Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Perasaan Tidak Enak!


__ADS_3

Pelangi merasakan lemas pada seluruh bagian tubuhnya sejak terbangun pagi ini. Mimpi buruk semalam membuatnya tak dapat memejamkan mata Lagi hingga pukul tiga dini hari. Ia baru merasa sedikit tenang setelah bangkit untuk menjalankan shalat malam. Berdoa kepada Sang Pencipta untuk dilindungi dari segala bahaya. 


Bahkan saat sarapan, ia tampak tak berselera dengan hidangan di hadapannya. Wanita itu termenung dengan memainkan sendok di tangannya. 


“Kamu kenapa sih?” tanya Awan yang sejak terbangun menyadari keanehan sang istri. “Kamu sakit?” 


Pelangi menggeleng cepat, lalu menatap sendu suaminya. Bayang-bayang mimpi semalam pun kembali menghantui. “Perasaanku tidak enak. Tidak tahu kenapa.” 


“Karena mimpi semalam?” Awan membelai puncak kepala sang istri yang terbalut hijab. Semalam ia juga sempat terbangun saat mendengar Pelangi menjerit ketakutan. Pria itu ikut terjaga selama beberapa jam hingga tertidur tanpa sadar.


“Iya, Hubby. Aku merasa sangat takut.” 


Awan menggeser kursinya mendekat. Tangannya melingkar di pinggang istrinya. “Sudah, Sayang. Mimpi itu kan cuma bunga tidur. Memang semalam kamu mimpi apa sih?” 


Pelangi tak lekas menjawab sebab tak ingin sang suami ikut khawatir dan berimbas pada konsentrasinya dalam bekerja. “Tidak apa-apa, Hubby. Mungkin aku saja yang terlalu sensitif.” 


"Jangan terlalu dipikirkan. Semua akan baik-baik saja."


Setelah menghabiskan sarapan, pria itu melirik arah jarum jam pada arlojinya. Waktu sudah menunjuk angka delapan.


“Hari ini aku tidak ke kantor. Aku usahakan pulang lebih cepat dan temani kamu di rumah.” 


Sorot mata Pelangi langsung mengarah pada suaminya. “Tidak ke kantor? Memang mau ke mana?” 


“Mau mantau renovasi gedung rumah sakit. Cuma untuk memastikan semuanya lancar dan tidak ada kendala. Minggu depan kan kita mau ke luar kota.” Awan mengusap sisa makanan yang melekat pada sudut bibirnya dengan sapu tangan. “Aku berangkat dulu, ya.” 


Pelangi mengangguk pasrah. Entah mengapa perasaan takut yang bersarang di hatinya semakin kuat. Apa lagi ketika mengiringi langkah Awan menuju pintu. Ia menatap nanar punggung tegap yang berjalan membelakanginya setelah berpamitan dan mencium kening. 


“Hubby, tunggu!” panggil Pelangi tiba-tiba, saat Awan hendak membuka pintu mobil. 

__ADS_1


“Kenapa, Sayang?” 


“Apa boleh aku ikut?” Sebuah permintaan yang terdengar sedikit aneh itu menciptakan kerutan di dahi Awan. Tidak pernah sebelumnya Pelangi meminta ikut dengannya jika sedang bekerja. 


“Kamu mau ikut? Yakin?” tanya Awan memastikan. “Di sana tidak aman loh, ada banyak alat-alat berat dan gedung itu sedang dalam tahap pembongkaran.” 


“Tidak apa-apa, aku mau ikut saja.” Pelangi melangkah maju mendekati sang suami. “Boleh ya, Hubby. Aku hanya mau menemani kamu.”


Rengekan manja itu membuat Awan takluk dan tak kuasa menolak. Ia mengangguk setuju diiringi senyuman tipis.


"Tapi ingat, di sana jangan jauh-jauh dari aku," ucapnya menekan.  


“Iya, Hubby!” Pelangi tersenyum senang. 


Aduh, kenapa gue iyain sih? Di sana akan ada si Bandar Korma juga. Kalau dia liatin kamu terus gimana? 


........ ...


Beberapa kali ia harus menundukkan pandangan saat menyadari para pekerja yang kadang menatapnya penuh selidik. Tak heran, sebab ini adalah kali pertama Awan datang untuk meninjau proyek dengan membawa seorang wanita bersamanya. 


 Sedangkan Awan harus bersabar menahan kesal dan cemburu. Dia yang serba tertutup membuat orang-orang di sekitarnya kadang penasaran ingin tahu kehidupan pribadinya.


"Apa kita masih lama di sini?" Akhirnya kalimat yang sejak tadi ingin ia utarakan terucap juga.


"Lumayan. Kamu mau aku antar pulang dulu?"


Namun, tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Pelangi. Dirinya pun tak mengerti apa yang membuatnya tak ingin jauh dari sang suami walau semenit pun.


"Aku akan pulang bersama kamu," ucapnya tanpa dapat ditawar.

__ADS_1


"Ya sudah, nanti kalau capek bilang, ya."


Awan merangkul Pelangi ke arah beberapa pekerja yang tampak sedang berdiskusi.


"Sayang, aku mau bicara dulu dengan kepala mandor dan beberapa pekerja. Kamu tunggu di sini sebentar, bisa?"


Pelangi mengangguk mengerti. Wanita itu memilih duduk di sebuah kursi sambil memperhatikan suaminya yang berdiri dengan gagah memberi arahan kepada beberapa pekerja.


Hingga tatapannya mengarah kepada satu titik yang membuat seluruh tubuhnya terasa meremang. Sosok pria yang berada tak begitu jauh dari darinya itu menatap suaminya dengan penuh kebencian.


Itu kan Kak Guntur. Kenapa dia menatap Mas Awan seperti itu?


Tiba-tiba perasaan aneh itu hadir kembali. Wanita itu masih melamun ketika Awan datang dan membuyarkan lamunannya.


"Sayang, sudah selesai. Pulang, yuk!" Awan mengulurkan tangan dan segera disambut hangat oleh Pelangi.


Mereka berjalan beriringan meninggalkan gedung tinggi yang sedang dalam tahap renovasi itu.


Tiba-tiba hal tak terduga pun terjadi. Tanpa disadari Awan, sebuah tiang besi berukuran besar miring ke arah kiri dan hendak ambruk.


"Pelangi, Kak Awan, awas!" teriak seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.


Gerakannya yang cepat membuat Awan tak sempat untuk menoleh hingga merasakan tubuhnya mendapat dorongan kuat dan terhempas bersama Pelangi.


Bruk! Terdengar suara benda terhempas keras.


Suasana kerja penuh semangat berganti menjadi suasana panik. Semua orang terkejut, begitu pun dengan Guntur yang berada tak jauh dari lokasi kejadian.


"Maryam!" teriaknya histeris menatap sang istri tergeletak tak berdaya dengan cairan merah di beberapa bagian tubuhnya.

__ADS_1


..........


...........


__ADS_2