Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Ajarin Kakak Napa?


__ADS_3

Zidan begitu terkejut setelah diberitahu Pelangi tentang niat Awan yang ingin menghapus tato di punggungnya. Siang itu juga ia berniat ingin mengunjungi klinik salah seorang temannya untuk berkonsultasi cara menghapusnya.


Namun, sebelumnya mereka menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah kafe setelah sebelumnya mengantar Pelangi pulang ke rumah.


"Kenapa mau dihilangkan?" tanya Zidan.


"Bukannya tato itu haram hukumnya dalam agama kita, ya?" Beberapa waktu lalu, Awan sempat membaca sebuah buku, di mana terdapat penjelasan mengenai hukum membuat tato pada tubuh. Dan ia menemukan bahwa tato hukumnya haram.


"Iya, Kak. Dalam agama kita, tato memang haram hukumnya."


"Apa wajib dihapus?"


"Menurut empat madzhab tidak wajib dihapus. Apa lagi kalau dalam prosesnya sampai melukai diri sendiri. Itu juga tidak diizinkan."


"Bagaimana dengan shalat orang bertato? Apa diterima?"


"Insyaa Allah diterima. Kak Awan bisa menggunakan air wudhu untuk mensucikannya."


Awan menganggukkan kepala. Meskipun terlihat garis keraguan di wajahnya.


"Jangan bimbang, Kak. Allah Maha Pengasih. Bukankah Allah lebih mencintai taubat seorang pendosa dibanding orang sholeh yang selalu merasa dirinya paling benar?"


Hati Awan mencelos mendengar penjelasan Zidan.


Lo juga ngatain gue pendosa, Dek?

__ADS_1


"Terus tatonya bagaimana?"


"Ya biarkan saja. Bentuk taubatnya adalah, jangan membuatnya lagi. Kecuali kalau ada alat yang memudahkan dan tidak menyebabkan luka di kulit, baru boleh dihilangkan."


"Terima kasih penjelasannya, Dek."


"Sama-sama, Kak."


Awan menjadi lebih tenang setelah mendengar penjelasan Zidan. Menjadi seorang suami yang layak bagi Pelangi adalah salah satu alasan yang membuatnya ingin selalu menjadi lebih baik.


Hampir satu jam dihabiskan Awan dan Zidan di kafe tersebut. Sudah beberapa kali Awan melirik Zidan seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi terlihat sangat ragu.


Zidan yang sangat peka lantas menatap kakak iparnya. "Kak Awan kenapa?"


“Boleh, Kakak mau tanya apa?” jawab Zidan santai sambil menikmati secangkir teh melati dan roti bakar kesukaannya.


Gue tanyanya gimana, ya?


Untuk beberapa saat Awan terdiam memilih kata yang tepat. Sebenarnya, dirinya pun malu menanyakan sesuatu yang bersifat pribadi. Namun, Zidan yang banyak tahu tentang hukum agama kadang menjadi tempatnya untuk mencari pencerahan.


“Dalam agama kita ada adab mulai dari membuka mata di pagi hari sampai menutup mata di malam hari."


"Iya, benar!" sahut Zidan singkat.


"Berarti ada adab dalam hubungan suami istri juga, kan? Bisa jelasin gimana adab malam pertama bagi suami istri menurut ajaran agama kita?” 

__ADS_1


Mendapat pertanyaan itu, wajah Zidan pun mendadak berubah merah. Teh manis yang baru ditenggaknya seolah memaksa menyembur keluar. 


Panik, Awan menepuk punggung adik iparnya yang tengah terbatuk-batuk sambil menepuk dadanya berulang-ulang, karena ulah sang kakak ipar.


"Mau minum, nggak?"


Tak kuasa menyahut dengan lisan, Zidan hanya menganggukkan kepala, sehingga Awan segera meraih sebotol air mineral dan menyerahkan kepadanya.


Zidan menuang air mineral ke dalam gelas kosong.


"Kamu pasti tahu kan adab-adabnya. Ajarin kakak napa, Dan!" ucap Awan memelas.


Belum sempat Zidan meneguk, Awan kembali melontarkan pertanyaan yang membuat air mineral itu kembali menyembur keluar. Dua kali sudah Zidan tersedak.


Apa normal laki-laki dewasa berusia 29 tahun yang sudah menikah bertanya kepada anak 19 tahun tentang adab malam pertama? 


Zidan meraih selembar tissue dan mengusap bibirnya yang basah.


“Kalau masalah begituan Kak Awan kan bisa tanya sama ayah yang lebih berpengalaman. Aku mana ngerti Kak,” jawab Zidan dengan malu-malu.


Awan membuang napas frustrasi. Punggung kokohnya langsung terlihat lemas bersandar di kursi. Seraya menatap Zidan, ia menggerutu dalam batin. 


Malu gue tanyanya, Dan! Gue kan nggak mau menjamah Pelangi secara sembarangan. 


.....….....

__ADS_1


__ADS_2