Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Jangan Lupa Berdoa


__ADS_3

"Maaf ya, sepertinya kamu harus punya stok sabar yang banyak. Aku berasal dari dunia yang gelap. Mungkin akan butuh proses panjang untuk belajar. Arah kiblat saja, aku sampai keliru."


"Tetap istiqamah, Mas. Jangan lelah untuk belajar. Ketika kita mengambil sebuah keputusan yang melibatkan-Nya, lalu melepaskan sesuatu yang kita senangi karena alasan-alasan syar’i, maka jangan takut! Karena Allah akan menggantinya, bahkan lebih."


Awan menatap Pelangi lekat. Setiap ucapan Pelangi selalu dapat mendamaikan hatinya.


"Terima kasih, Hunny!" ucapnya dengan lembut, membuat Pelangi tersipu malu hingga terasa ingin menyembunyikan wajahnya. Sudah dua kali ia mendengar Awan menyematkan panggilan itu.


"Oh, ya. Mas mau makan sekarang? Aku habis masak rendang ayam."


Satu hal yang membuat Awan selalu takjub akan Pelangi, istrinya itu selalu tahu apa saja makanan kesukaannya. Rendang ayam memang salah satu makanan favorit yang sudah lama tak dinikmati. "Maulah! Kamu tahu dari mana aku suka rendang ayam?"


"Aku sering tanya sama Bik Minah. Dia yang kasih tahu semua makanan kesukaan kamu."


Pelangi beranjak dan meletakkan nampan makanan di lantai. Melayani suaminya dengan mengambilkan nasi dan lauk. Baru menyesap aroma lezat yang menguar saja sudah membuat Awan tidak tahan untuk segera melahapnya.


"Emh, enak sekali, kamu pintar masak," ucapnya dengan mulut penuh makanan.

__ADS_1


"Mas belum baca doa?" tanya Pelangi ketika melihat suaminya sudah makan dengan lahap.


Sontak Awan tersedak makanan yang baru melewati kerongkongannya. Ia terbatuk-batuk sambil mengusap dada. "Maaf, lupa. Memang wajib sebelum makan baca doa, ya?"


"Wajib lah, Mas. Berdoa sebelum makan dan minum merupakan bentuk rasa syukur kita atas rezeki yang telah didapatkan. Selain itu bertujuan untuk menjaga keberkahan makanan yang akan disantap, dan supaya setan tidak ikut makan apa yang kita makan." Pikiran Awan langsung menerawang jauh, memikirkan makhluk mengerikan yang baru saja disebut istrinya.


"Setan juga bisa makan?" tanyanya dengan mata terbelalak.


Selama beberapa saat, ia menghentikan makannya. Menatap Pelangi dengan rasa ingin tahu yang menggebu.


"Jin dan setan adalah makhluk yang berdampingan dengan manusia, bahkan jin dan setan juga membutuhkan makanan."


"Dikisahkan jin makan makanan yang berasal dari kotoran manusia dan binatang, sari makanan dan minuman yang tidak diceritakan nama Allah. Mereka juga menyukai aroma dupa dan kemenyan, dan satu lagi."


"Apa?" Awan semakin penasaran.


"Setan juga sangat suka dengan minuman yang memabukkan," jelas Pelangi membuat Awan menipiskan bibirnya.

__ADS_1


Ia tersentil.


"Lo ngatain gue setan?" jeritnya dalam batin.


Awan menarik napas dalam, lalu membuang sisa tulang ayam dari mulutnya dengan sembarangan. Pelangi melirik benda putih yang baru saja dikeluarkan Awan dari mulutnya.


"Tulang juga adalah salah satu makanan kesukaan jin. Jadi sebaiknya setelah makan daging atau ikan, tulangnya langsung dibuang ke tempat sampah. Jangan simpan di dalam rumah, karena bisa mengundang jin untuk makan."


Lagi-lagi merasa tersindir, Awan langsung memungut kembali tulang ayam dan meletakkan di piring kecil, untuk nantinya langsung dibuang. "Aku pungut ya, biar setannya nggak jadi makan!"


Pelangi tertawa kecil. "Tapi lain kali kalau mau makan harus baca doa, Mas."


"Iya. Maaf, tadi lupa! Nggak apa-apa deh kali ini setan-setannya ikut makan!" Awan melanjutkan makannya. Masakan Pelangi terasa sangat nikmat melewati kerongkongan. Ia bahkan harus merasakan sensasi panas pada mulut dan lidah akibat rasa pedas, hingga keluar keringat.


Meraih segelas air putih, Awan membaca doa sebelum minum. Membuat Pelangi dipenuhi tanda tanya. "Nah, kenapa mau minum baru ingat baca doa?"


"Biar setan nggak ikut minum. Emang enak habis makan sambel nggak minum?"

__ADS_1


****


__ADS_2