Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Sakina, Mawaddah, Wa Rahma


__ADS_3

Awan tampak belum mampu mengurai kemarahan yang meletup-letup dalam hatinya. Jika saja tadi tidak dicegah Pelangi, ia pasti sudah menghujani Guntur dengan kepalan tinjunya yang keras. 


Menyadari itu, Pelangi membawa Awan untuk duduk di tepi ranjang. Tangannya membelai wajah ketus itu dengan lembut.


“Masih marah, ya?” 


Awan hanya memberi jawaban dengan anggukan.


Bahkan tadi saat Pelangi memintanya untuk wudhu dan membaca doa istiadzah, nyatanya tak cukup untuk menghilangkan amarahnya. Perbuatan Guntur dinilainya sudah melewati batas normal. 


Semalam dia berniat mencelakai gue dengan mengirim beberapa preman kampung, dan sekarang berusaha menyebarkan fitnah ke orang-orang.


Awan menghela napas panjang demi melegakan rasa sesak dalam dadanya. 


“Aku hanya manusia biasa, Hunny!”


Mendengar ucapan Awan, Pelangi pun tersadar untuk tidak memaksakan suaminya. Ia tahu sangat tidak mudah bagi Awan untuk bisa menahan diri.


“Ya sudah, Hubby. Kita ngobrolnya sambil baring yuk.” 


Awan terpaksa mengangguk dengan wajah masih menekuk.


Pelangi membenahi bantal, sehingga Awan dapat berbaring di sana. Wanita itu kemudian bangkit untuk mengunci pintu kamar dan membuka Khimarnya, lalu ikut berbaring.


Tangannya melingkar dengan erat pada tubuh kokoh itu. Dada bidang suaminya dijadikan bantal, sehingga ia dapat mendengar debaran jantungnya yang cepat. 

__ADS_1


Dia masih dalam keadaan marah. 


“Hubby ...,” panggil Pelangi lembut. 


“Hemm!” 


"Maukah ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?"


Ada sedikit keraguan pada Awan untuk menjawab. Akankah Pelangi percaya dengannya? Walau bagaimanapun, Guntur adalah tetangga lamanya. Ayah dan Zidan juga sangat dekat dan menyukai pria Timur Tengah itu.


Siapa gue yang baru masuk ke keluarga ini?


Gue cuma brandalan yang baru tobat, sedangkan dia ... ilmu agamanya tinggi dan kenal lama dengan keluarga ini. Sampai lidah gue bonyok untuk ngomong, nggak ada yang akan percaya.


"Hubby kan belum bercerita apapun. Bagaimana tahu aku akan percaya atau tidak."


Karena Awan tak kunjung membalikkan badannya, Pelangi memilih memeluknya dari belakang. Tangannya bergerak mengusap dada.


"Mana yang akan dipercaya, ucapan orang yang alim atau pendosa?"


"Apakah Hubby merasa sebagai seorang pendosa?"


Kesal, Awan menggigit bantal guling yang dipeluknya.


Lo aja sadar gue pendosa, apalagi mereka!

__ADS_1


"Iyalah. Dulu aku sering berbuat maksiat. Mabuk-mabukan hampir setiap hari, memukuli siapapun yang berani cari masalah sama aku."


Kalau nggak lo halangi tadi, gue bikin patah tulang tuh Bandar Korma!


Pelangi semakin mengeratkan pelukannya. "Apa Hubby menyesal pernah perbuat seperti itu?"


"Sangat!"


"Artinya Allah sudah meniupkan hidayah ke dalam hatimu," bujuk Pelangi dengan lembut.


"Tapi siapa yang akan percaya pada ucapanku? Kamu pun tidak akan percaya dan akan bilang aku mengada-ada."


"Hubby adalah imam dalam kehidupanku. Kalau tidak ada saling percaya, bagaimana kita bisa menjadi keluarga sakina, mawaddah, Wa rahma?"


Awan melirik sekilas, lalu kembali memalingkan wajahnya. "Memang makna sakina, mawaddah, wa rahma itu apa?"


"Sakina itu ketika melihat kekurangan pasangan, tapi mampu menjaga lidah untuk tidak mencelanya. Mawaddah itu ketika melihat kekurangan pasangan, tapi mampu menutup sebelah mata atas kekurangan dan membuka mata lain untuk fokus pada kelebihannya. Dan rahma itu ketika mampu menjadikan kekurangan pasangan sebagai ladang amal untuk kita."


Mendengar ucapan Pelangi, amarah menggunung yang sempat menguasai hati Awan luntur seketika. Ia membalikkan tubuhnya dan memeluk Pelangi erat.


"Maafin aku, Hunny!"


Disaat kamu terus berusaha huznudzon sama aku, aku malah suuzon sama kamu.


...........

__ADS_1


__ADS_2