Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Kehilangan!


__ADS_3

“Maryam!” 


Suara teriakan Guntur menggema, secepat cahaya kilat pria itu berlari tanpa memerdulikan apapun. Menerobos kerumunan pekerja hingga beberapa orang tampak saling dorong untuk memberi jalan. 


Guntur berjongkok, meraih tubuh lemah yang terbaring tak berdaya, dan memeluknya dalam ketakutan bercampur panik. 


Sementara Awan yang berada di lokasi yang sama sedang berusaha menenangkan Pelangi yang cukup shock dengan kejadian barusan. Beruntung mereka tidak terluka berat, hanya beberapa lecet akibat terhempas didorong Maryam. 


“Bangun, Maryam!”


Tangannya menepuk wajah itu beberapa kali, hingga perlahan kelopak mata Maryam terbuka. Lenguhan lemah yang menyiratkan rasa sakit membuat hati Guntur bagai teriris. 


“Bertahan sebentar saja! Aku akan membawamu ke rumah sakit!” lirih Guntur dengan berderai air mata. "Maafkan aku!"


Dengan menahan rasa sakit dan napas yang tersendat, wanita itu mengangkat tangannya membelai wajah sang suami. “Tolong jangan lakukan itu lagi! Aku kemari bukan untuk menyelamatkan mereka, tapi untuk melindungi kamu.” 


Guntur semakin terisak mendekap Maryam seerat-eratnya. Napas wanita itu pun semakin berat, melenguh kesakitan, lalu beberapa detik kemudian, kelopak matanya menutup. 


"Maryam!" Guntur kembali histeris mendekap tubuh istrinya, lalu melirik beberapa pekerja yang berkerumun. “Apa  yang kalian lakukan? Cepat panggil ambulan, istriku sedang terluka!” 


 Awan yang kemudian tersadar akan kondisi Maryam yang butuh pertolongan, segera berlari menuju tempatnya memarkir mobil tadi. Akan lebih baik segera membawa wanita itu ke rumah sakit, karena menunggu ambulan mungkin akan memakan waktu. 

__ADS_1


“Cepat bawa ke mobil!” Dengan dibantu seorang pekerja, Guntur membawa Maryam ke mobil. Pelangi yang masih panik ikut naik ke mobil dan duduk di samping suaminya. 


Mobil pun melesat cepat menerobos keramaian jalan. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Guntur tak henti-hentinya berusaha membangunkan Maryam. Cairan merah yang mengalir di beberapa bagian tubuh wanita itu membuat Guntur semakin ketakutan.  


“Bangun, Maryam! Maafkan aku!” Hanya kalimat itu yang terus terucap. 


...........


Hampir dua jam Guntur mondar-mandir dengan gelisah di depan sebuah ruangan berpintu kaca. Tubuhnya gemetar dengan wajah memucat. Takut akan terjadi sesuatu yang buruk terhadap istri dan calon buah hatinya membuat pria itu tak dapat berpikir jernih. 


Tak jauh darinya, Awan dan Pelangi juga masih duduk menunggu dengan sabar. Pelangi yang tampak letih bersandar di bahu suaminya. 


“Aku mau tetap di sini, Hubby. Bagaimana aku bisa pulang dan istirahat tanpa tahu keadaan Maryam.” 


“Ya sudah.” Ia merangkul Pelangi yang masih bersandar di bahunya. "Kita sama-sama berdoa supaya Maryam selamat."


Pelangi mengangguk pelan. Awan mencoba menenangkannya dengan menciumi puncak kepala sang istri yang terbaut hijab. Guntur sesekali melirik, dan untuk pertama kalinya ia tidak merasakan cemburu seperti sebelumnya ketika melihat kemesraan pasangan itu. 


Pintu kaca terbuka memunculkan seorang pria dengan jas putih. Guntur mendekat dengan pancaran mata penuh harap. "Bagaimana istri saya, Dokter?"


"Pasien mengalami luka cukup serius dan kehilangan banyak darah. Selain itu, maaf, janin dalam kandungannya tidak dapat diselamatkan," jelas sang dokter.

__ADS_1


Layaknya mendapat sambaran petir, Guntur semakin gemetar. Tubuhnya terkulai lemas bersandar di dinding.


"Bersabar dan terus berdoa." Dokter menepuk bahu sebelum akhirnya melangkah pergi.


Guntur kembali termenung dalam diam. Hingga beberapa saat berlalu, terdengar langkah kaki saling berkejaran dari ujung lorong rumah sakit. Guntur seketika menunduk penuh rasa bersalah saat melihat abah dan umi berjalan ke arahnya. 


"Guntur, bagaimana Maryam?" tanya Umi khawatir.


“Bagaimana semua ini bisa terjadi? Sedang apa Maryam di sana?” Pertanyaan Abah terdengar mendesak dan menuntut jawaban.


Guntur tak kuasa menjawab. Hanya rasa sesal yang memenuhi hatinya. Niat untuk mencelakai Awan malah berbalik kepada dirinya dengan sang istri yang menjadi korban. 


Detik itu juga, Guntur tak kuasa membendung luapan air matanya. Tubuhnya luruh dan bersimpuh di kaki umi dan abah. Meraung menyesali perbuatannya. “Maaf, Umi, Abah! Semua ini salah saya yang berniat mencelakai suami Pelangi sampai Maryam jadi korban.” 


Pelangi tersentak. Bangkit dari duduknya dengan hembusan napas cepat dan sorot mata penuh amarah.


...........


...Terima untuk semua bentuk dukungan, baik like komen dan hadiah....


...Salam sayang untuk semuanya....

__ADS_1


__ADS_2