
"Sayang, bisa ikut aku ke kamar?"
"Bisa." Pelangi melirik Maryam yang masih membeku di tempat. "Maryam, sebentar ya. Aku ikut suamiku ke atas dulu."
"Silahkan."
"Kamu duduk saja dulu. Aku segera kembali."
Awan merangkul pinggang Pelangi menuju tangga. Sementara pandangan Maryam mengikuti ke mana langkah sepasang suami istri itu. Lalu, kembali merenung setelah dua tubuh itu tak terlihat lagi olehnya.
“Hubby, ada yang mau aku bicarakan,” ucap Pelangi sesaat setelah memasuki kamar.
“Tentang apa?”
"Ini tentang Maryam."
"Oh, teman kamu itu? Dia kenapa?"
Sambil membantu Awan membuka kemejanya, Pelangi menceritakan tentang kondisi sahabatnya.
"Maryam sedang kesulitan. Dia ada masalah dengan suaminya dan baru datang dari luar kota."
"Terus?"
"Di sini dia tidak punya siapa-siapa. Apa boleh Maryam menginap di sini untuk beberapa hari sampai bertemu dengan suaminya?"
Awan terdiam sejenak. Sebenarnya, ia tidak begitu menyukai kehadiran orang asing di rumahnya. Terlebih, mereka masih dalam masa-masa pengantin baru. “Kamu yakin membawa orang lain untuk tinggal bersama kita?”
“Aku hanya kasihan dengan keadaan Maryam.”
“Kasihan? Kalau mau, kita bisa sewa rumah untuknya. Tidak perlu tinggal bersama kita.”
__ADS_1
“Tapi dia seorang wanita. Apa tidak berbahaya tinggal seorang diri?”
"Dan kamu pikir dia akan aman tinggal di sini?" balas Awan membuat Pelangi mendongak untuk menatap suaminya.
"Maksudnya?"
Awan tersenyum seraya membelai rambut Pelangi. "Kamu seorang wanita yang cerdas dan mengerti agama. Kamu pasti mengerti maksud aku."
Ya, Pelangi memang mengerti ke mana arah pembicaraan Awan. "Hubby, aku tahu seperti apa Maryam."
"Kamu tahu isi hatinya?"
Pertanyaan itu membuat Pelangi terdiam. Tidak tahu lagi harus berkata apa. Menyadari reaksi Pelangi, Awan pun menggenggam tangannya.
"Sayang ... Tidak ada yang bisa menebak seperti apa isi hati seseorang. Mungkin dia akan aman tinggal di sini. Tapi apa kamu yakin keberadaan teman kamu itu tidak akan menimbulkan fitnah untuk kita?"
"Aku harus bagaimana, Hubby? Kasihan Maryam."
"Aku tahu perasaan kamu. Kamu mungkin menyayangi Maryam seperti saudara perempuan kamu sendiri. Tapi ingat satu hal." Awan meletakkan tangannya pada kedua bahu sang istri, menatapnya dengan menekan. "Ingat, dia bukan mahramku!"
"Begini saja, untuk malam ini biarkan dia nginap di sini, tapi hanya untuk malam ini. Besok aku akan cari rumah sewa yang aman untuk dia."
Pelangi mengangguk setuju.
"Maaf, Sayang. Tapi aku tidak suka ada orang lain di rumah kita. Apa lagi seorang wanita. Kalau adik ipar saja bisa jadi maut, apalagi orang lain."
“Iya, Hubby. Maafkan aku.”
“Tidak apa-apa, kamu tidak salah. Aku yang minta maaf." Awan menarik Pelangi ke dalam dekapannya. Lalu mencium puncak kepalanya berulang-ulang. "Memang suaminya orang mana sih?”
“Aku juga tidak tahu. Tidak enak bertanya lebih dalam tentang urusan rumah tangga orang. Dia cuma bilang, suaminya keturunan Timur Tengah dan dia dinikahi secara siri, lalu ditinggalkan begitu saja tanpa tanggung jawab.”
__ADS_1
“Astagfirullah. Ada ya suami semacam itu?”
“Aku juga sangat prihatin. Lebih buruknya lagi, suami Maryam meninggalkannya karena mengaku sudah mencintai wanita lain sebelum menikahi Maryam.”
Mendadak Awan merasakan sesak di dadanya. Rasa bersalah atas luka yang pernah ia beri kepada Pelangi masih membekas di hatinya.
Kok malah gue yang ngerasa sakit ya. Maafin aku, Hunny. Awan mengeratkan pelukan. Membenamkan bibirnya di kening Pelangi.
"Kasihan juga sih. Kita doakan saja semoga Allah meniupkan hidayah untuk suaminya, seperti Allah meniupkan hidayah kepadaku."
"Aamiin."
"Ya sudah, aku mau mandi dulu, terus ke masjid. Tolong siapkan baju koko sama sarung, ya."
Pelangi mengangguk, lalu menuju lemari untuk menyiapkan pakaian suaminya.
Tiba-tiba ....
"Pelangi, apa aku boleh ..." Sapaan itu menggantung ketika Awan menoleh. Maryam tampak berdiri tak jauh dari pintu kamar yang setengah terbuka.
Wanita itu membeku menatap Awan yang hanya terbalut handuk sebatas lutut, juga punggung tegapnya yang dipenuhi tato.
"Ma-maaf, Kak ... Maaf Pelangi, aku cuma mau tanya, kamar mandinya di mana?"
Pelangi segera beranjak dan mendorong pintu hingga hanya menyisakan celah untuk tubuhnya.
"Emh, kamar mandi ada di bawah dekat dapur," jawabnya.
"Iya. Maaf mengganggu." Maryam terburu-buru kembali ke lantai bawah. Sementara Awan menatap Pelangi yang juga masih terkejut.
"Maaf, Hubby. Aku lupa menutup rapat pintunya."
__ADS_1
"Inilah yang aku maksud. Sekarang kamu mengerti kan, kenapa aku tidak mau ada perempuan lain di rumah kita?"
...........