Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Hijab Bagi Laki-Laki


__ADS_3

Awan menghempas tubuhnya dengan kasar ke tempat tidur. Wajahnya terlihat sangat kesal, sehingga Pelangi merasa merinding dibuatnya. Ia menyandarkan alat bantu berjalan suaminya ke dinding.


"Mas kenapa?"


"Dia itu ngapain ke sini lagi? Memang di kompleks luas ini tidak ada rumah tetangga lain untuk bertamu, ya?"


Pelangi melirik Awan yang tampak kurang mampu mengendalikan amarahnya. Ia tahu Awan menyadari sikap Guntur yang kadang menatapnya walau hanya beberapa detik. "Ada. Tapi Kak Guntur itu kan dari dulu dekatnya sama ayah dan Zidan."


Lo ngapain sebut nama dia?


Awan mendengus sebal. "Tadi liatin kamu terus tuh."


"Mas, kita tidak bisa menjaga pandangan orang dari kita, tapi kita bisa 'kan menjaga pandangan sendiri. Karena itulah baik kaum perempuan maupun laki-laki diwajibkan untuk menutupi auratnya."


"Memang aurat perempuan itu apa saja?"


"Aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan."


Pandangan Awan menyisiri tubuh Pelangi. Sejak Awal bertemu, Pelangi memang menutupi seluruh bagian tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan yang membuat Awan pernah sangat penasaran ingin melihat wujud Pelangi tanpa hijab.


"Terus aurat laki-laki yang mana saja?"


"Menurut madzhab Syafii, Aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut. Tapi pusar dan lututnya tidak termasuk aurat, hanya di antaranya saja. Meskipun begitu, tetap harus ditutupi untuk kehati-hatian, supaya aurat yang berbatasan dengan keduanya tidak terbuka."


Awan mengangguk mengerti.


Suara ketukan pintu terdengar, Pelangi segera beranjak untuk membukanya. Tampak Zidan berdiri di ambang pintudengan seulas senyum tipis.


"Kak Pelangi ... Kak Awan lagi ditunggu ayah untuk shalat berjamaah."


Pelangi melirik Awan sekilas. Meskipun Awan tidak mengatakan apapun, namun ia mengerti suaminya akan merasa semakin rendah diri di hadapan Guntur. Terlebih dengan kondisi kakinya yang masih belum mampu berdiri tanpa tongkat.

__ADS_1


"Untuk hari ini, Mas Awan akan shalat di kamar saja, Dek. Tidak apa-apa, ya? Lagi pula Mas Awan belum bisa berjalan terlalu jauh."


"Oh, ya sudah. Aku duluan ya, Kak."


"Iya, Dek." Pelangi menutup pintu kamar setelah kepergian Zidan.


Beberapa saat kemudian terdengar suara yang sangat merdu mengumandangkan adzan. Awan terdiam dengan kekaguman di dalam hatinya. Suara paling merdu yang pernah ia dengar sejak tinggal di rumah orang tua Pelangi.


"Suaranya merdu sekali, ya?" ucap Awan sesaat setelah adzan selesai.


Pelangi merespon dengan senyuman. "Itu suara Kak Guntur."


Hati Awan langsung mencelos, dan membuatnya merasa kalah semakin jauh dari pria itu.


Gue kok jadi minder begini sih? Gue adzan aja belum bisa.


"Mas, apa boleh kali ini aku shalatnya diimami Mas Awan?"


"Tentu saja boleh, selama Mas di depan sebagai imam dan aku berdiri di belakang sebagai makmum."


"Maksudku apa sah kalau imam shalatnya dalam keadaan duduk? Aku kan belum bisa berdiri."


"Imam Nawawi dalam kitabnya, Almajmu, mengatakan bahwa shalat berjamaah pada imam yang shalat duduk karena sakit hukumnya boleh dan shalatnya makmum dinilai sempurna dan sah. Tapi makmum yang mampu berdiri tidak boleh duduk mengikuti imam."


Awan menunduk, lalu berkata dengan lirih, "Tapi aku malu, Hunny."


"Malu kenapa?"


"Aku baru hafal Alfatihah, Al Ikhlas, Al Falaq sama An Nas."


"Tidak apa-apa. Baca itu saja pada setiap rakaatnya."

__ADS_1


Awan menatap Pelangi dengan sendu. Hari itu untuk pertama kalinya, pria itu menjadi imam shalat untuk Pelangi.


...........


Makan malam pun tiba. Ayah Ahmad, Awan, Zidan dan Guntur sudah duduk di meja makan. Sedangkan Ibu Humairah dan Pelangi akan makan setelahnya.


"Mas mau lauk apa?" tanya Pelangi.


"Kuah sup sama ikan goreng tepung saja. Sambelnya yang banyak."


Dengan penuh perhatian, Pelangi melayani suaminya di meja makan. Mengambilkan beberapa lauk yang diminta. Satu hal yang membuat Awan kesal setengah mati, sudah beberapa kali mendapati Guntur memandangi Pelangi.


Ia lantas melirik Zidan.


"Dek, dikatakan hijab bagi kaum perempuan adalah pakaiannya. Lalu hijab bagi kaum laki-laki apa?" Sesaat setelah mengajukan pertanyaan kepada Zidan, Awan melirik Guntur yang duduk di hadapannya.


Pandangan Zidan langsung mengarah kepada Awan. Melalui nada bicara kakak iparnya, ia dapat menebak apa yang terjadi.


Zidan menatap Pelangi yang meninggalkan meja makan setelah melayani Awan, lalu kemudian melirik Guntur. Zidan pun menyadari pandangan Guntur yang sesekali mengarah kepada kakaknya.


"Hijab bagi kaum lelaki adalah menundukkan pandangannya dari perhiasan dunia memperdayai dan menjerumuskan ke dalam hal-hal yang diharamkan."


"Contohnya?" tanya Awan lagi.


"Kaum perempuan adalah salah satu perhiasan dunia. Maka hendaknya, kaum laki-laki menundukkan pandangan pada kaum perempuan yang bukan mahram."


Mendadak Guntur tersedak makanan.


Sokor! Kena mental kan lo! batin Awan.


..........

__ADS_1


__ADS_2