Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Seperti Apa Kriteria Zidan?


__ADS_3

Arah jarum pada arloji yang melingkar di pergelangan tangan Awan hampir menunjuk ke angka dua belas, kurang lima menit lagi. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, meskipun jalan sudah tak seramai tadi. 


Ia baru saja mengantarkan Zidan ke rumah Ayah Ahmad, lalu bergegas pulang mengingat Pelangi sendirian di rumah. 


Tak butuh waktu lama, mobil berwarna putih metalik itu sudah memasuki gerbang. Awan bersandar sejenak, merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Seharian ini, hampir seluruh waktunya dihabiskan dengan berkendara. 


Mulai dari pagi tadi membawa Pelangi melihat-lihat rumah baru mereka, berjalan-jalan ke beberapa tempat dan malamnya harus ke bandara menjemput Tania, dan itu menghabiskan waktu kurang lebih tiga jam. 


Baru saja Awan mengeluarkan kunci rumah, pintu sudah terbuka. Disusul kemunculan Pelangi yang masih terbalut mukena. Lengkap dengan senyum indah yang selalu menghiasi wajah cantiknya. 


Ah, istrinya itu memang sosok wanita yang berbeda. 


Ketika sang suami tak berada di rumah, ia akan bersujud dan berdoa kepada Sang Pencipta, agar selalu melindungi suaminya dimanapun berada. Dan kebiasaan inilah yang membuat Awan jatuh hati. 


Ia masih ingat di awal pernikahan. Kala Awan pulang dalam keadaan setengah mabuk, akan ada Pelangi yang menyambutnya dengan sepasang mata berkaca-kaca. 


“Assalamu’alaikum, Sayang ... kamu belum tidur?” tanyanya cepat. 


Pelangi kembali mengulas senyum. “Wa’alaikum salam. Sudah tadi. Tapi aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Makanya shalat.” 


Tangan Awan terangkat membelai puncak kepala yang terbalut mukena putih itu, kemudian turun ke punggung. Dengan gerakan lembut, ia menarik Pelangi mendekat hingga kedua tubuh itu hampir menyatu. Lalu, membenamkan kecupan di kening. Hangat dan dalam. 


Melepas ciuman, Awan merangkul bahu istrinya memasuki rumah. Sebelah tangannya menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Kemudian berjalan saling merangkul menapaki anak tangga menuju kamar. 


“Maaf, aku kelamaan di jalan,” ucapnya sambil menghela napas panjang. Membuka jaket yang membalut tubuhnya dan langsung memasukkan ke dalam keranjang pakaian kotor. “Habis antar Tania, aku antar Zidan pulang dulu.” 


“Zidan?” tanya Pelangi dengan alis yang saling bertaut membentuk busur panah. “Memangnya Zidan kenapa?” 

__ADS_1


“Aku minta tolong Zidan temenin jemput Tania. Biar di jalan tidak berdua aja.” Ia kembali membuka kancing kemeja, yang kemudian diambil alih Pelangi. “Katanya kalau cuma berdua, orang ketiganya itu setan,” sambungnya setengah berbisik dengan serius. 


Walaupun sudah mengatupkan bibirnya rapat, rupanya suara tawa masih lolos juga dari bibir Pelangi. “Berarti setannya Zidan, ya?” 


“Ya bukan, Sayang!” sergahnya gemas. 


“Nah, tadi kamu bilang, kalau jalan berdua, orang ketiganya setan,” ujar Pelangi dengan menekan kata ‘orang’. “Kalau orang, berarti Zidan, kan?” 


Ya bener juga sih. Tepok jidat gue! 


Cukup sudah. Ingin sekali Awan menggigiti makhluk mungil menggemaskan di hadapannya itu. 


Pelangi melipat kemeja di tangannya secara sembarang dan meletakkan ke atas meja. Sambil menunggu Awan yang tengah melepas celana jeans, ia beranjak menuju lemari untuk menyiapkan piyama. 


Sementara Awan memilih masuk ke kamar mandi terlebih dahulu untuk mengerjakan wudhu. Hal ini sudah menjadi kebiasaannya sebelum tidur. 


“Sesungguhnya setiap malam nyawa manusia diambil Allah SWT, dan manusia tidak memiliki jaminan apakah pagi hari besok nyawanya akan dikembalikan atau tidak. Karena itulah, alangkah baiknya kalau wudhu sebelum tidur. Supaya selalu dalam keadaan bersih.” Pesan Pelangi kala itu yang masih membekas di benak Awan.  


Satu kebiasaan Pelangi yang baru disadari Awan. Sejak hamil, ia jadi suka menggunakan barang yang sama. Termasuk piyama yang kemudian disadari Awan adalah piyama couple. 


Ya ampun, lucu juga sih. Asal jangan pink aja warnanya. Malu sama tato gue. 


Beberapa menit dihabiskan Awan untuk duduk di tepi pembaringan sambil menunggu Pelangi. Bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis kala melihat Pelangi menyemprotkan parfum ke bagian lehernya. 


Sejak kapan dia suka pakai parfum? 


Rasanya tak sabar menunggu. Awan bangkit dan mendekat pada istrinya. Tubuh wanita itu sedikit terjingkat saat Awan tiba-tiba melingkarkan tangan di perutnya yang masih rata. Mengusapnya perlahan. Lalu, membenamkan bibirnya di ceruk leher sang istri. 

__ADS_1


“Masih lama?” 


Membuat Pelangi tersadar seketika. Ia juga tak mengerti mengapa akhir-akhir ini jadi gemar bersolek. Terutama menjelang tidur. 


“Maaf, Hubby.” Pelangi buru-buru meletakkan sisir. Lalu berdiri dari duduknya dan menarik tangan sang suami menuju pembaringan. Ia menarik selimut hingga batas pinggang. 


Awan merentangkan tangan kanannya saat Pelangi hendak berbaring. Biasanya, Pelangi akan menggunakan lengan kekarnya sebagai bantal. Sementara tangan satunya bergerak membelai rambut panjang nan halus itu. Sesekali membelai wajahnya lembut. 


“Sayang, boleh aku tanya sesuatu?” 


Pelangi menyahut dengan anggukan kala bibirnya tak sanggup menjawab dengan lisan. Betapa tidak, Awan sedang menjelajahi lehernya yang membuat mata Pelangi begitu terhanyut. 


“Kenapa kamu mau sama aku?” 


Mata Pelangi yang terpejam refleks terbuka setelah mendengar pertanyaan itu. Bukankah mereka sudah pernah membicarakan hal ini sebelumnya? “Kenapa tanya begitu, Hubby?” 


“Tidak apa-apa. Dulu aku kan minus akhlak dan suka mabuk.” Awan menarik tubuh Pelangi hingga semakin menempel pada tubuhnya. Sementara Pelangi mendongak demi menatap sepasang manik hitam milik suaminya. 


"Seperti Allah menyatukan kita melalui ijab kabul, seperti itu juga Dia menyatukan hati kita. Tidak perlu ada alasan untuk itu."


Awan kembali tersenyum. Tetapi masih ada sebuah pertanyaan yang tertahan di benaknya.


“Hunny ... kira-kira tipe gadis yang disukai Zidan itu seperti apa?” Akhirnya pertanyaan itu lolos juga.


Pelangi memutar bola matanya ke arah langit-langit kamar, seperti sedang memikirkan sesuatu. “Yang baik hatinya, yang baik akhlaknya dan yang pasti shalihah.” 


Jawaban Pelangi sontak membuat tubuh Awan lemas. Ia mendesahkan napas panjang.

__ADS_1


Gagal lo, Tania!


...........


__ADS_2