
“Apa, berniat mencelakai suamiku?” Pancaran penuh kemarahan dari sepasang netra Pelangi membuat Guntur tersadar. Dia yang masih duduk bersimpuh di hadapan umi dan abah tak berani lagi mengangkat kepala hanya untuk menatap Pelangi.
Sama halnya Guntur, Umi dan abah pun sangat terkejut dan malu. Sementara Awan tampak biasa saja. Sebab ini bukanlah kali pertama Guntur berniat mencelakainya.
“Apa maksud kamu, Guntur?” Gemetar suara abah mengucapkan pertanyaan itu.
“Iya, Abah!” sambar Pelangi. “Dan ini bukan pertama kalinya Kak Guntur berusaha mencelakai suami saya!”
"Apakah yang dikatakan Pelangi benar, Guntur?" tanya abah, namun Guntur seolah tak kuasa untuk menjawab.
Melihat reaksi Pelangi yang meluapkan kemarahannya setelah pengakuan Guntur, Awan pun berusaha meredam. Selama ini Pelangi adalah sosok penyabar dan lembut dalam bertutur. Bahkan ia selalu berusaha bersabar saat Awan dalam keadaan marah.
“Sayang, sabar!” bisik Awan memeluk istrinya.
“Tidak, Hubby! Ini sudah keterlaluan. Sebelumnya dia sudah pernah mencoba melukai kamu dengan mengirim orang untuk mengeroyok, lalu menyebar fitnah tentang kamu dan hari ini dia mengulanginya lagi. Kedepannya dia bisa saja mencoba mencelakai kamu lagi, kan?”
“Sabar, Sayang. Anggap dia sedang khilaf.” Ia mendekap tubuh istrinya erat.
Informasi yang ditangkap indera pendengarannya membuat Umi mengusap dadanya naik turun. Wajahnya yang merah mendadak berubah pucat. Cairan bening yang sejak tadi berusaha ditahan akhirnya meleleh juga.
“Astaghfirullah, Guntur! Kenapa kamu jadi sejahat ini, Nak!”
Sama seperti umi, Abah pun tak kuasa membendung kekecewaan. Guntur yang dipikirnya telah banyak kemajuan nyatanya tak sesuai harapan. Pria setengah abad itu menatap marah pada putranya yang masih duduk bersimpuh. Tangannya mencengkram kerah kemeja itu dan memaksanya berdiri. Dua tamparan keras pun ia layangkan ke wajah itu.
__ADS_1
“Setan apa yang sudah merasuki jiwa kamu sampai tega melakukan kejahatan seperti ini?” Teriakan abah menggema ke setiap sudut lorong rumah sakit. Sedangkan Guntur memilih diam dan pasrah menerima hukuman apapun yang diberikan abah. “Apa kamu tidak tahu akibat dari perbuatan kamu ini?”
"Saya khilaf, Abah. Maafkan saya," lirih Guntur dengan nada gemetar.
"Minta maaf? Setelah semua perbuatan buruk kamu, apa kamu masih merasa layak untuk meminta maaf?"
Tatapan Pelangi kembali mengarah kepada umi dan abah. “Maafkan saya Umi, Abah, tapi saya akan melaporkan ini kepada pihak yang berwajib.”
Mata Guntur terpejam. Ia sudah pasrah jika saja Awan ataupun Pelangi ingin melaporkan dirinya.
Umi menjatuhkan tubuhnya di kursi. Isak tangis memilukan memenuhi ruangan itu. “Nak Pelangi, umi pasrah dan tidak akan keberatan kalau kamu mau melaporkan Guntur. Perbuatannya memang tidak bisa dimaklumi lagi.”
"Maafkan saya, Umi. Tapi Kak Guntur sudah berkali-kali mencoba mencelakai suami saya." Pelangi merebahkan tubuhnya dalam pelukan sang suami.
"Ini bukan tentang bisa memaafkan atau tidak, Hubby. Ini tentang keselamatan kamu."
"Aku tahu." Awan menuntun Pelangi untuk duduk kembali. Pria itu berjongkok di hadapan sang istri. Satu tangannya menggenggam jemari Pelangi dan tangan satunya terulur membelai puncak kepala, lalu mengusap pipinya yang basah oleh air mata. “Kamu istighfar dulu.”
Pelangi seketika tersadar dari amarah yang menguasai hatinya. Ia menarik napas dalam-dalam demi mengurai sesak di dadanya.
“Astaghfirullahaladzim.”
Awan terdiam seolah memberi jeda bagi Pelangi untuk menetralkan perasaannya. Sudut bibirnya membentuk senyum tipis kala menatap istrinya sudah mulai tenang.
__ADS_1
"Dengar aku!"
Bibir Pelangi terkatup rapat. Cairan bening meleleh di pipi memikirkan sahabatnya yang sedang berjuang untuk hidup.
"Aku tahu kamu marah dan kecewa. Aku juga merasakannya. Tapi hari ini Maryam mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan kita, dan dia melakukan itu untuk melindungi suaminya dari jeratan hukum dan dosa. Kita anggap saja Maryam sudah menebus semuanya. Kamu mau pengorbanan Maryam sia-sia?"
Selama beberapa saat suasana hening mendominasi, semua larut dalam kesedihan yang sama.
...........
Maryam masih terbaring tak sadarkan diri dengan tubuh terbalut perban di beberapa bagian, ketika Guntur masuk ke ruangan itu.
Guntur menggenggam jemari sang istri. Matanya berkaca-kaca menatap wajah pucat itu. Entah akan sesedih apa Maryam nanti jika mengetahui janin dalam kandungannya tak dapat diselamatkan.
"Maafkan aku, Maryam! Aku mohon bangunlah. Aku janji akan berubah untuk kamu. Aku akan memperbaiki semua kesalahanku. Aku janji akan berjuang untuk sembuh," ucapnya penuh harap.
Namun, hening masih tercipta. Tak ada respon sedikitpun dari Maryam. Hingga terdengar suara alat pendeteksi detak jantung yang berbunyi lama.
"Maryam!"
Beberapa detik kemudian, ruangan itu dipenuhi isak tangis.
...........
__ADS_1