
Mata Awan berkilat marah mendengar ucapan Zidan. Napasnya menjadi lebih cepat, dan tanpa sadar tangannya terkepal hingga layar ponsel mahal miliknya retak.
"Jangan bercanda, Dek!" ucapnya gemetar.
Zidan merinding kala menyadari tatapan membunuh kakak iparnya. Mungkinkah mengatakan rahasia masa lalu kakaknya adalah sebuah kesalahan? Nyatanya, Zidan hanya ingin Awan lebih berhati-hati dalam menjaga kakaknya.
"Maaf, Kak." Zidan menundukkan kepala.
Awan benar-benar tidak akan percaya, jika saja yang memberitahu bukanlah Zidan. Tetapi, ia pun tahu seperti apa karakter adik iparnya, yang tidak akan mau berbohong demi apapun.
"Jadi kamu serius?"
Zidan mengangguk dengan rasa bersalah yang tergambar jelas pada wajahnya.
"Boleh kakak tahu bagaimana kejadiannya?" Awan bertanya dengan menggertakkan gigi.
"Aku akan ceritakan kalau kakak bisa mengendalikan diri." Ucapan Zidan membuat Awan menarik napas dalam demi meredakan amarah yang semakin memuncak.
"Kejadiannya lima tahun lalu."
__ADS_1
"Artinya Pelangi masih 18 tahun?" Semakin geram saja Awan memikirkan istrinya yang kala itu masih remaja, hendak dilecehkan Guntur yang sudah terbilang pria dewasa.
"Iya, Kak," jawabnya. "Waktu itu Kak Pelangi bawa kue ke rumah Om Demir. Ternyata Kak Guntur sendirian di rumah. Mungkin Kak Guntur sedang kumat. Kebetulan sudah lama suka sama Kak Pelangi."
"Bangs*t!" Ponsel yang digenggam Awan terjatuh begitu saja di lantai.
"Istighfar, Kak. Aku tahu perasaan Kak Awan. Sebagai adik yang harus menjaga kakak perempuannya, aku juga merasakan hal yang sama."
"Astaghfirullah." Mata Awan terpejam rapat, lalu menjadi memerah saat ia membukanya. Jika saja Guntur ada di hadapannya sekarang, entah apa yang akan dilakukannya kepada pria itu.
"Gimana cara Pelangi selamat?" tanya Awan setelah dapat menguasai perasaannya kembali.
"Alhamdulillah, waktu itu Kak Pelangi sempat teriak. Kebetulan aku baru pulang dan dengar. Karena pintu rumahnya dikunci, aku manjat ke balkon dan menolong Kak Pelangi."
"Setelah kejadian itu, ayah mendatangi Om Demir. Om Demir jelasin kalau Kak Guntur dalam keadaan sakit mental. Bahkan saat itu Kak Guntur juga tidak sadar dengan perbuatannya sendiri."
Rahang Awan kembali mengeras membayangkan kejadian mengerikan itu, dan kejadian itu pasti meninggalkan trauma bagi Pelangi.
"Terus?"
__ADS_1
"Karena kejadian malam itulah, Om Demir jadi malu dan memutuskan pindah ke Malaysia. Di sana Kak Guntur juga berobat. Memang sih, kondisinya jauh lebih baik dibanding yang dulu. Tapi tetap harus waspada, kan?"
Penjelasan Zidan membuat Awan seperti kehilangan akal sehatnya selama beberapa saat. Bahkan ia masih tak percaya Ayah Ahmad dapat bersikap baik terhadap Guntur setelah apa yang dilakukannya kepada Pelangi.
"Tapi waktu itu dia datang disambut baik sama ayah. Malah dia datang untuk melamar Pelangi."
"Menghadapi Kak Guntur tidak bisa dengan kekerasan, Kak. Makanya ayah masih berusaha bersikap baik."
"Sebenarnya niat Kak Guntur untuk melamar Kak Pelangi sudah diketahui ayah sebelumnya. Ayah juga sempat jatuh sakit karena memikirkan itu. Tapi beberapa hari kemudian, Om Fery datang lebih dulu melamar Kak Pelangi untuk anaknya. Melalui shalat istikharah, ayah yakin untuk menerima walaupun tidak mengenal seperti apa calonnya."
"Waktu itu ayah tidak tahu kakak pemabuk dan bukan laki-laki baik."
Zidan tersenyum. "Di situlah kuasanya Allah, Kak. Allah menutupi aib Kakak untuk dipertemukan dengan Kak Pelangi."
Sepenuh hati Awan membenarkan semua ucapan Zidan. Jika saja saat itu mereka tahu seperti apa Awan sesungguhnya, mungkin lamaran Ayah Fery akan ditolak mentah-mentah.
"Terima kasih, Dek, sudah menceritakan ini." Awan tahu bukan hal mudah bagi Zidan untuk menceritakan luka masa lalu keluarganya. Terlebih tentang Pelangi.
"Maaf, Kak. Sebenarnya ini aib yang harus ditutupi. Tapi aku rasa Kak Awan sebagai suami harus tahu, supaya bisa lebih berhati-hati lagi. Kak Awan pasti tahu kan, bagaimana takutnya Kak Pelangi setiap bertemu Kak Guntur."
__ADS_1
Astagfirullah, kok gue baru sadar. Pantas Pelangi selalu gugup kalau ketemu si Guntur. Gue pikir karena dia malu-malu.
...........