Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Pelangi Berselimut Awan


__ADS_3

☁️🌈Ini bab dewasa. Ambil sisi positifnya saja dan jika menemukan sisi negatif, maka buanglah. Semoga bermanfaat bagi yang akan membina atau telah membina rumah tangga.


*


*


*


............


“Allahumma baarik lii fii ahlii, wa baarik lahum fiyaa. Allahummazuqni warzuqhum minni. Allahummajma’ baynana maa jama’ta ila khairin, wa farriq baynanaa idza farraqta ilaa khairin.” (Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan kepada istriku. Berikanlah rezeki kepadaku karena dia dan berikanlah rezeki kepadanya karena aku. Satukanlah kami dalam kebaikan dan jika dipisahkan nanti dalam kebaikan pula) 


Cairan bening mengalir di pipi Pelangi setelah Awan meniupkan sebuah doa ke ubun-ubunnya. Sebuah rasa bahagia yang olehnya sendiri tak dapat diukur atau dibandingkan dengan kebahagiaan yang lain.  


Ia menatap sendu wajah itu.


Memanjakannya dengan sentuhan lembut, Awan membuat Pelangi seakan terbang ke nirwana. Mencurahkan perhatian yang tak pernah ia beri pada malam-malam sebelumnya. Sebuah kasih sayang yang membuat Pelangi terlena dan merasa begitu dicintai. 


Dan tak seperti malam-malam sebelumnya di mana Pelangi bersikap lebih dewasa, malam ini ia menunjukkan sisi manjanya sebagai wanita. Pakaian menerawang yang membalut tubuhnya menjadi alasan hadirnya semburat merah, saat Awan beberapa kali memuji kemolekan tubuhnya.


Awan mendorong Pelangi dengan lembut hingga tubuh keduanya terbaring di ranjang. Pelangi yakin saat ini wajahnya semakin merah, karena rasa panas terasa merambat ke seluruh tubuhnya. Di tambah debaran jantung yang membuat tubuhnya ikut gemetar.


"Kamu sudah siap?"


Tatapan hangat Awan membuat Pelangi terhipnotis hingga lidahnya terasa kaku.


"A-ku si-ap."


Di saat Pelangi merasa sangat gugup, justru Awan terlihat cukup santai dan menikmati. Ia lalu membenamkan ciuman dalam di kening.


"Aku cium di kening agar kamu tidak memikirkan orang lain selain aku." Lalu dilanjutkan dengan mencium kelopak mata kanan dan kiri bergantian. "Ini agar hanya ada aku di matamu."

__ADS_1


Dan satu ciuman manis di bibir. "Dan yang ini agar hanya namaku yang selalu terucap dari sini."


Pelangi semakin terhanyut, dan Awan segera memulai dengan sebuah doa.


"Bismillah Allahumma jannibnaassyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtana." (Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami)


Awan menarik selimut demi menutupi tubuh mereka. Dengan sentuhan, ia mengalirkan semua cinta yang dimilikinya untuk Pelangi. Melakukannya sesuai dengan tuntunan. Tidak berlebihan, namun sangat menyenangkan. Menegaskan bahwa hubungan suami istri bukan hanya untuk mendapatkan kenikmatan dan memuaskan hasrat semata, melainkan mengubah syahwat menjadi berpahala.


Malam itu Pelangi memberikan pelayanan terbaik bagi sosok yang berkuasa atas tubuhnya dan membiarkan Awan melakukan apapun yang diingininya tanpa batasan. Matanya terpejam saat dua tubuh itu melebur jadi satu.


Keduanya terbuai mengarungi indahnya surga dunia yang melenakan. Hingga tanpa terasa keringat telah bercampur membasahi tubuhnya.


Awan mengakhiri pergumulan panas itu dengan ciuman di kening. Sebuah doa ia diucapkan sesaat setelah melepaskan bibit kehidupan baru.


"Allahummaj’alnuthfatanaa dzurriyattan thayyibah." (Ya, Allah jadikanlah nuthfah kami ini menjadi keturunan yang baik)


Keduanya saling tatap penuh cinta. Hingga napas yang berat berangsur normal. Mereka pun kembali menyatukan tubuh melalui pelukan hangat. Untuk pertama kalinya Pelangi berselimut Awan.


"Alhamdulillahi dzi khalaqa minal maa i basyaraa."


............


"Hunny, kamu di mana?" panggilnya dengan suara serak, juga dengan mata masih terpejam.


Perlahan ia membuka mata saat merasakan cahaya matahari yang menyelinap melalui celah tirai menyilaukan matanya.


Awan melirik arah jarum jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Tadi selepas shalat subuh, ia kembali melanjutkan tidurnya akibat rasa lelah.


Suara peralatan masak yang saling beradu membuat Awan meyakini bahwa Pelangi sedang memasak di dapur. Aroma yang menguar seolah memanggilnya untuk segera menyusul.


"Sayang ..." Pelangi hampir terlonjak ketika tiba-tiba sepasang tangan melingkari perutnya dengan erat. Juga dengan bahunya yang terasa mendapat beban berat, karena Awan bersandar di sana.

__ADS_1


"Hubby baru bangun?"


"Huum."


"Belum mandi, ya? Katanya pagi ini mau kerja."


"Iya sih. Tapi rasanya malas."


"Kenapa?"


Males gue ketemu si Bandar Korma. Namun, kalimat itu hanya ia gumamkan dalam hati, agar tak menjadi beban pikiran bagi Pelangi. Hingga akhirnya yang terucap dari bibirnya malah kalimat rayuan.


"Rasanya nggak bisa jauh-jauh dari kamu. Apa lagi semalam kamu hot."


"Mas, aku lagi masak," protesnya ketika merasakan tangan Awan yang tadinya melingkar di perut bergerak ke atas.


"Iya." Awan mencium pipi, sebelum memilih kembali ke kamar untuk mandi.


..........


Selepas memasak, Pelangi kembali ke kamar untuk menyiapkan pakaian suaminya.


Begitu memasuki kamar, terlihat Awan sedang berdiri menghadap cermin dengan handuk putih yang melilit pinggangnya. Pelangi segera menuju lemari dan mengeluarkan pakaian kerja sang suami.


Namun, Awan tak beranjak sedikit pun dari posisinya.


"Lagi ngapain mas?"


Awan melirik sekilas, lalu tersenyum lebar hingga membuat lesung pipitnya terlihat semakin dalam.


"Lagi liatin maha karya kamu semalam," jawab Awan seraya memperhatikan pantulan dirinya melalui cermin. Punggung tegapnya yang dihiasi tato bercampur beberapa bekas cakaran.

__ADS_1


Pelangi kembali tersipu malu. Semalam, tanpa sadar ia terus mencakar punggung Awan.


...........


__ADS_2