
Selepas mengunjungi butiknya, Pelangi menuju sebuah tempat untuk mengikuti pengajian. Tidak disangka di tempat itu ia bertemu dengan seorang sahabat masa sekolah yang sudah lama tidak bertemu.
Mereka mengobrol panjang setelah mengikuti pengajian. Karena hari hampir sore, Pelangi mengajak sahabatnya yang baru datang dari luar kota itu untuk beristirahat di rumah.
“Kamu kok nikah tanpa memberi kabar, sih?” tanya wanita bernama Maryam itu. Sesekali ia tampak memandangi pigura besar yang menggantung di dinding ruang tamu.
Pelangi mengulas senyum. “Maaf, Mar. Kami memang hanya melibatkan keluarga saja. Jadi tidak banyak yang tahu.”
“Tidak apa-apa. Aku ikut bahagia atas pernikahanmu. Semoga menjadi keluarga sakina, mawaddah, wa rahma.”
“Amiin. Terima kasih, Mar. Oh ya, bagaimana denganmu? Aku dengar dari teman-teman, kamu juga sudah menikah.”
Mendadak wajah wanita itu menjadi murung sesaat setelah mendapat pertanyaan dari Pelangi. Pada detik yang sama, cairan bening telah menggenangi bola matanya. Lalu, beberapa detik kemudian berubah menjadi isak tangis.
Pelangi mencoba menenangkan sahabatnya dengan memeluk. “Kamu kenapa?”
Maryam mengusap air mata yang mengaliri kedua sisi pipinya. "Aku tidak tahu harus mulai dari mana."
"Apa maksud kamu?" Pelangi menatap penuh tanya.
Maryam tak segera menjawab. Ia terus menangis hingga merasa beban di dadanya sedikit berkurang.
"Aku tidak mengenal baik laki-laki yang menikahiku. Kami menikah secara siri beberapa waktu lalu."
Mata Pelangi membulat sempurna. "Menikah siri?"
"Iya. Tapi hanya dua minggu setelahnya, dia pergi setelah sebelumnya mengaku masih mencintai wanita lain dan belum bisa menerimaku.” Tangisan kembali pecah di ruang tamu.
__ADS_1
“Astaghfirullah. Apa kalian sudah bicarakan baik-baik?”
Maryam menggelengkan kepalanya dengan terisak-isak. “Karena itulah aku datang ke mari untuk mencarinya dan membicarakan masalah ini baik-baik. Tapi sayangnya aku tidak tahu dia tinggal di mana.”
Pelangi masih mengusap punggung Maryam. “Bersabarlah. Anggap itu adalah ujian dalam rumah tanggamu. Kalau jodoh, kalian pasti akan bertemu lagi.”
“Wanita mana yang sanggup saat suaminya sendiri berkata menginginkan wanita lain?”
Kenangan langsung berputar di benak Pelangi. Ia tahu betul rasa sakit yang dipendam Maryam. Dirinya pun pernah mengalami saat suaminya sendiri menolaknya dan mengaku mencintai wanita lain.
“Aku ikut prihatin,” ucap Pelangi.
“Aku tidak apa-apa. Insyaa Allah aku kuat menjalaninya. Sekarang aku harus cari pekerjaan secepatnya untuk biaya hidup selama tinggal di sini.”
“Kamu mau cari pekerjaan apa?”
“Apa saja yang penting halal.”
“Kalau tidak keberatan, kamu bisa bekerja di butikku. Kebetulan tadi April bilang sedang kekurangan tenaga.”
Pancaran bahagia dan lega terlihat dalam tatapan Maryam “Kamu serius?”
“Aku serius. Kalau mau besok kamu bisa langsung datang.”
“Terima kasih, Pelangi. Kamu memang sahabat terbaikku.” Keduanya saling memeluk.
Pelangi kembali mengusap punggung Maryam untuk menguatkan. “Terus sekarang kamu mau tinggal di mana?”
__ADS_1
“Aku belum tahu akan tinggal di mana. Aku tidak punya siapa-siapa di sini.”
Pelangi menatap Maryam dengan perasaan iba. “Kalau begitu, aku akan bicara dulu dengan suamiku. Kalau dia tidak keberatan, kamu bisa menginap di sini untuk sementara, sampai kamu dapat tempat tinggal yang baru.”
"Tidak usah, kamu sudah memberiku pekerjaan saja aku sudah sangat berterima kasih. Aku tidak enak merepotkan kamu lagi."
"Tidak apa-apa. Aku juga tidak bisa bantu banyak."
...........
Mentari hampir tenggelam di sebelah barat ketika Awan tiba di rumah. Seperti biasa, Pelangi akan menyambutnya dengan senyuman hangat.
"Assalamu'alaikum, Sayang."
"Wa'alaikumsalam, Hubby." Pelangi mencium punggung tangan sang suami.
Baru saja Awan akan membalas dengan mencium kening, sudah dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita asing di rumah.
"Dia siapa?" bisik Awan tanpa melirik wanita berkerudung yang tak dikenalnya itu.
"Seorang teman. Ayo, aku kenalkan dulu." Pelangi menggandeng tangan suaminya berjalan menghampiri Maryam. "Maryam, ini suamiku, Mas Awan," ucap Pelangi memperkenalkan sang suami. "Mas, ini Maryam. Sahabat masa sekolahku."
Seolah lupa berkedip, Maryam terpaku memandangi Awan. Lalu beberapa detik kemudian segera tersadar dan mengulurkan tangannya untuk menjabat.
"Assalamu'alaikum, Kak. Saya Maryam, teman Pelangi sejak SMA."
Bukannya menyambut uluran tangan Maryam, Awan malah memilih merapatkan kedua tangan di depan dada. "Wa'alaikumsalam."
__ADS_1
Membuat Maryam menunduk malu.
..........