Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Maafkan Aku!


__ADS_3

"Aku akan bicara dengannya nanti." Dengan penuh kelembutan Pelangi membelai wajah suaminya demi mengurai rasa kesal pria itu.


Awan merespon dengan anggukan kepala.


"Maafkan dia, Hubby. Maryam itu sebenarnya wanita yang sangat baik. Dia hanya butuh bimbingan untuk menyempurnakan akhlaknya. Aku yakin dia tidak ada niat buruk membuka auratnya di rumah orang. Semua murni hanya karena ketidakpahamannya tentang aurat. Dia masih menganggap hijab hanyalah penghias kepala."


"Kamu terlalu naif, Sayang." Awan mengelus puncak kepala istrinya. "Kalau seperti ini kamu akan mudah dimanfaatkan orang lain."


"Hubby, aku tidak akan membawa orang lain ke rumah kita kalau tidak mengenalnya dengan baik. Lagi pula Maryam tidak lebih dari satu malam di rumah kita. Aku tidak mau mendahulukan prasangka buruk. Qadarullah, kami dipertemukan di pengajian dan dia sedang dalam kesusahan. Insyaa Allah, ada tujuan baik di balik pertemuan itu."


Awan menarik napas dalam. Ia merasa ucapan Pelangi ada benarnya. "Insyaa Allah."


"Semoga saja dia cepat dipertemukan dengan suaminya. Sebagai sesama wanita, aku benar-benar kasihan dengannya."


Awan mencium kening sang istri. Semakin jatuh hati saja dengan kelembutan dan ketulusan Pelangi.


Kamu memang wanita yang istimewa, Sayang.


"Sekarang mandi, ya. Aku akan ke bawah menyiapkan sarapan."


Pelangi beranjak menuju lantai bawah setelah membicarakan tentang Maryam. Pandangannya meneliti seisi rumah yang terlihat lebih rapi, juga lantai granit yang masih basah. Sepertinya Maryam baru saja membersihkan rumah.


Dari tempatnya berdiri, Pelangi menatap Maryam yang tengah sibuk menata makanan di meja makan. Wanita berambut panjang itu seketika menoleh saat mendengar suara langkah kaki mendekat.

__ADS_1


"Kamu sudah bangun?" ucap Maryam dengan senyum ramah sudut bibirnya. "Aku sudah buat sarapan."


Pelangi mendekati Maryam yang telah selesai menata menu sarapan.


"Kamu jadi repot, seharusnya aku yang melakukannya, kamu kan tamu di rumah ini."


"Tidak apa-apa. Lagi pula aku tidak enak kalau menumpang dan tidak mengerjakan apa-apa. Setidaknya aku bisa membalas kebaikanmu dengan tenagaku. Oh ya, aku buat sebisaku saja dengan bahan yang ada di kulkas."


Pelangi mengangguk seraya mengulas senyum tipis, memperhatikan Maryam yang hanya menggunakan pakaian tidur dengan rambut terurai.


"Emh Maryam, kenapa keluar kamar tidak pakai hijab?"


Mendapat pertanyaan itu, Maryam tampak masih santai dengan senyum mengembang. "Gerah. Lagian ini kan masih di dalam rumah."


Maryam mengusap rambut panjangnya. Kemudian menunduk malu setelahnya, membuat Pelangi mengusap bahu sahabatnya itu.


"Mar, hijab itu bukan hanya semata penutup kepala, tapi untuk menjauhkan kamu dari tatapan buas kaum laki-laki."


Seketika cairan bening menggenang di bola mata wanita itu.


"Maafkan aku, Pelangi. Aku mengerti sekarang. Aku akan memakainya."


Tanpa banyak berucap, Maryam segera kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Pelangi menunggu selama beberapa saat, namun Maryam tak kunjung keluar dari kamar.

__ADS_1


Ia pun memilih menyusul. Baru saja akan mengetuk pintu kamar, Maryam sudah membukanya terlebih dahulu.


Pelangi menatap mata sembab Maryam dan meyakini wanita itu habis menangis. "Kamu kenapa, Mar?"


"Aku tidak apa-apa." Ia berusaha menerbitkan senyum terbaiknya.


"Oh iya, sebenarnya ada yang mau aku bicarakan denganmu," ucap Pelangi membuat Maryam menganggukkan kepala.


“Ada apa?”


"Kita bicara di dalam saja?"


Maryam mengangguk, lalu duduk di tepi pembaringan bersama Pelangi.


“Mar, sebelumnya aku minta maaf. Sepertinya, suamiku kurang setuju kalau kamu nginap di sini untuk beberapa hari. Kamu tahu kan, fitnah bisa saja terjadi dan kita harus menghindari itu.” 


Maryam terdiam seperti memikirkan sesuatu. “Aku mengerti, Pelangi. Aku jadi tidak enak sudah merepotkan kalian.” Ia menunduk malu, merasa menjadi beban. 


"Sama sekali tidak merepotkan, kok. Suamiku hanya khawatir akan ada fitnah. Kamu tenang saja, kami akan mencarikan rumah sewa yang nyaman untuk kamu. Soal biaya hidup, insyaa Allah aku akan bantu sampai kamu bertemu dengan suamimu.” 


Sepasang mata Maryam kembali melelehkan cairan bening di kedua sisi pipinya. “Terima kasih. Aku benar-benar berhutang budi sama kamu.” 


"Kita sudah seperti saudara sejak lama. Siapa lagi yang akan saling membantu? Oh ya, boleh aku tahu nama suamimu? Siapa tahu saja Mas Awan bisa membantu mencari info tentangnya."

__ADS_1


..........


__ADS_2