
Informasi yang baru saja diberikan dokter membuat Awan terpaku di tempat. Sepenuh hatinya masih dipenuhi pertanyaan apakah pendengarannya tidak salah?
"Istri saya ... hamil?" tanyanya demi memastikan.
"Loh, Bapak belum tahu?" balas sang dokter.
Tak mampu menjawab dengan lisan karena lidahnya terasa kaku, Awan hanya merespon dengan gelengan kepala.
"Istri Bapak sedang hamil. Untuk memastikan bisa dilakukan pemeriksaan USG setelah Bu Pelangi siuman, ya."
"Ba-baik, Dokter. Terima kasih," sahut Awan terbata.
Setelah mengucapkan selamat, dokter ramah itu pun berlalu. Awan belum dapat berkata-kata. Pria itu meraih sebuah kursi dan duduk di sisi istrinya.
"Sayang ..." bisiknya pelan seraya mengelus puncak kepala. Meskipun masih dibelenggu rasa khawatir melihat wajah istrinya yang cukup pucat, namun ada rasa bahagia yang melambung.
Menjadi seorang ayah adalah sebuah kejutan besar yang tak terhingga.
Beberapa saat berlalu, kelopak mata Pelangi perlahan terbuka. Hal pertama yang hadir dalam pandangannya adalah tatapan penuh cinta sang suami.
"Hubby?" Pelangi meneliti ruangan yang baginya asing itu. "Ini di mana?"
"Kata Priska, tadi kamu pingsan. Jadi dia bawa kamu ke rumah sakit."
Pelangi berusaha mengingat kembali kejadian tadi ketika bertemu Priska di pusat perbelanjaan. Namun, ia tak dapat mengingat kejadian setelahnya.
"Kamu masih pusing?" tanya Awan lagi.
"Sedikit." Ia memang masih merasakan denyutan di kepalanya. "Tadi aku sudah mau pulang, tapi mendadak pusing. Setelah itu aku tidak ingat lagi."
Seraya mengelus puncak kepala sang istri, Awan tersenyum bahagia. "Dokter bilang kamu baik-baik saja. Hanya pengaruh kehamilan."
Rasanya, Pelangi belum mampu mempercayai ucapan suaminya. "Aku ... hamil?"
__ADS_1
"Iya, Sayang. Kamu akan jadi seorang ibu."
Mata Pelangi mendadak berkaca-kaca mendengar ucapan Awan. Tubuhnya yang masih lemah bersandar di bahu sang suami.
"Alhamdulillah."
............
Beberapa kali Priska melirik jam di pergelangan tangannya. Kurang dari satu jam lagi, ia ada janji temu dengan seseorang untuk membahas tentang pembangunan hotel milik keluarganya.
“Kenapa Awan lama sekali di dalam? Apa terjadi sesuatu yang serius dengan Pelangi?”
Tak ingin menerka-nerka dalam benaknya, wanita itu pun memilih masuk. Langkah kakinya mendadak terhenti, melalui celah tirai yang tersibak, ia melihat Awan dan pelangi tengah berpelukan mesra dan tampak sangat bahagia.
Aku iri melihat mereka. Senang rasanya kalau dapat jodoh yang baik.
Priska menghembuskan napas panjang, sesak kembali menghimpit dadanya. Alhasil, ia memilih keluar dari ruangan itu dan menunggu. Hingga beberapa menit kemudian, barulah Awan keluar.
“Kata dokter tidak apa-apa. Hanya pengaruh kehamilan.”
Priska tercenung mendengar ucapan Awan. “Pelangi hamil?” tanyanya hampir tak percaya. Membuat Awan mengangguk dengan raut bahagia yang tak dapat disembunyikan.
“Iya, Pris. Alhamdulillah.”
Meskipun masih ada setitik rasa cemburu di hatinya, namun sepenuh hati Priska turut bahagia mendengar kabar itu.
“Aku ucapkan selamat! Kamu akan menjadi seorang papa. Aku ikut senang mendengar kabar ini.”
“Terima kasih, dan terima kasih juga sudah mengantar pelangi ke mari. Maaf, kamu jadi repot.”
“Sama sekali tidak. Kebetulan kami bertemu di tempat yang sama." Wanita cantik dengan postur tubuh semampai itu berdiri dari duduknya setelah sebelumnya melirik arah jarum jam. "Oh ya, aku harus pergi sekarang. Ada janji dengan seseorang. Apa kamu bisa ikut aku ke parkiran? Barang belanjaan Pelangi ada di mobilku.”
“Oh, iya. Tentu saja.”
__ADS_1
Awan melangkah lebih dulu, diikuti Priska di belakangnya. Sepanjang jalan menuju parkiran, pandangan Priska terus terarah pada punggung mantan kekasihnya itu.
Dulu, kamu tidak pernah berjalan memunggungi aku. Sekarang, kamu bahkan tidak mau berjalan beriringan sama aku. Kenapa rasanya sesakit ini, ya.
Setibanya di mobil, Awan membuka bagasi bagian belakang. Ia terdiam menatap beberapa botol minuman beralkohol di sana.
Priska menunduk malu ketika menyadari apa yang Awan temukan di sana. Di saat Awan meninggalkan kebiasaan buruk mereka di masa lalu, Priska malah masih terpaku di sana.
Meski begitu, Awan tampak berusaha bersikap senormal mungkin dan tak menegur. Ia menurunkan beberapa kantongan belanjaan milik Pelangi dan memindahkan ke mobilnya, yang ternyata tak begitu jauh.
“Sekali lagi aku ucapkan terima kasih. Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau tidak ada kamu hari ini.”
“Sama-sama, Awan” Sikap canggung Priska terlihat sangat jelas, berbeda dengan Awan yang lebih santai. “Aku jalan dulu, ya. Selamat untuk kehamilan Pelangi.”
“Terima kasih,” balasnya dengan senyum. "Oh ya, Pris!" Baru saja Priska akan melangkah, namun panggilan Awan menghentikannya.
"Ada apa, Awan?" tanyanya.
“Assalamu’alaikum,” ucap Awan membuat Priska tersentak.
Ya, ia selalu melupakan salam saat berpisah atau bertemu dengan seseorang.
“Wa-alaikum-salam.”
Awan mengulas senyum tipis, lalu membalikkan tubuhnya melangkah. Sementara Priska terus menatap sang mantan kekasih hingga menghilang di balik sebuah pintu kaca.
Kamu benar-benar sudah berubah, Awan. Kamu menjadi seseorang yang baru dalam beberapa bulan saja. Tapi kenapa aku malah terus seperti ini?
Tersadar dari lamunan, Priska melirik bagasi belakang. Ia terdiam sebentar menatap botol-botol minuman memabukkan itu. Hingga akhirnya memilih mengeluarkan benda itu. Lalu, membuangnya ke tempat sampah.
Priska, kamu cantik! Sangat cantik! Kamu bisa dapat laki-laki yang jauh lebih baik dari Awan Wisnu Dewanto! ucapnya dengan senyuman tipis.
............
__ADS_1