Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Do You Love Him?


__ADS_3

Tiga minggu berlalu ....


Sejak memutuskan untuk tinggal sementara di rumah mertuanya, Awan mengalami banyak kemajuan. Menanggalkan semua kebiasaan buruk di masa lalu dan menggantinya dengan hal-hal positif. Bersama Pelangi, Awan yang brutal belajar banyak hal dalam hidupnya. 


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju sebuah klinik untuk menjalani fisioterapi dengan diantar oleh Zidan. Awan melirik Pelangi yang duduk di kursi belakang melalui pantulan kaca spion mobil. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya, satu kebiasaan Pelangi yang membuatnya merasa kagum, kemana pun ia pergi selalu membawa sebuah buku untuk dibaca di waktu senggang. 


Awan lalu melirik Zidan. Adik iparnya yang irit bicara, namun sangat perhatian. 


“Dek!” panggil Awan. 


“Iya, Kak.” Zidan menoleh sejenak, lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada jalan di depannya. 


“Teman kamu yang datang waktu itu sudah pulang ke habitatnya, belum?” 


“Teman yang mana?” 


“Yang katanya dari Malaysia.” 


“Oh, Kak Guntur?” 


Elah, ngapain sebut nama dia sih? Awan menggerutu dalam hati.


Hanya dengan  mengingat nama pria yang pernah ingin melamar Pelangi itu saja sudah membuatnya kesal setengah mati.


“Iya.” 


“Untuk sementara Kak Guntur akan menetap di Indonesia. Katanya selain mau lihat langsung pembangunan rumah Tahfiz, juga mau bekerja di perusahaan orang tuanya.” Zidan kembali melirik Awan. “Memang kenapa, Kak?” 


“Tidak apa-apa, cuma tanya. Memang orang tuanya punya perusahaan di Indonesia?” 

__ADS_1


“Ada beberapa sih. Tapi tidak tahu nama perusahaannya. Kalau tidak salah bergerak di bidang konstruksi.” 


“Oh.” Sorot mata Awan langung tertuju kepada wajah Pelangi yang begitu tenang membaca sebuah buku di tangannya. 


Awan menyandarkan punggungnya dengan lesu.


Tajir juga tuh bandar korma. Pelangi pernah nyesel nggak ya nikah sama gue? 


Emang gue siapa? Cuma brandalan jalan yang baru tobat. Sedangkan si Guntur udah kaya, paham agama pula.


Gue nggak layak buat Pelangi. Kok gue jadi minder begini, ya?


...........


Mobil memasuki halaman sebuah klinik. 


Hari itu Zidan dan Pelangi menemani Awan menjalani fisioterapi. Kondisi kaki Awan sudah banyak kemajuan karena rutin menjalani fisioterapi. Meskipun masih harus menggunakan tongkat karena terkadang kakinya masih terasa ngilu.  


“Alhamdulillah, Kak Awan sudah mulai bisa berjalan tanpa tongkat.” 


“Iya, Dek. Alhamdulillah. Mas Awan sangat banyak kemajuan. Syukran, Dek! Ini juga karena bantuan kamu, ayah dan ibu.” 


"Sama-sama, Kak."


Seulas senyum terbit di sudut bibir Zidan. Dirinya pun ikut senang melihat binar bahagia di mata kakaknya. Pelangi sudah kembali seceria dulu. 


“Do you love him?” 


Mendadak wajah Pelangi berubah merah mendapat pertanyaan itu. Tangannya terangkat mencubit lengan adiknya. 

__ADS_1


“Auh sakit, Kak!” Zidan mengusap-usap lengannya yang terasa perih. 


“Kamu tanyanya tidak sopan.” 


Zidan terkekeh melihat reaksi Pelangi yang tampak salah tingkah. Rona merah di wajah Pelangi seolah mewakilkan jawaban dari pertanyaan tadi. “Tidak usah jawab, sudah dapat kok jawabannya.” 


“Dek!” pekik Pelangi dengan mata melotot. 


“Afwan, Kak!” Sambil tertawa, Zidan mengatupkan kedua tangan di depan dada. 


Demi menyembunyikan rona merah di wajahnya, Pelangi beranjak meninggalkan Zidan, memasuki ruangan berdinding kaca tempat suaminya sedang berada.


Seorang dokter Pria tampak sedang membantu Awan latihan berjalan.


“Pak Awan harus sering-sering latihan berjalan tanpa tongkat untuk merangsang syaraf motoriknya,” saran seorang dokter. 


“Baik, Dokter.” 


...........


Pelan-pelan saja jalannya, Mas!" Pelangi membantu Awan berjalan keluar setelah menjalani terapi. Ia sedang berusaha berjalan tanpa tongkat, meskipun terlihat agak kesulitan.


"Hunny, boleh aku pinjam Zidan hari ini?" tanya Awan.


"Pinjam Zidan? Buat apa, Mas?"


"Aku mau minta tolong di antar ke klinik temanku."


Kerutan tipis tampak di alis Pelangi. "Mau apa di sana?"

__ADS_1


"Aku mau konsultasi, mau hapus tato yang ada di punggungku."


...........


__ADS_2