Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Extra Part - Kedatangan Maryam


__ADS_3

"Kok diam sih? Kamu bakalan kabur dari rumah juga, ya?"


Pelangi terkekeh melihat wajah Awan yang mulai merengut.


"Hubby ... jodoh, rezeki dan maut sudah ditetapkan oleh Allah. Kabur kemana pun tidak akan ada artinya. Sama halnya dengan pacaran. Bertahun-tahun pun menjalin hubungan kalau bukan jodohnya tetap akan terpisah."


Lagi-lagi, Awan menarik napas panjang.


Kok kesindir melulu ya? Heran gue!


Awan manggut-manggut. Perkataan Pelangi memang benar.


"Lalu apa rencana ibu tentang Tania?" tanya Pelangi masih penasaran.


"Paling cuma mengawasi Tania di sini dan berusaha kasih pengertian. Biar tidak kabur lagi. Repot soalnya."


Pelangi mencebik. "Hubby, Tidak baik menganggap saudara sendiri beban."


"Maaf, Hunny. Kamu akan paham apa maksudku ketika kamu bertemu dengannya."


Alis pelangi pun hampir bertaut. "Apa maksudnya?


"Ya begitulah, Tania itu agak barbar, bandel dan ...." Awan menjeda kata. Pelangi yang melihat gelagat suaminya seperti itu pun menatap penuh tanya.


Kendatipun demikian dia bisa mengerti maknanya. "Tidak apa-apa, Hubby. Tidak bisa menghakimi seseorang. Apa lagi anak seumur Tania pasti lebih besar ego ketimbang akal sehat."


"Maka dari itu aku mau minta tolong sama kamu, ajak dia ikut pengajian. Siapa tahu dia mengerti dan berubah."


"Insyaa Allah, Hubby. Kebetulan Minggu ini aku ada pengajian sama ibu. Nanti aku ajak Tania sekalian."

__ADS_1


Awan meraih tangan sang istri dan menciumnya. "Makasih, Sayang. Istriku yang cantik ini memang berhati lembut seperti bidadari."


Pelangi mengulas senyum menyadari suaminya sekarang yang lebih peduli, lebih paham dan yang tidak kalah penting, Awan bisa menjaga hati istrinya.


.


.


Di butik


Seperti perkiraan Pelangi saat di rumah tadi, suasana memang agak ramai ketika ia tiba. Pelangi pun lumayan sibuk dibuatnya. Beruntung ia memiliki pegawai yang cepat, tanggap dan mengerti hingga tidak harus mengerjakan semua.


"Mbak Pelangi ada tamu di depan," ucap April, salah satu karyawatinya.


Pelangi yang sedang mengecek beberapa pesanan pun membalik diri, lalu melihat ke arah depan.


"Siapa, Pril?"


"Maryam?" Senyum mengembang di bibir Pelangi kala mendengar nama itu. Tanpa menunggu ia bergegas ke ruang tamu.


Tidak jauh darinya Maryam melempar senyum. "Assalamu'alaikum, Pelangi."


"Wa'alaikumsalam, Maryam." Pelangi menyambut hangat sahabat bak saudarinya itu dengan pelukan hangat. Keduanya saling melepas rindu.


"April, tolong buat teh hangat untuk Maryam, ya," pinta Pelangi.


"Tidak usah, Pelangi. Jangan repot-repot."


"Tidak apa-apa, Mar," balas Pelangi kembali memeluk Maryam.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Pelangi. Mengingat beberapa hari lalu Maryam sempat Kabir dari rumah Guntur.


"Alhamdulillah. Kalau kamu bagaimana? Kandungan kamu sehat?" balas Maryam kala matanya menatap perut Pelangi yang tertutup gamis berwarna nude.


"Alhamdulillah, sehat." Pelangi pun menuntun Maryam. Keduanya duduk di sofa yang ada di sudut butik, tidak lama setelahnya, April datang dengan dua cangkir teh pesanan Pelangi.


"Butikmu lagi ramai, Pelangi," tutur Maryam yang terlihat anggun dengan gamis berwarna krem.


"Alhamdulillah. Lagi banyak pesanan."


"Alhamdulillah," ucap Maryam. "Aku kebetulan lewat, jadi sekalian mampir. Aku mau memberi kabar bahagia," ujar Maryam dengan pipi kemerah-merahan.


"Kabar bahagia?" ulang Pelangi, alisnya yang tebal mengernyit heran.


"Iya. Alhamdulillah, Pelangi. Mas Guntur nyusul aku dan meminta maaf. Dia berjanji akan berubah dan bertaubat. Oh iya, kami akan meresmikan pernikahan, dan setelah itu mungkin kembali ke Malaysia. Mas Guntur berjanji akan berusaha semaksimal mungkin untuk sembuh."


Pelangi ikut merasakan kebahagiaan Maryam.


Meskipun agak terkejut dengan rencana kepergian Maryam, namun turut merasakan kebahagiaan sahabatnya itu. Terlebih, niat Guntur untuk memperbaiki diri dan menyembuhkan penyakit skyzofrenia yang diidapnya.


"Aku ikut bahagia untuk kamu."


"Itu Mas Guntur sendiri yang minta. Semoga jalan kami dipermudah. Aku akan mendampingi dia. Doain aku, Pelangi."


Pelangi kembali tersenyum, ia genggam tangan Maryam. "Insyaa Allah. Akan ada jalan jika Allah sudah berkehendak. Kamu sama Kak Guntur harus terus berusaha."


"Terima kasih, Pelangi. Kamu adalah sahabat terbaikku. Aku minta maaf untuk semua kesalahan Mas Guntur yang pernah berniat mencelakai suami kamu."


"Tidak ada manusia yang luput dari khilaf, Maryam. Aku yakin kamu bisa mendampingi Kak Guntur untuk menuju jalan kebaikan."

__ADS_1


Maryam mengaminkan ucapan Pelangi.


..........


__ADS_2