Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Saling Terbuka


__ADS_3

“Bukankah sepasang suami istri seharusnya saling percaya? Tapi sebelum itu, harus ada kejujuran yang menjadi dasar. Apakah kamu sudah benar-benar jujur kepada pasanganmu?” 


Perlahan tangan Awan yang mencengkram lengan Pelangi mulai merenggang. Pria itu seketika tersadar dengan sikapnya yang salah. Ia menggeser posisi dan memeluk Pelangi, saat otaknya mampu menebak maksud perkataan sang istri. 


“Aku seorang istri yang juga punya rasa cemburu saat suaminya pergi jauh.” 


Tak dapat dipungkiri, ucapan Pelangi yang mengaku cemburu membuat hati Awan menghangat. Ia mengeratkan pelukan. Sebenarnya, tidak ada niat sedikitpun dalam dirinya untuk menyembunyikan sesuatu dari Pelangi. 


“Aku tidak berniat untuk membohongi kamu. Aku benar-benar minta maaf.” 


Sepasang suami istri itu terdiam selama beberapa saat, hingga perasaan masing-masing menjadi lebih tenang. Meskipun sedang ada ketegangan di antara mereka, namun keduanya masih berbaring dengan posisi saling memeluk. Pelangi menjadikan lengan Awan sebagai sandaran dan membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami. 


“Maukah saling berjanji untuk selalu jujur dan tidak merahasiakan apapun?” 


Awan mengangguk, lalu menciumi kening Pelangi. “Sebenarnya minggu depan aku ada tugas kantor keluar kota selama dua minggu.” 


“Aku sudah tahu. Akan ada Priska juga, kan?” tanya Pelangi. 


Awan terkejut. "Kamu tahu dari mana?"


"Dari ibu. Makanya aku agak kecewa karena kamu menyembunyikannya dari aku."


Dengan lembut, Awan mengusap rambut sang istri. “Sayang, demi Allah bukan karena dia sehingga aku menutupi ini. Aku tidak peduli di sana ada Priska atau tidak. Dia bukan siapa-siapa lagi bagiku."


"Tapi bukankah dengan tidak jujur akan berakibat lebih buruk?"

__ADS_1


"Maafin aku. Aku cuma tidak mau kamu salah paham dan berpikir yang macam-macam."


“Aku mau ikut!”


Permintaan Pelangi yang mendadak membuat Awan lebih terkejut. Akan cukup beresiko jika Pelangi ikut keluar kota. Apa yang diceritakan Zidan pagi tadi cukup sebagai alasan.


"Ikut? Tidak mungkin, Hunny!"


"Kenapa?"


“Di sana juga akan ada Bandar Korma! Kalau kamu ikut, itu sama saja dengan memberi dia peluang untuk mendekati kamu. Selain itu, aku akan lebih banyak di lapangan. Siapa yang akan menemani kamu di hotel saat tidak ada aku?” 


Tubuh Pelangi terasa meremang mendengar nama itu. Walau bagaimana pun, tidak mudah untuk menghilangkan trauma atas perbuatan Guntur di masa lalu.


"Kamu bilang cemburu kalau aku dekat Priska, kan?"


"Terus kamu pikir aku tidak cemburu kalau ada laki-laki lain yang memandang kamu?"


Kalau nggak ingat dosa sama penjara, udah gue colok matanya!


"Tapi bagaimana kalau dia berniat jahat lagi? Aku takut dia akan mengulanginya."


"Insyaa Allah aku bisa jaga diri. Kamu tenang saja. Lagi pula, ayah sudah bicara sama orang tuanya si Bandar Korma itu."


Dan nggak lama lagi dia akan balik ke habitatnya.

__ADS_1


Awan pun berusaha meyakinkan Pelangi sekali lagi. Mereka saling terbuka dan mengungkapkan isi hati masing-masing.


"Kalau aku minta sesuatu, apa kamu akan berikan?" tanya Pelangi setelahnya.


"Ya, selama aku sanggup."


“Hubby, apa tidak bisa resign saja dari perusahaan itu? Kenapa tidak bekerja di tempat lain yang jauh dari lingkungan mereka?” 


Apa yang diucapkan Pelangi memang benar adanya. Dan sebenarnya, jauh sebelum itu Awan sudah memikirkannya. Tetapi ia masih terikat kontrak kerja yang tak dapat dilanggar. Selain itu, Awan bukanlah tipe orang yang suka mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan.


"Aku mohon, Hubby!" Wajah Pelangi yang memelas membuat Awan tidak tega.Pria itu menarik senyum seraya membelai wajah istrinya.


“Aku janji sama kamu, begitu proyek ini selesai, aku akan resign.” 


Pelangi mengangguk mengerti. Beban di dadanya sedikit berkurang.


"Soal Priska jangan pikirkan. Suami kamu ini memang minim akhlak di masa lalu, tapi percaya deh, aku nggak doyan sama yang nggak halal."


Pelangi menatap suaminya penuh selidik. "Tapi kamu tidak ada rencana untuk menghalalkan yang lain lagi kan?"


Astaghfirullah!


Awan tersenyum. "Tidak! Sama kamu aja tenagaku sudah terkuras habis, bagaimana mau tambah yang lain?"


Mendadak pipi Pelangi menjadi merah.

__ADS_1


..........


__ADS_2