Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Mas Guntur!


__ADS_3

Maryam hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya beberapa menit lalu. Pria yang menjadi suami sahabatnya sedang bersama wanita lain. 


“Siapa wanita itu? Apa Pelangi mengenalnya?” 


Maryam tak ingin menciptakan jawaban sendiri dalam benaknya. Dengan menahan sensasi mual dan sakit di kepala, ia bergegas kembali ke butik. Setidaknya, ia harus memastikan bahwa sahabatnya tidak mengalami nasib sama seperti dirinya. 


“April, Pelangi di mana?” tanya Maryam sesaat setelah tiba di butik. 


April menatap penuh tanya, sebab tadi Maryam meminta izin pulang lebih dulu karena sakit. “Mbak Pelangi di atas sedang shalat.” 


Maryam terburu-buru menaiki tangga untuk menemui Pelangi. Begitu membuka pintu sebuah ruangan, Pelangi baru saja selesai menjalankan shalat ashar. 


“Maryam? Ada apa?” tanya Pelangi heran.


Maryam tampak bingung. Tak tahu harus mulai dari mana. “Emh, aku kembali untuk menanyakan sesuatu.” 


“Menanyakan apa?” Sambil menunggu jawaban Maryam, Pelangi melepas mukena yang membalut tubuhnya. 


Maryam lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tas, lalu menggerakkan jempolnya naik turun pada layar ponsel. Segera ia serahkan benda pipih miliknya itu ke tangan Pelangi. 


“Pelangi, aku tahu ini bukan urusanku, tapi aku rasa perlu memberitahumu. Tadi dalam perjalanan pulang aku melihat suamimu bersama seorang wanita. Apa kamu mengenal wanita ini? Mereka bertemu di sebuah kafe tidak jauh dari sini.” 


Pelangi cukup terkejut melihat foto suaminya bersama Priska. Namun, kemudian senyum mengembang di bibirnya. Kemudian menyerahkan kembali ponsel milik Maryam.


“Aku kenal wanita ini. Dia adalah anak pemilik hotel yang sedang dikerjakan oleh suamiku. Namanya Priska.” 


Maryam mengusap dadanya lega. Setidaknya ia bisa tenang karena kecurigaannya salah. “Maafkan aku, Pelangi. Aku tidak ada maksud apapun, sungguh! Aku hanya takut kamu mengalami apa yang kualami. Makanya kupikir perlu memperlihatkan ini ke kamu.” 


Pelangi mendekati Maryam dan memeluknya. Ia tahu sejak dulu Maryam sangat peduli terhadapnya. Bahkan Maryam pernah terluka parah karena berkelahi dengan beberapa anak laki-laki yang mencoba menganggu Pelangi di sekolah.


“Terima kasih, Maryam. Insyaa Allah kami mampu saling menjaga hati masing-masing.” 


Maryam mengangguk. Beberapa saat kemudian melepas pelukan. “Aku lega mendengarnya. Pelakor itu ada di mana-mana. Kamu harus hati-hati.” 

__ADS_1


“Mereka hanya akan berhasil kalau ada celah. Laki-laki adalah makhluk yang mandiri. Tapi setelah menikah, mereka akan terbiasa dilayani. Kalau dia terpelihara kebutuhan mata, tercukupi kebutuhan perut dan terpenuhi kebutuhan biologisnya, Insyaa Allah berhadapan dengan siapapun di luar sana, dia tidak akan tertarik.” 


Maryam membeku mendengar penjelasan Pelangi. Kemudian mengusap cairan bening yang menggenang di ujung matanya. 


“Baiklah, aku kembali hanya untuk memberitahu itu. Aku lega kalau kamu tahu siapa perempuan itu."


Pelangi mengulas senyum.


"Kalau begitu aku pulang dulu. Kepalaku masih berat.” 


“Apa sekalian tidak tunggu Mas Awan? Sebentar lagi dia pasti sampai, biar kami sekalian antar kamu.” 


"Aku bisa kok. Sampai jumpa besok."


"Hati-hati di jalan, Mar."


Maryam melangkah keluar setelah berpamitan, sementara Pelangi bersiap-siap sembari menunggu suaminya. Wanita itu mengenakan kembali khimar panjangnya setelah memoles wajahnya dengan make up tipis. 


“Mbak Pelangi, tolong!” Suara teriakan April yang berasal dari lantai bawah mengejutkan Pelangi. Sontak wanita itu segera keluar dengan tergesa-gesa menuju lantai bawah. Tampak Maryam sedang duduk di sofa dengan wajah  sangat pucat dan bersandar di bahu April. 


“Tidak tahu, Mbak. Tiba-tiba saja jatuh ke lantai.” 


Pelangi duduk di sisi Maryam dan menyentuh beberapa bagian tubuhnya. Maryam tampak tak bertenaga dan tatapannya kosong.


“April, tolong pesan taksi online, kita bawa Maryam ke klinik saja!” 


“Baik, Mbak!” 


Baru saja April meraih ponsel untuk memesan taksi online, sudah terlihat mobil milik Awan terhenti di depan ruko. Pelangi segera meminta pertolongan sang suami. 


............


Maryam belum dapat membendung luapan air mata sejak beberapa menit lalu. Tangannya gemetar memeluk kain tipis yang membalut tubuhnya. Hasil pemeriksaan dokter membuat sendi-sendinya terasa lemas. Sesuatu yang tak pernah terencana hadir dalam dirinya.

__ADS_1


Kehamilan .... 


“Bagaimana aku bisa menanggungnya seorang diri? Sementara aku sama sekali belum menemukan keberadaan suamiku?” ucapnya dengan isak tangis. 


Pelangi yang menemaninya di ruangan dokter hanya dapat mengusap punggungnya. “Tenanglah, Maryam. Insyaa Allah akan ada jalan untuk kamu. Jangan takut, Allah bersama kita.” 


"Aku tidak akan kuat, Pelangi."


"Kamu pasti kuat. Demi anak kamu." Pelangi kembali memeluk sahabatnya itu. Mengusap punggung demi menguatkannya.


Bukan hal mudah memang, mengandung sendiri tanpa pertanggungjawaban seorang suami. Maryam tidak tahu lagi harus bagaimana.


Setelah menebus resep dari dokter, Maryam dan Pelangi meninggalkan klinik itu. Awan tampak sedang duduk menunggu di sebuah kursi panjang dengan memainkan ponselnya. 


“Sudah?” tanya Awan diikuti anggukan kepala oleh Pelangi. 


“Kamu merasa lebih baik, Maryam?” tanya Pelangi. 


Maryam hanya menjawab dengan anggukan kepala, nyaris tanpa ekspresi. Pelangi pun segera membukakan pintu mobil belakang. Baru saja Maryam akan naik, tatapannya tertuju pada seseorang yang berjalan dengan cepat menuju sebuah mobil yang terparkir. 


Wanita itu menajamkan penglihatannya yang terasa samar akibat genangan air mata. Lalu, beberapa detik kemudian, meyakini tidak salah orang setelah mampu mengenali potongan rambut dan gaya berpakaian. 


“Mas GUntur!” teriak Maryam memanggil.


Sontak Awan dan Pelangi menoleh untuk mencari sosok yang namanya baru saja diteriakkan Maryam. 


Benar saja, tak jauh dari mereka, Guntur tampak membeku menatap seorang wanita yang berjalan ke arahnya, dan dalam hitungan detik menabrakkan tubuh lemahnya dengan tangan melingkar erat. 


“Kamu dari mana saja, Mas? Kenapa meninggalkan aku sendiri?” 


Guntur gelagapan, seraya berusaha menjauhkan Maryam dari tubuhnya, namun wanita itu malah mengeratkan pelukan yang membuat Guntur tak berkutik. Sementara dari jarak beberapa meter, Awan dan Pelangi membeku, saling menatap penuh tanya.


Apa artinya si Bandar Korma ini suaminya Maryam? Brengsek juga lo ya? Mau enaknya doang! 

__ADS_1


............


__ADS_2