa. Hijrah itu adalah bagaimana cara mengubah niat untuk memperbaiki diri untuk Allah, bukan semata-mata hanya untuk menjadi suami yang layak untuk Kak Pelangi.” 


Awan termenung. Memikirkan dalam hati tujuan hijrahnya. Untuk Sang Maha Pencipta kah atau semata hanya untuk bisa layak bagi Pelangi. Dan Zidan dapat membaca raut wajah kakak iparnya. 


“Kak Awan, manusia masih mampu memberi rasa kecewa dan meninggalkan sesama manusia, tapi tidak dengan Allah. Untuk itu cintailah manusia yang mencintai Allah. Raih cinta Allah, maka seluruh penghuni langit dan bumi akan mencintaimu.” 


...........


Dengan langkah yang masih terseok-seok, Awan memasuki kamar. Pelangi sedang menjalankan shalat maghrib kala suaminya tiba di rumah.


Selepas shalat, Pelangi tersenyum mendapati Awan sedang duduk di tepi pembaringan dengan menatapnya. 


“Mas sudah pulang?” 

__ADS_1


“Baru saja.” 


"Sudah shalat Maghrib?"


"Alhamdulillah." Sebelum pulang ke rumah, Awan dan Zidan menyempatkan diri mampir ke masjid untuk shalat Maghrib.  


Pelangi membuka mukenah dan merapikannya, lalu ia letakkan di atas meja rias. Ia juga melepas kuncir rambut, sehingga rambut panjang hitam berkilaunya tergerai indah. 


“Jangan diikat!” ucap Awan ketika Pelangi hendak menguncir rambutnya kembali. “Biarkan dulu, aku suka melihatnya.” 


Senyum mengembang di bibir Pelangi menyambut uluran tangan suaminya. Awan menariknya pelan hingga duduk di sisinya. Sementara tangannya membelai rambut, yang setiap helainya terasa sangat lembut dan wangi. 


Dan satu hal yang paling disukai Awan, setiap kali ia memperlakukan Pelangi dengan mesra, pipinya akan menjadi merah yang kemudian berusaha ia sembunyikan dengan menundukkan pandangan. 


“Jadi hapus tatonya?” 


“Menurut Zidan tidak usah kalau dalam prosesnya mengakibatkan rasa sakit dan luka di kulit.” Awan menggenggam jemari Pelangi dan saling menautkan jari-jarinya. “Tapi kamu sendiri bagaimana? Kamu tidak apa-apa kalau di punggungku ada tato?” 


“Terima kasih, Hunny.” Awan mencium punggung tangan istrinya. “Sebenarnya ada sesuatu yang mau aku katakan.” 


“Sesuatu apa.” 


“Besok aku akan bekerja kembali.” 


Pandangan pelangi langsung tertuju kepada suaminya. “Tapi Mas kan belum bisa berjalan lama tanpa alat bantu.” 


“Tidak apa-apa. Di kantor kan kebanyakan duduk. Lagian aku sudah kelamaan cuti. Kamu tidak  takut kalau aku dipecat, kamu bisa punya suami pengangguran loh.” Ucapan Awan membuat Pelangi terkekeh. Bagaimana mungkin seorang Awan Wisnu Dewanto takut menjadi pengangguran, padahal orang tuanya memiliki sebuah perusahaan besar. Awan lah yang keras kepala dan selalu menolak untuk bergabung dengan perusahaan Ayah Fery. “Kenapa ketawa?” 


“Kamu lucu, Mas.” 

__ADS_1


"Lucu apanya sih?" Ia terkekeh. "Oh ya, aku juga mau bilang sesuatu."


Pelangi mengangguk sebagai jawaban. 


“Kalau kamu setuju, bagaimana kalau kita kembali ke rumah. Sudah tiga bulan rumah kita kosong. Aku mau membuka lembaran baru bersama kamu di rumah kita. Memulai perjalanan dari awal lagi untuk membentuk sebuah keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah.” 


Rasa haru terasa memenuhi hati Pelangi. Wanita mana yang tidak bahagia ketika suaminya berjalan menuju kebaikan di setiap harinya. “Aku akan ikut kemana pun Mas membawaku.” 


Keduanya saling tatap selama beberapa saat. Hingga perhatian Pelangi teralihkan pada sebuah benda yang berada di sisi sang suami. "Itu buku apa, Mas?"


Awan terkejut, lalu secara refleks menyembunyikan bukunya di bawah bantal. "Bukan buku apa-apa."


Tadinya, Awan ingin menyembunyikan. Namun, melihat sorot mata penuh tanya Pelangi membuatnya tak tega untuk menyembunyikan apapun. "Aku malu tanya sama ayah. Jadi, Zidan menyarankan membaca buku ini."


Wajah Pelangi pun ikut memerah. Ia tahu betul buku apa yang sedang disembunyikan Awan.


"Aku minta maaf. Sampai sekarang belum memberikan nafkah batin yang sudah menjadi hakmu. Mungkin itu sebuah dosa, tapi aku merasa masih terlalu kotor untuk bersentuhan denganmu."


Pelangi terdiam.


"Aku akan semakin merasa berdosa kalau memberikan hakmu dengan sembarangan tanpa pengetahuan yang baik."


............


Malam hari Pelangi sudah terlelap, namun tidak begitu dengan Awan. Duduk di sebuah kursi dengan pencahayaan dari lampu belajar, ia membaca lembar demi lembar buku yang diberikan Zidan.


Wajahnya pun memerah di tengah kegelapan.


Masya Allah, ternyata begituan ada doa-doa nya juga ya?

__ADS_1


...........


__ADS_2