
Perlahan, kelopak mata Maryam terbuka saat mendengar pengumuman bahwa pesawat akan segera mendarat. Lampu kabin telah dimatikan, membuatnya tak menyadari siapa yang sedang duduk di sampingnya.
“Blazer siapa ini?” Ia menyingkirkan benda yang telah menghangatkannya sepanjang perjalanan.
Maryam yang sebenarnya ketakutan setiap kali pesawat hendak terbang dan mendarat hanya dapat berpegangan pada kursi kuat-kuat. Matanya terpejam rapat demi mengurangi ketakutan. Namun, sosok tangan halus yang menggenggam tangannya kuat membuatnya melotot.
Antara takut dan marah karena tangannya dipegang seenaknya oleh seorang pria yang bukan mahram, Maryam mencoba melepaskan diri. Tak peduli lagi pada ketakutannya atas guncangan yang timbul saat pesawat berpijak di jalan.
“Kamu siapa? Lepaskan tangan saya!”
Alih-alih melepas, genggaman itu malah semakin erat. Maryam merasa meremang, hingga tangannya terangkat untuk melayangkan tamparan kepada pria kurang ajar itu. Akan tetapi, tangan Maryam yang sudah melayang dengan mudah ditangkapnya.
“Dosa loh, nampar suami sendiri.” Suara tak asing itu membuat Maryam kembali melotot.
Lampu pesawat pun menyala terang. Tatapan pria yang duduk di sebelahnya membuat Maryam kehilangan kata-kata.
“Ka-mu?” Maryam seperti kehilangan akal sehatnya. Ia memutar pandangannya ke segala arah. “Bagaimana kamu bisa ada di sini?”
Guntur mengukir senyum tipis di bibirnya. “Aku beli tiket dengan penerbangan yang sama. Kita juga naik ke pesawat sama-sama. Tapi kamu tidak melihat aku.”
“’Untuk apa lagi kamu mengikuti aku?”
“Walaupun aku tahu itu sulit bagi kamu, tapi aku tetap mau minta maaf untuk semua kesalahanku.”
“Aku sudah memaafkan kamu, Mas.”
__ADS_1
Guntur menatap Maryam lekat-lekat. “Kalau sudah dimaafkan kenapa kamu malah pergi?”
Bola mata Maryam mendadak dipenuhi cairan bening. “Pergi bukan berarti tidak bisa memaafkan. Aku hanya butuh waktu untuk menata ulang hidupku.”
“Aku tahu.” Guntur mengeratkan genggaman tangannya.
Lelehan air mata mengalir di pipi Maryam.
“Kita bisa memulai semuanya di tempat yang baru. Kamu mau kan ikut aku ke Malaysia. Kita mulai semuanya di sana. Aku juga mau menata ulang hidupku. Aku mau sembuh dan hidup normal seperti orang lain. Tapi untuk itu aku butuh seseorang di sampingku, dan orang itu adalah kamu.”
...........
Di belahan bumi lain ....
Kini, Pelangi sedang menatap takjub sebuah rumah minimalis yang asri dan hijau. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa Awan benar-benar serius dengan ucapannya beberapa waktu lalu, yang berkata ingin membeli sebuah rumah baru untuk memulai kehidupan yang baru bersama Pelangi.
“Apa ini rumah kita?” tanya hampir tak percaya dengan pandangan berkeliling. Sebuah rumah berlantai dua dengan taman luas dan juga kolam renang.
“Iya, Sayang. Rumah ini untuk kamu.” Pelangi masih menatap takjub. “Kamu suka?” tanya Awan lagi, setelah sang istri tak kunjung menyahut.
“Alhamdulillah, aku sangat suka, Hubby!”
Awan menggandeng tangan istrinya memasuki halaman rumah. Hal pertama yang akan mereka lihat adalah taman belakang. Dari informasi yang didapat Awan setelah mengiterogasi adik iparnya, ia mengambil sebuah kesimpulan bahwa Pelangi suka berkebun. Karena itulah sebuah kebun kecil dengan berbagai tanaman sudah ia persiapkan di sana.
Pelangi kembali kembali termangu menatap beberapa pohon lumanyan tinggi yang sudah berbuah.
__ADS_1
“Zidan bilang kamu suka berkebun, jadi aku buatkan kebun minimalis untuk kamu.” Pelangi terkekeh mendengar kata kebun minimalis yang disematkan suaminya. “Kamu tidak usah repot-repot merawatnya lagi, karena pohonnya sudah berbuah.”
“Terima kasih, Hubby!” Pelangi bergelayut manja di lengan suaminya, lalu melirik ke kanan dan kiri demi memastikan tidak ada orang lain di sana. Lalu, membenamkan ciuman sayang di pipi sang suami.
Hal sesederhana itu saja sudah mampu membuat Awan tersenyum bahagia. “Coba lihat itu!” Ia menunjuk deretan tanaman hias dengan bunga-bunga bermekaran. “Zidan juga bilang kamu suka merawat bunga, jadi aku siapkan banyak tanaman hias di sini. Kamu tidak perlu repot-repot merawat lagi, karena sudah berbunga semua.”
Bibir pria itu kembali melengkung, menunjukkan rasa bangga. Padahal Awan tidak tahu saja, bahwa yang disukai Pelangi itu bukanlah buahnya, tetapi proses dalam merawat tumbuhan itu. Ia akan sangat senang saat terbangun di pagi hari dan menemukan daun yang baru tumbuh pada tanamannya.
“Pohon-pohonnya beli di mana?” tanya Pelangi antusias.
“Aku paksa yang punya kebun untuk jual pohonnya.”
Pelangi mengatupkan bibirnya menahan tawa. “Kalau bunga-bunganya?”
Awan tak segera menjawab, sehingga menciptakan kerutan tipis di kening sang istri. “Sebagian beli di toko tanaman hias, sebagian lagi ... Ngerampok di rumah ibu.”
Pelangi pasti sudah menyemburkan tawa jika tidak mengingat usaha keras Awan untuk membahagiakannya.
“Ngomong-ngomong, aku suka semangka. Tapi kemarin cari pohon semangka tidak ketemu.”
Mau tidak mau, Pelangi tertawa mendengar kalimat menggemaskan yang meluncur bebas dari mulut suaminya. “Semangka mana punya pohon, Hubby! Semangka itu tumbuhnya merambat, jadi tidak ada pohonnya.”
Iyain aja napa sih?
...........
__ADS_1