
Awan beranjak keluar dari masjid selepas menjalankan shalat ashar. Duduk di teras dengan bersandar pada sebuah pilar besar dan mengenakan sepatu.
Di saat yang sama beberapa ibu-ibu tetangga melintas. Awalnya, segala sesuatunya tampak biasa saja, hingga samar-samar Awan mendengar nama istrinya disebut dalam perbincangan mereka.
“Aku masih kepikiran Pelangi loh, Bu. Kasihan dia,” ucap salah seorang di antaranya.
“Iya. Padahal kalau dilihat-lihat, suaminya Pelangi itu baik dan sopan orangnya. Ternyata di belakang Pelangi kelakuannya seperti itu.” Nada prihatin terdengar dari mereka. Membuat Awan yang duduk di balik pilar menarik napas dalam.
Memang gue kenapa?
"Aku ikut prihatin, Bu Mai sama Pak Ahmad punya salah apa sampai dapat mantu begitu?"
"Yang lebih kasihan itu Pelangi, Bu. Suaminya sudah peminum, suka berantem, malah selingkuh lagi dengan perempuan lain. Lihat kan tadi, mukanya Pelangi langsung pucat begitu melihat foto-foto suaminya."
Mata Awan membeliak mendengar pembicaraan itu. Sendi-sendinya mendadak terasa lemas. Ada banyak tanda tanya memenuhi benaknya. Disusul dengan perasaan takut yang tiba-tiba muncul.
Foto apa maksudnya? Apa jangan-jangan semalam gue dijebak seseorang?
Awan belum mampu mengurai benang kusut di otaknya, hingga para tetangganya itu memasuki masjid. Tak ingin mengulur waktu, pria itu pun bergegas pulang dan berjalan dengan tergesa-gesa untuk segera tiba di rumah.
Jika ia tak segera meluruskan masalahnya, mungkin akan terjadi kesalahpahaman besar lagi antara dirinya dengan sang istri dan mertua, seperti beberapa waktu lalu. Dan tidak ingin kejadian seperti itu terulang lagi.
“Bagaimana kalau Pelangi marah karena foto itu?”
Dari jarak tak begitu jauh, terlihat sebuah mobil sedan yang terparkir di depan rumah. Awan mendengus kesal, menyadari siapa pemilik kendaraan super mewah tersebut. Kaki panjangnya pun melangkah lebih cepat.
Baru saja memasuki halaman rumah, Pelangi sudah menyambut dengan senyum teduhnya. Awan terheran, sebab ia yakin Pelangi akan langsung mencecarnya dengan sejumlah pertanyaan menuntut.
"Assalamu'alaikum," ucapnya ragu.
"Wa'alaikumsalam." Pelangi langsung mendekat pada sang suami dan mencium punggung tangannya.
“Hunny, tadi aku dengar omongan tetangga, katanya ada yang kirim foto aku sedang minum dan berkelahi. Aku bisa jelaskan semuanya, tolong jangan salah paham dulu!”
__ADS_1
“Aku tahu, Hubby! Kita bicara di kamar saja, ya.”
Senyum yang terlukis di bibir Pelangi tak lantas membuat Awan merasa lega. Ia menatap istrinya seolah tak sabar untuk menjelaskan kejadian semalam.
“Aku benar-benar tidak melakukan seperti yang mereka tuduhkan, demi Allah!”
Pelangi membalas tatapan suaminya.
“Hubby, bukankah sebelumnya aku sudah katakan bahwa dalam perjalanan hijrahmu akan ada banyak ujian?”
Awan menganggukkan kepala. Masih lekat dalam ingatannya ucapan Pelangi beberapa waktu lalu. "Aku ingat, tapi ...."
"Maka itu tetaplah berprasangka baik kepada Allah. Jangan mudah terpancing fitnah. Ayo, kita ke dalam."
Pelangi merangkul lengan suaminya memasuki rumah melalui pintu samping. Karena di ruang tamu ada Guntur yang sedang mengobrol dengan ayah dan Zidan.
Sementara di ruang tamu,
“Sebelumnya maaf, Ayah. Bukan saya bermaksud lancang atau menuduh yang bukan-bukan. Tapi ... saya tahu persis berapa gaji semua bawahan saya perbulannya. Dan melihat posisi suami Pelangi sekarang, rasanya tidak mungkin jika dia memiliki dana sebanyak itu.”
Ayah Ahmad dan Zidan langsung saling tatap. Zidan memberi isyarat kepada ayah agar tetap tenang.
Tanpa mereka sadari, Awan dan Pelangi yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan itu, saat akan menuju kamar.
Tubuh Pelangi terasa meremang menyadari kemarahan yang tertahan di wajah suaminya. Tangannya terkepal kuat hingga urat-urat di tangan terlihat menonjol. Awan akan langsung melangkah masuk, namun Pelangi dengan cepat memeluk pinggangnya.
“Hunny, dia sudah menuduh aku yang bukan-bukan,” bisik Awan tak terima dengan tuduhan keji sang bos.
“Aku percaya kamu, Hubby! Apa itu saja tidak cukup?”
Awan menatap Guntur dari balik tirai dengan sinar mata tajam. Beberapa kali ia mengucap istighfar dalam hati demi meredam amarahnya.
Engkau mengirimnya untuk mengujiku kan, Ya Rabb?
__ADS_1
"Kita ke kamar saja, ya," ajak Pelangi.
Mau tak mau, Awan mengikuti istrinya. Ia pasrah ketika Pelangi menggandengnya menuju kamar.
_
_
"Maaf, Nak Guntur. Bukan ayah mau membela Nak Awan." Ayah segera menyela, sebelum Guntur mengucapkan sesuatu yang lain. "Tapi apa maksud Nak Guntur berkata seperti itu?"
"Begini, Ayah. Dia bekerja di perusahaan saya. Jabatannya memang lumayan tinggi dan selalu menjadi pimpinan untuk proyek-proyek besar. Tapi dilihat dari gaya hidupnya yang setahu saya suka hura-hura, sangat tidak mungkin dia memiliki dana sebanyak itu."
Zidan yang mengerti arah pembicaraan Guntur langsung menyela. "Maksud Kak Guntur, Kak Awan ada indikasi korupsi?"
Guntur terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya berkata, "Maaf, kalau ini salah. Tapi bukankah kita wajib menanyakan asal-usul dana tersebut? Saya juga tidak mau menuduh sembarangan."
Zidan tersenyum. "Ayah, Kak Guntur benar. Kak Awan memang tidak punya dana sebanyak itu dari gaji bekerja di perusahaan Kak Guntur."
Guntur mengangguk setuju dengan penuh keyakinan.
"Tapi Kalau dilihat dari latar belakang Kak Awan, memiliki dana sebanyak itu sangat mungkin."
"Maksudnya?" tanya Guntur penasaran.
"Kak Awan adalah anak bungsu dari Om Fery Dewanto. Mungkin Kakak pernah dengar nama itu?"
Pikiran Guntur melayang. Menjelajah memikirkan nama yang baru saja disebut Zidan. Tentu saja ia sangat tahu nama itu. Salah satu pemilik perusahaan besar yang memiliki beberapa cabang di dalam dan luar negeri.
Tanpa dapat dikendalikan, wajahnya berubah pucat. Ia pun berusaha mengingat nama lengkap bawahannya itu.
Awan Wisnu Dewanto.
............
__ADS_1