
Awan langsung bangkit dari pembaringan dengan wajah kusut. Sejenak melirik Pelangi yang sedang membenahi rambut dan pakaiannya. Lalu, setelah sang istri tampak rapi, pria itu beranjak menuju pintu.
Apa sih lo gangguin orang melulu? Nggak tahu apa lagi nanggung!
Namun, gerutuan panjang itu hanya berani ia teriakkan dalam hati. Berbanding terbalik dengan kalimat lembut yang terucap dari bibirnya. "Kenapa, Dek?" tanyanya dengan senyum ramah.
Di ambang pintu, Zidan balas tersenyum. "Kak Awan tidak ikut ke masjid? Pertemuannya mau mulai, dilanjutkan dengan shalat maghrib."
Sejenak, Awan tampak berpikir.
"Si Bandar Korma ada nggak?" tanya Awan lagi. Kali ini dengan ekspresi datar.
"Kak Guntur sudah pergi duluan. Katanya ada urusan penting di luar," jawab Zidan seraya tertawa kecil. Sejak pagi tadi Awan seperti enggan menyebut nama Guntur dan menggantinya dengan nama yang cukup aneh bagi Zidan.
Alhamdulillah. Batin Awan.
Tangan Awan terangkat mengusap dadanya pelan. "Ya sudah, kakak mau ganti baju dulu."
"Aku tunggu di depan, ya. Ayah juga lagi siap-siap."
"Iya, Dek!" Awan kembali menutup pintu setelah kepergian Zidan. Memutar tubuhnya dengan malas, lalu kembali duduk di sisi Pelangi.
"Hunny, bisa tolong ambilkan baju koko?"
............
Pertemuan hari ini berjalan dengan lancar. Semua orang merasa senang dan lega setelah dana pembebasan lahan terkumpul. Kini, Awan dan Zidan tengah berada di halaman masjid.
Sebelum pulang, Awan menceritakan kepada Zidan tentang kiriman misterius berisi foto dirinya. Awalnya, Zidan tampak sangat terkejut, namun sebisa mungkin untuk tetap tenang.
"Apa normal seseorang berbuat seperti itu, Dek?" ucap Awan tampak frustrasi.
Karena suasana sekitar halaman masjid masih ramai oleh jamaah, Zidan akhirnya mengajak Awan untuk bicara berdua di sebuah kafe tak jauh dari rumah, agar lebih leluasa.
__ADS_1
"Obsessive Compulsive Disorder atau lebih dikenal dengan OCD."
Mata Awan membelalak mendengar ucapan Zidan. Seperti kehilangan akal sehat, ia mematung selama beberapa saat. "Apa maksud kamu, Dek? Dia mengalami gangguan mental?"
"Benar, Kak! Kak Guntur adalah penderita OCD dan memang sudah lama terobsesi dengan Kak Pelangi."
Informasi itu membuat Awan menatap tak percaya, tatapan yang menyiratkan keraguan akan ucapan Zidan. "Kamu tidak sedang bercanda kan, Dek?"
Zidan menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepala.
"Makanya tadi aku minta Kak Awan bersabar dan tetap berhati-hati. Kak Guntur tidak bisa dihadapi dengan kekerasan, karena bisa semakin nekat. Terutama kepada Kakak."
Ingatan Awan pun langsung tertuju pada Guntur. Tanpa memikirkan akibatnya, pria itu mencoba menghasut Pelangi, ayah dan Zidan dengan cara yang sangat licik.
"Padahal dia kelihatannya sangat normal. Di kantor juga tidak menunjukkan gelagat aneh."
Zidan mengangguk mengerti. Ia tahu persis seperti apa Guntur yang sudah dikenalnya cukup lama. "Memang seperti itu, Kak. Dalam keadaan normal, Kak Guntur terlihat seperti orang biasa. Tapi sewaktu-waktu bisa meledakkan emosi dengan tidak terkendali. Kakak harus lebih hati-hati dan tetap jaga diri."
Bukan mengkhawatirkan dirinya, Awan justru lebih mengkhawatirkan keamanan Pelangi yang mungkin menjadi sasaran utama Guntur.
"Tahu, Kak."
Awan mengusap wajah kasar.
Pantas tadi Pelangi kelihatan marah saat tahu apa yang dilakukan si Bandar Korma.
"Apa ada cara untuk mengatasi dia?" tanya Awan.
"Nanti aku bicara sama ayah, Kak. Biar ayah yang bicara dengan orang tua Kak Guntur."
........ ...
Seharusnya, Ayah Ahmad adalah orang yang paling bahagia atas selesainya masalah pembebasan lahan. Namun, justru sebaliknya. Sejak melihat foto-foto Awan tadi, ia banyak diam dan tampak murung. Bahkan setelah makan malam, ayah memilih duduk seorang diri di teras.
__ADS_1
"Ayah kenapa?" tanya Zidan yang tiba-tiba datang dan mendapati kesedihan di wajah sang ayah.
Ayah Ahmad menghela napas panjang sebelum menjawab, "Ayah sedang memikirkan kakakmu, Zidan."
Mendengar jawaban itu, Zidan pun segera menarik kursi dan duduk di sisi ayah. "Memangnya Kak Pelangi kenapa?"
Ayah Ahmad lalu menceritakan apa yang membuatnya dipenuhi kebimbangan sepanjang hari ini, tentang kiriman foto-foto Awan.
Zidan yang sebelumnya sudah mendengar informasi tersebut dari Awan sudah tidak terkejut lagi. Pemuda itu mengulas senyum tipis. Ia tahu ayah sangat mengkhawatirkan Pelangi. Apalagi, sekarang putrinya itu hanya tinggal berdua dengan Awan tanpa pengawasan orang tua.
"Tidak semua awan gelap itu membawa badai, Ayah. Kadang dia juga membawa rahmat Allah berupa hujan. Anggap saja, Kak Awan adalah jalan Kak Pelangi menuju surganya Allah."
"Apa menurut kamu, keputusan ayah untuk mengamanahkan kakakmu kepada Awan sudah tepat? Ayah khawatir justru melakukan kesalahan."
"Insyaa Allah tepat. Aku yakin bahwa semua kejadian hari ini adalah bentuk ujian Allah untuk Kak Awan dalam perjalanan hijrahnya. Kak Awan sudah cerita semuanya, kok."
Ayah Ahmad menatap Zidan. "Cerita tentang apa?"
"Tentang foto, termasuk tentang pengeroyokan itu. Kata Kak Awan, semalam dalam perjalanan pulang dia dikeroyok orang tidak dikenal. Dan pelakunya mengaku dibayar Kak Guntur. Sepertinya pengirim foto itu juga orang yang sama."
Terkejut, Ayah Ahmad mengusap dadanya yang mendadak terasa sesak. Tiba-tiba mengkhawatirkan keselamatan Awan dan Pelangi.
"Tapi, kamu sudah jelaskan kepada Awan mengenai kondisi kejiwaan Guntur?"
Zidan mengangguk. "Sudah tadi sebelum Kak Awan pulang. Ayah tenang saja, Insyaa Allah Kak Awan akan selalu berhati-hati dalam menjaga diri, terutama dalam menjaga Kak Pelangi."
..........
🌹
🌹
🌹
__ADS_1
Terima kasih untuk semua bentuk dukungan baik like komen dan kopi. kalian sengaja banget bikin kau terharuu 🤧🤧