
Lebih dari dua bulan lamanya Awan menjalani perawatan di rumah sakit. Dalam kurun waktu itu pula, Pelangi tak pernah meninggalkannya lebih dari tiga jam. Ia hanya sesekali pulang ke rumah untuk membuatkan makanan kesukaan sang suami, yang terkadang kehilangan selera makan akibat jenuh menjalani serangkaian pengobatan dan terapi.
Bahkan Awan pernah putus asa dan menyerah akan kondisinya, namun Pelangi selalu mampu menanamkan pikiran positif yang mampu membangkitkan semangat suaminya.
Dan hari ini, Awan sudah dinyatakan membaik dan telah diizinkan pulang oleh dokter. Pelangi sedang memasukkan beberapa lembar pakaian ke dalam sebuah koper, ketika Ibu sofie dan Ayah Fery datang.
Melihat kondisi putranya yang semakin membaik, Ibu Sofie pun tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Berulang-ulang ia memeluk Pelangi sebagai wujud rasa terima kasihnya. Menantu yang pernah ditolak dan dianggap tidak layak itu telah merawat Awan dengan penuh kesabaran.
Sebelum pulang, Ayah Fery dan Pelangi mengurus administrasi terlebih dahulu. Sementara Awan menunggu bersama Ibu Sofie di kamar.
“Awan, untuk sementara kalian akan tinggal bersama ayah dan ibu sampai kondisi kamu benar-benar pulih. Kalian kan cuma berdua di rumah, kasihan Pelangi pasti repot sendirian merawat kamu,” ucap Bu Sofie.
Sejak mengetahui rencana kepulangan Awan, ia sudah memindahkan kamar putranya dari lantai dua ke lantai satu untuk memudahkan, karena Awan belum dapat berjalan sendiri tanpa alat bantu. Mengizinkan Awan tinggal di rumahnya sendiri pun mereka sebagai orang tua merasa berat.
“Terima kasih, Bu. Tapi aku dan Pelangi sudah membicarakan sebelumnya. Untuk sementara kami akan tinggal di rumah Ayah Ahmad.”
Reaksi penolakan Awan membuat Ibu Sofie termangu. Bagaimana pun ia berharap Awan akan tinggal bersama mereka untuk sementara. “Kalian mau tinggal di rumah orang tua Pelangi?”
“Iya, Bu. Aku butuh banyak bimbingan agar bisa memantaskan diri untuk Pelangi. Dan rumah orang tuanya adalah pilihan yang tepat.”
__ADS_1
“Kamu yakin?” tanyanya. Mengingat rumah besannya tak memiliki fasilitas seperti di rumahnya. “Apa tidak tunggu sampai kondisi kamu lebih baik dulu?”
“Insyaa Allah yakin, Bu. Tidak ada waktu yang tidak tepat untuk belajar”
Meskipun merasa sedih, tetapi Ibu Sofie tetap mendukung keputusan putranya. Yang terpenting baginya sekarang adalah Awan bahagia bersama Pelangi dimana pun mereka berada.
...........
Kepulangan Pelangi dan Awan pun disambut dengan bahagia oleh keluarga Ayah Ahmad. Untuk menyambut menantunya, Ibu Humairah membuat makanan kesukaan Awan.
Selepas makan malam, mereka mengobrol santai di ruang keluarga. Awan merasa sangat bersyukur, karena setelah semua kesalahan yang dilakukannya terhadap Pelangi, keluarga mertuanya masih menerimanya dengan tangan terbuka.
Bahkan tak sedikitpun mereka mengungkit semua kesalahan Awan. Padahal ia sudah sempat khawatir dan merasa malu saat baru tiba di rumah.
“Iya, Bu.” Pelangi membantu Awan berdiri dan menyematkan tongkat di sela ketiak suaminya.
“Saya duluan istirahat, Ibu, Ayah.”
“Silahkan Nak Awan.”
__ADS_1
Sepanjang menuju kamar, Awan terus memandangi Pelangi. Ada senyum tipis di bibirnya.
Setibanya di kamar, Pelangi membantu Awan untuk duduk, lalu meletakkan tongkatnya di samping tempat tidur.
“Mas mau ganti baju dulu?”
Awan mengangguk.
Tatapannya terus mengikuti ke mana langkah istrinya. Pelangi menarik koper milik Awan ke dekat lemari. Ia mengeluarkan semua pakaian dan memasukkan ke bagian yang kosong, kemudian mengambil setelan piyama.
“Ini piyamanya.” Pelangi meletakkan piyama di samping sang suami.
“Tidak dibantu ganti bajunya? Kemarin di rumah sakit di bantu terus. Sekarang aku lupa bagaimana cara ganti baju sendiri.”
Rasanya Pelangi ingin menghilang saat itu juga.
...........
Visual Awan Mendung sama Pelangi sudah publis di IG ya.
__ADS_1
Follow IG Kolom_Langit
Mamaciiii 😘😘😘