Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Merasa Diikuti


__ADS_3

"Kamu kenapa? Sejak tadi kelihatan murung. Apa kamu sakit?" tanya Awan sesaat setelah Pelangi mengajarinya mengaji. Awan meletakkan telapak tangannya di dahi demi memastikan suhu tubuhnya.


"Aku baik-baik saja, Hubby. Cuma sedang memikirkan sesuatu."


"Kamu sedang Memikirkan apa?"


Pelangi menghela napas panjang. Wajahnya tampak semakin murung. "Aku kepikiran ayah."


Rasa khawatir tiba-tiba merasuk ke hati Awan. Dari Zidan, ia pernah mendengar bahwa sang ayah mertua memiliki riwayat jantung. "Apa ayah sakit?"


"Tidak, ayah baik-baik saja."


"Terus, apa ada masalah sama ayah?"


Pelangi mengangguk sebagai jawaban. "Hubby ingat dengan Rumah Tahfiz yang sekarang sedang dalam pembangunan?"


Ingatan Awan langsung tertuju pada beberapa waktu lalu, ketika Guntur datang dan mendeklarasikan akan menjadi donatur untuk pembangunan sebuah Rumah Tahfiz yang sedang dibangun. "Aku ingat."


"Kata ibu tanah di sebelah masjid yang akan dijadikan rumah Tahfiz itu mau dijual oleh anak mendiang pemiliknya. Aku takut ayah akan kepikiran dan jatuh sakit."


"Kok bisa? Bukannya itu tanah wakaf, ya?"


"Aku juga tidak tahu. Tadi siang ibu hubungi aku, katanya besok akan ada pertemuan penting di masjid untuk membahas pembebasan lahan itu. Kalau Hubby mengizinkan, besok pagi aku mau ke rumah bantu ibu masak untuk konsumsi."

__ADS_1


"Boleh, Sayang. Sekalian nanti aku antar sebelum berangkat kerja."


Pelangi menatap suaminya. "Memang tidak telat ke kantornya? Aku kan bisa minta Zidan jemput."


"Tidak, kok."


Senyum mengembang di bibir Pelangi. Kini Awan sangat perhatian terhadapnya. Ia bahkan tidak mengizinkan Pelangi melakukan aktivitas yang melelahkan.


"Pertemuannya jam berapa, Sayang?"


"Setelah shalat ashar."


"Nanti aku menyusul sepulang kerja, ya."


Pelangi kembali mengangguk. Ia tersenyum. Namun, kemudian kembali murung.


"Aku tidak yakin pertemuan itu akan mendapatkan hasil yang baik. Katanya, anak pemilik lahan itu mendesak meminta dana yang cukup besar sebagai pembebasan lahan. Sedangkan dana yang tersedia sekarang masih jauh dari kata cukup."


"Astaghfirullahalazim," ucap Awan dengan kepala menggeleng. Ia tak habis pikir dengan anak pemilik lahan yang ingin menjual tanah wakaf. "Memang mintanya berapa?"


"Satu setengah milyar," lirih Pelangi. "Aku juga punya tabungan buat tambah-tambah. Tapi itu juga tidak akan cukup."


Melihat Pelangi yang begitu sedih, Awan memeluknya. Mengusap rambut dan punggung.

__ADS_1


"Ya sudah Sayang, jangan sedih begitu. Semoga hasil pertemuannya nanti menghasilkan jalan keluar yang baik."


"Aamiin."


"Kamu yang sabar, ya."


............


Malam harinya ....


Pelangi kembali ke kamar setelah membersihkan meja makan dan mencuci piring bekas makan malam. Begitu memasuki kamar, Awan tampak sudah rapi dengan jaket dan sepatu. Pelangi menatap heran, suaminya seperti akan keluar.


"Mau ke mana, Hubby?" tanya Pelangi.


"Aku mau keluar sebentar ketemu teman. Katanya ada sesuatu yang penting mau dibicarakan dengan aku." Ia melirik arah jarum pendek pada arloji yang melingkar di tangannya. Waktu menunjukkan pukul delapan. "Tidak lama, kok. Satu jam lagi aku kembali. Kamu siap-siap, ya!" Ia mengedipkan sebelah matanya yang membuat Pelangi tersipu malu.


“Hati-hati di jalan, Hubby. Ini sudah malam.” 


“Iya, Sayang. Aku pergi, ya.” Awan mencium kening istrinya sebelum keluar kamar. 


Tadi saat di kantor, ia mendapat telepon dari sahabatnya, Ben. Pemilik tempat hiburan malam tempatnya dulu kerap menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. 


Mobil milik Awan melaju dengan kecepatan sedang. Beberapa kali ia melirik kendaraan di belakang melalui kaca spion.

__ADS_1


Entah mengapa ia merasa sedang diikuti.


...........


__ADS_2