Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Mama Jahat, Bu!


__ADS_3

Pecicilan dan banyak bicara! 


Itulah kesan pertama yang ditemukan Zidan dalam diri Tania. Sepanjang jalan, mulut Tania tiada hentinya berkomat-kamit. Membicarakan tentang apapun, serta menanyakan apapun yang dilihatnya di jalan. 


Sesekali Awan akan merespon, namun, terkadang lebih memilih diam, jika pertanyaan Tania membuatnya kesal. 


Setelah hampir satu jam menempuh perjalanan, mobil memasuki halaman rumah, setelah Pak Marno membukakan gerbang. Sepasang mata Tania seketika melebar tatkala menatap bangunan megah di hadapannya. 


“Loh, kok kita ke sini, Kak?” tanyanya heran. “Bukannya kita mau ke rumah Kak Awan, ya?” 


Awan hanya melirik sekilas, lalu membuka pintu mobil. “Kata siapa?” 


Bibir gadis belia itu sudah maju beberapa senti mendengar ucapan kakak sepupunya. “Jadi aku akan tinggal di sini dong.” 


“Iyalah. Mau di mana lagi memangnya?” Awan turun dari mobil. “Ayo cepat turun. Ibu sudah nunggu di dalam.” 


Tania mendengus kasar sebelum akhirnya turun dari mobil. Berjalan tepat di belakang Awan sambil menggerutu kesal. Sedangkan Zidan berjalan di belakang dengan santai. Sesekali Tania meliriknya, namun bahkan Zidan tak memberi respon. 


“Ibu!” sapa Tania penuh semangat. Sambil berlari kecil ke arah Bu Sofie yang sedang berdiri di ambang pintu. 


Wanita paruh baya itu merentangkan kedua tangannya menyambut keponakan kesayangannya. Membawanya ke dalam pelukan. 

__ADS_1


“Kamu kenapa nekat kabur dari rumah sih, Nak?” Pertanyaan itu menjadi sambutan pertama Bu Sofie untuk Tania. Ia belum melepas pelukan. Tangannya bergerak naik turun mengusap punggung gadis belia itu, tatkala mendengar isak tangis. “Sudah, tenang dulu, jangan nangis!” 


Bukannya mereda, isak tangis Tania malah semakin menjadi-jadi, hingga meninggalkan suara sesegukan. 


“Mama sama papa jahat, Bu!” lirihnya dengan suara tersendat-sendat sambil sesekali menyeka air mata. "Masa' Tania mau dijodohin sama ..." ucapannya terpotong oleh isak tangis.


“Nanti ceritanya di dalam aja. Kita masuk dulu, kamu pasti capek di jalan.” Bu Sofie mengusap rambut panjangnya dengan penuh kelembutan. 


“Bu, aku sama Zidan mau langsung pulang saja. Pelangi sendirian di rumah. Aku juga mau antar Zidan dulu,” pamit Awan. 


Bu Sofie mengangguk pelan. “Ya sudah, Nak! Kalian hati-hati di jalan.” 


“Eh, jangan pegang-pegang, bukan mahram!” ujar Awan menjauhkan tubuhnya perlahan. 


Membuat Zidan lagi-lagi mengatupkan bibirnya menahan tawa, melihat Awan yang kerepotan menjauh dari Tania. 


“Bu, Kak Awan kenapa sih? Mentang-mentang udah nikah nggak mau dipeluk lagi. Dulu juga boleh peluk!” protes Tania dengan bibir mengerucut. 


“Itu dulu, jaman jahiliyah gue. Sekarang beda!” 


“Awan!” tegur Bu Sofie. 

__ADS_1


“Iya, maaf, Bu. Bawaannya kalau sama anak ini rem mulutnya blong.” 


Lagi-lagi Zidan harus menahan tawa. Jika ini tidak segera di akhiri, mungkin ia akan ada di sana dalam waktu lama untuk menjadi penonton perdebatan lucu antara Awan dan Tania. 


“Udah ah, mau pulang. Udah pamit nggak jadi-jadi pulangnya.” Awan mendengus seraya melirik Tania sekilas. 


Melihat  Awan sudah beranjak menuju mobil, Zidan pun mengatupkan kedua tangan di depan dada dengan pandangan menunduk demi tak bersitatap dengan Tania.


“Saya permisi. Assalamu’alaikum.” 


“Wa’alaikumsalam.” 


Bagai magnet yang memiliki daya tarik kuat, Tania terus menatap punggung pemuda yang baru saja ditemuinya itu. Ia memandang Zidan sebagai pribadi yang unik. Sikapnya dingin dan cenderung acuh tak acuh terhadapnya, namun sangat sopan terhadap orang tua. Setidaknya itu yang ia temukan dalam diri Zidan. 


...........


...Maaf ya, baru up. Terima kasih untuk yang tetap setia menunggu. Oh ya, karena novel ini sudah ada logo End, jadi teman-teman Tidak usah vote atau kirim hadiah lagi ya. Soalnya sayang Poinnya. ...


...Tapi tetap tunggu Extra Part, karena kisahnya masih berlanjut. ...


...Terima kasih. 🤗🤗🤗...

__ADS_1


__ADS_2