Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Kena Sawan!


__ADS_3

Pelangi sedang membuat segelas susu untuk Awan ketika Zidan tiba-tiba muncul di belakangnya.


"Kak Awan bagaimana?" tanyanya.


"Alhamdulillah, lebih baik," jawabnya sambil tersenyum. "Terima kasih sudah mau menerima suami kakak untuk tinggal di rumah ini."


"Kakak ini bicara apa sih?" Zidan menggeser sebuah buku ke atas meja. "Titip ini buat Kak Awan, ya."


Pelangi melirik buku yang baru saja diletakkan Zidan. Sebuah buku berisi panduan shalat lengkap.


"Tapi jangan bilang bukunya dari aku. Takut Kak Awan tersinggung. Bilang saja kakak mau belajar sama-sama."


"Terima kasih, Dek."


............


Awan duduk bersandar di tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Baru saja diaktifkan, sudah banyak pemberitahuan panggilan tak terjawab dan juga pesan dari nomor asing. 


Seperti hari-hari sebelumya, Awan sudah mampu menebak. Ia membuka beberapa pesan masuk dari nomor asing, yang kemudian ia ketahui berasal dari Priska. Bahkan ada beberapa foto kebersamaan mereka di masa lalu yang sengaja dikirim melalui pesan bergambar.


"Mau apa lagi sih?"


Awan mendengus frustrasi, entah sudah berapa kali harus memblokir nomor asing yang kerap menghubunginya. Rupanya mantan kekasihnya itu masih mengharapkannya, walaupun Awan sudah menegaskan beberapa kali bahwa ia ingin memulai segalanya dengan Pelangi.


“Lupakan aku, Pris. Semua sudah berlalu. Semoga kamu mendapatkan jodoh yang lebih  baik dari aku. Maaf, sudah membuat kamu kecewa.” Isi pesan yang dikirim Awan, sebelum akhirnya kembali memblokir nomor tersebut. 


Ia juga menghapus beberapa foto kebersamaannya dengan Priska. Karena akan menjadi masalah baru jika nanti Pelangi menemukannya.

__ADS_1


“Kayaknya gue harus cepat ganti nomor.” Pria itu mematikan ponsel, ia pikir harus segera mengganti nomor telepon, karena sepertinya Priska masih belum bisa merelakannya bersama wanita lain.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka, disusul kemunculan Pelangi dari balik pintu dengan membawa segelas susu dan sebuah buku di tangannya.


Waktu seakan terhenti ketika keduanya saling menatap dalam keheningan. Awan bahkan tak kuasa memalingkan pandangannya dari wajah sang istri. Untuk kedua kalinya, ia melihat Pelangi tanpa khimar. 


Pelangi menutup pintu kamar dan membuka jubah piyama yang membalut tubuhnya. Hingga menyisakan piyama dress berbahan satin yang menampakkan lekukan tubuhnya. 


Awan semakin berdebar. Satu hal yang terlintas dalam benaknya, ada kecantikan alami yang selama ini tersembunyi di balik pakaian tertutup dan khimar. Awan pun menyadari keberuntungannya, karena hanya dirinya yang dapat menikmati keindahan itu.


Pelangi menundukkan pandangan saat menyadari Awan menatapnya tanpa berkedip. Mendadak wajahnya bersemu merah.


"Ke mari sebentar!" Awan mengulurkan tangan.


Pelangi mendekat, meletakkan gelas susu dan buku ke atas meja dan menyambut uluran tangan sang suami.


"Buku panduan shalat. Aku mau belajar lebih baik lagi," jawab Pelangi.


"Kamu juga masih butuh belajar?" ucapnya tak percaya. Sebab setahunya, Pelangi adalah wanita yang sangat taat dan mengerti tentang shalat.


"Tidak ada kata cukup untuk belajar, Mas. Kita akan belajar sama-sama, ya."


Awan meraih buku panduan yang diletakkan Pelangi dan melihat lembar pertama. "Boleh aku pinjam bukunya?"


"Boleh, Mas."


Awan lalu menarik Pelangi hingga duduk di sisinya. Dengan lembut ia membelai rambut dan wajah istrinya. Sangat halus dan lembut. Rasa bersalah seketika merasuk ke hatinya, mengingat semua perkataan yang pernah terlontar.

__ADS_1


"Maaf, aku pernah menolak kamu dengan perkataan yang terlalu menyakitkan."


Pelangi mengangguk. "Tidak apa-apa. Tapi ... sekarang Mas sudah berselera dengan wanita seperti aku?"


"Sangat!" jawabnya. "Bukan hanya karena keindahannya, tapi dari cara kamu menjaga dan merawatnya."


"Hanya seorang suami yang berhak untuk menikmati keindahan istrinya," balas Pelangi.


Awan tersenyum. "Sayangnya kakiku belum mendukung. Kalau tidak, mungkin kamu harus bersiap. Selain itu, aku masih harus memantaskan diri untuk kamu."


Semakin merah saja pipi Pelangi. Awan mendekatkan wajahnya hingga menyisakan jarak satu ruas jari. Hal yang membuat Pelangi semakin berdebar dan refleks memejamkan matanya.


Meskipun pencahayaan kamar redup karena hanya lampu tidur yang menyala, namun Awan dapat melihat wajah Pelangi yang memerah.


Awan baru saja mencium bibirnya dengan gerakan yang lembut.


...........


Awan menatap langit-langit kamar. Sudah hampir dua jam berbaring, namun belum juga tertidur.


Kala Pelangi telah terbuai dalam mimpi indahnya, justru Awan belum dapat memejamkan matanya.


Apa lagi, saat tanpa sadar Pelangi bersandar di dadanya dan memeluknya seperti bantal guling, yang membuat jantungnya semakin berdebar.


“Lama-lama bisa kena sawan gue.” 


............

__ADS_1


__ADS_2