Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Aku sedih


__ADS_3

Mobil milik Awan terparkir di halaman sebuah kafe. Sebelum menjemput Pelangi, ia akan memenuhi janji temu dengan seseorang untuk membicarakan proyek pembangunan yang sedang berjalan. 


Pintu kaca otomatis itu terbuka lebar saat Awan mendekat. Pandangannya berkeliling hingga menemukan sosok yang tengah duduk santai di sudut ruangan dengan segelas jus alpukat dan sebuah laptop di hadapannya. 


“Assalamu’alaikum,” ucap Awan menyapa. 


Sosok yang masih duduk itu mendongakkan kepala dan langsung melicinkan rok span selutut yang dikenakannya. Berdiri dari duduknya dan tersenyum tipis. Intuisinya memerintahkan untuk tidak mengulurkan tangan, karena sudah pasti pria yang baru saja menyapanya itu tidak akan menyambut uluran tangannya. “Wa’alaikumsalam,” jawabnya sedikit gugup. 


“Maaf membuat menunggu. Aku terjebak macet.” 


“Tidak apa-apa. Silahkan duduk!” 


Awan menarik kursi dan duduk di hadapan wanita itu, agak berjarak, namun tetap nyaman untuk membicarakan urusan pekerjaan. 


“Bagaimana keadaan kamu setelah kecelakaan itu?” Ramah wanita itu membuka pembicaraan.


“Alhamdulillah, sudah lebih baik,” jawab Awan. “Jadi apa yang mau kita bahas?” 


“Oh iya. Maaf sudah mengganggu waktu kamu. Tapi aku perlu bicara tentang pembangunan hotel.” 


“Tidak apa-apa. Apa yang bisa kubantu, Pris?” 


Sikap gugup masih terlihat jelas pada Priska, meskipun sudah berusaha bersikap senormal mungkin.


“Ini tentang lantai teratas yang tadinya mau aku jadikan suite room. Tapi, aku berubah pikiran. Aku rasa itu akan kujadikan penthouse saja. Bagaimana menurut kamu?” 


“Ide bagus, sih,” sahut Awan santai. 

__ADS_1


“Untuk desain interiornya aku akan percayakan kepada kamu.” 


Awan mengangguk setuju. 


Satu jam lebih mereka habiskan untuk membicarakan tentang proyek tersebut. Priska merasakan perubahan yang sangat besar dalam diri mantan kekasihnya itu. Awan memang masih ramah, tetapi sikapnya datar cenderung dingin. 


“Bagaimana kabar istrimu?” Akhirnya pembahasan tentang pekerjaan beralih pada masalah pribadi. 


Awan tersenyum. “Alhamdulillah, dia baik.” 


Priska mengangguk dengan senyuman tipis. “Syukurlah. Sudah isi?” Sebuah pertanyaan yang menciptakan kerutan tipis di alis tebal Awan. 


“Isi? Maksudnya isi apa, ya?” 


Kekehan kecil terdengar dari bibir Priska. Tak dapat dipungkiri ia begitu merindui wajah Awan yang terkadang terlihat polos saat dalam keadaan bingung. “Maksud aku, apa Pelangi sudah hamil?” 


Lagi usaha gue! tambahnya dalam batin.


“Semoga kalian cepat dapat momongan.” 


“Aamiin. Makasih, Pris,” balas Awan. "Kamu juga, semoga bertemu jodoh yang baik."


Priska menarik gelas jus dan menempelkan bibirnya pada ujung sedotan. Sesekali ia melirik Awan yang sejak datang terus menundukkan pandangan dan terfokus pada gambar di layar laptop.


"Aku berharap pembangunannya cepat selesai. Setelah proyek ini, mungkin aku akan pindah ke Jerman." Sorot mata Priska mengarah kepada Awan setelah menyelesaikan kalimatnya. Menunggu akan seperti apa reaksi sang mantan. Namun, yang ia dapati malah mengecewakannya, karena Awan tampak biasa saja.


"Insyaa Allah, timku akan bekerja lebih keras lagi."

__ADS_1


"Baiklah, aku percayakan semuanya ke kamu."


"Kamu bahkan tidak menanyakan kenapa aku mau pergi," gumamnya dalam hati.


Suara adzan berkumandang menjadi pemutus pembicaraan panjang itu. Awan melirik angka yang ditunjuk oleh jarum pendek arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia terdiam beberapa saat, menunggu hingga adzan selesai. 


“Sudah waktu shalat ashar. Kamu masih ada sesuatu yang perlu disampaikan?” 


“Tidak ada lagi. Terima kasih sudah meluangkan waktu.” 


“Sama-sama. Maaf ya, aku duluan.” 


Tanpa sadar Priska mengulurkan tangan untuk menjabat. Namun, Awan dengan cepat mengatupkan tangan di depan dada, membuat Priska menunduk dengan wajah memerah. "Maaf."


“Tidak apa. Assalamu’alaikum.” 


“Wa'alaikumsalam. Emh, titip salam untuk Pelangi, ya.” 


Awan menerbitkan senyum tipis diiringi anggukan kepala. "Nanti aku sampaikan. Sampai jumpa."


Pria itu beranjak meninggalkan Priska. Keluar dari kafe menuju sebuah masjid yang terletak tepat di sisi kanan bangunan berdinding kaca tersebut, tak menyadari keberadaan seseorang yang sedari tadi memperhatikannya dari kejauhan.


Sementara Priska masih terpaku di tempat duduknya, menatap punggung lelaki yang pernah merajai hatinya tanpa menyisakan ruang kosong. Tak terasa cairan bening itu lolos melihat Awan tengah menyucikan diri dengan air wudhu dan kemudian masuk ke masjid. 


“Awan ... Aku sedih karena aku tidak ada artinya lagi bagimu. Bahkan tidak sekali pun kamu mau memandangku. Tapi, aku ikut senang melihatmu berubah menjadi lebih baik. Semoga kamu selalu bahagia.” 


............

__ADS_1


__ADS_2