Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Ngajak Ribut!


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, senyum tak pernah memudar di wajah Awan. Sesekali ia menciumi punggung tangan istrinya untuk menyalurkan rasa cinta. Ini adalah hari paling membahagiakan baginya.


“Sayang, aku antar kamu pulang dulu, terus balik ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Kamu tidak apa-apa, kan?” tanya Awan.


“Kalau begitu, aku ke rumah ibu saja. Apa boleh?” Mengingat rumah orang tuanya tak jauh dari lokasi mereka sekarang, Pelangi tiba-tiba ingin berkunjung.


“Boleh, Sayang. Nanti pulang kantor aku jemput lagi.” 


Pelangi mengangguk penuh semangat. Seperti tak sabar lagi untuk memberitahu kabar bahagia tentang kehamilannya. Ayah dan ibu pasti akan sangat senang, apa lagi janin dalam kandungannya adalah cucu pertama di kedua pihak keluarga. 


Kurang dari lima belas menit, mereka telah tiba di rumah Ayah Ahmad. 


Berita kehamilan Pelangi pun disambut dengan bahagia oleh Ibu Humairah. Kebetulan hari itu sang mertua juga sedang berada di sana, setelah mengikuti pengajian bersama besannya. 


"Alhamdulillah, selamat Awan, Pelangi. Sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua," ucap Bu Humairah penuh suka cita.


“Alhamdulilah, Bu.” 


Sama halnya Bu Humairah, Bu Sofie juga sangat antusias. Cucu pertama di keluarga Dewanto akan segera hadir di tengah mereka.

__ADS_1


“Alhamdulillah. Ayah pasti senang dengar kabar ini. Pelangi, kamu jangan beraktivitas yang berat. Hamil muda itu harus dijaga.”


"Insyaa Allah, Bu."


Wanita paruh baya itu kemudian melirik putranya yang sedang duduk bersama Zidan di sudut sofa lain. “Awan, kamu harus cepat cari ART. Kasihan Pelangi kalau masak dan bersih-bersih dikerjakan sendirian.” 


"Minta Bik Minah ajalah, Bu," jawabnya enteng. "Bik Minah kan sudah lama ikut Ibu." Awan memang tak begitu menyukai kehadiran orang lain di rumahnya, meminta Bik Minah mungkin menjadi pilihan terbaik. Lagi pula, Bik Minah sudah dikenal Awan sejak kecil.


"Nanti ibu sama siapa kalau Bik Minah diambil sama kalian?" balas wanita itu seolah tak rela.


“Tidak apa-apa, Bu. Saya masih bisa mengerjakan semua sendiri. Lagi pula di rumah tidak ada pekerjaan yang berat-berat,” ucap Pelangi menengahi perdebatan sang suami dan mertuanya.


Pelangi mengulas senyum tipis mendengar kalimat panjang sang mertua. Ia belum membicarakan lagi dengan suaminya perihal rencana keluar kota. Tadinya, ia akan ikut. Namun, mengingat dirinya dalam keadaan hamil muda, mungkin rencana akan berubah.


"Iya, Bu. Nanti saya bicarakan lagi dengan Mas Awan."


"Selamat ya, Kak Pelangi, Kak Awan. Semoga segalanya dimudahkan," ucap Zidan yang sejak tadi hanya menjadi pendengar.


"Aamiin. Makasih, Dek!" balas Awan.

__ADS_1


Obrolan hangat pun berlanjut. Bu Sofie menceritakan tentang keponakannya yang akan tiba dari luar kota.


"Oh ya, Zidan sudah punya pacar belum sih?" tanya Bu Sofie seolah sedang menggoda pemuda itu.


Mendadak Zidan tersedak teh manis yang baru saja ditenggaknya hingga terbatuk-batuk, membuat Awan terkekeh. Ekspresi adik iparnya itu sangat lucu saat sedang malu-malu.


"Makanya jangan kelamaan jomblo, Dek!" celetuk Awan ikut menggoda.


Zidan meraih selembar tissue dan mengusap bibirnya yang basah. Lalu, menatap kakak iparnya.


"Buat apa pacaran, Kak? Ada yang pacaran selama bertahun-tahun tapi tidak jodoh juga." Jawaban Zidan membuat Awan menarik napas dalam. Lalu menatap pemuda itu dengan bibir mengerucut.


Lo sengaja nyindir gue?


"Dari pada jadi jomblo nelangsa," gumamnya pelan, namun masih dapat dijangkau indera pendengaran Zidan.


"Lebih baik mana, jadi jomblo nelangsa apa menabung dosa setiap hari dengan pacaran?" Sebuah pertanyaan jebakan yang membuat Awan menarik dalam.


Ngajak ribut ini bocah!

__ADS_1


...........


__ADS_2