
Tiga hari kemudian ....
Pelangi kembali ceria setelah mengunjungi Maryam di rumah sakit. Selama beberapa hari belakangan, ia tak henti-hentinya memikirkan sahabatnya itu.
Senyum tak pernah memudar dari bibirnya bahkan hingga meninggalkan gedung rumah sakit. Sebelum pulang ke rumah, ia akan mampir ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa keperluan.
“Sesenang itu, ya?” ujar Awan sesekali melirik pelangi yang duduk di sisinya, kemudian kembali terfokus kepada jalan di depan.
“Iya, Hubby. Alhamdulillah, Maryam hari ini sudah boleh pulang. Aku sangat lega.”
“Alhamdulillah. Jadi sekarang tidak murung lagi kan seperti kemarin.”
Pelangi mengulas senyum tipis. Tubuhnya bergeser mendekat dan bersandar di bahu suaminya, sebuah gestur yang menciptakan kerutan tipis di kening Awan.
Kamu sekarang berani ya, dulu malu-malu gitu bawaannya.
“Maafkan aku, Hubby. Aku agak egois belakangan ini.”
Awan mengelus puncak kepala sang istri. Beberapa waktu belakangan, Pelangi memang mengalami perubahan emosi yang tak menentu, lebih sensitif dan cenderung cengeng.
“Tidak apa-apa, Sayang. Yang penting jatah tidak berkurang.”
Sudut mata Pelangi berkerut mendengar ucapan sang suami yang baginya cukup iseng itu. “Jatah?” tanyanya curiga.
“Jatah perut, Hunny!” Awan tertawa kecil. “Kamu pikir jatah apa?”
“Kamu kan biasanya menciptakan istilah yang aneh.”
"Yang aneh bukan istilahnya, tapi kamu yang pikirnya kejauhan. Orang tadi aku bilangnya jatah perut, bukan jatah di bawah perut. Jaraknya satu jengkal loh itu."
__ADS_1
Suami yang mendadak iseng itu melirik dengan sudut matanya untuk melihat reaksi Pelangi. Biasanya pipi wanita itu akan memerah saat merasa malu jika Awan menggodanya.
Penjelasan panjang itu pun berhasil membuat wajah Pelangi memerah, setelah otaknya berhasil membedah maksud kalimat jarak satu jengkal yang dimaksud sang suami.
"Nah, mukanya merah lagi. Kamu sedang memikirkan apa sekarang?"
"Huft!" Pelangi membuang napas panjang seraya merebahkan punggungnya.
Butuh waktu lima belas menit perjalanan hingga mobil berhenti tepat di depan lobby sebuah pusat perbelanjaan. Pelangi melepas sabuk yang melingkar di tubuhnya.
“Yakin tidak apa-apa sendirian?” tanya Awan hendak memastikan. “Pulangnya mau aku jemput?”
“Tidak usah, Hubby. Aku akan pulang dengan taksi online. Lagi pula belanjanya tidak banyak, kok.”
Hampir satu jam dihabiskan Pelangi untuk berbelanja beberapa keperluan pribadinya dan juga kebutuhan dapur. Padahal ia hanya berbelanja di satu tempat, namun rasa lelah membuat dirinya bagai kehabisan energi.
“Pelangi ...” Sapaan seorang wanita berhasil mengalihkan perhatian Pelangi saat mendorong troli belanjaan keluar dari swalayan.
“Priska”
Pelangi cukup terkejut bertemu dengan Priska di tempat itu. Awalnya, Pelangi agak ragu untuk menerima ajakan Priska makan siang di sebuah restoran. Namun, Priska yang mengaku ingin membicarakan sesuatu yang penting akhirnya membuat Pelangi mengiyakan ajakan itu.
“Aku minta maaf, ya. Aku pernah berbuat tidak sopan kepada kamu dan keluarga kamu. Dengan tidak tahu dirinya, aku malah memfitnah Awan. Aku merasa malu dengan perbuatanku sendiri,” ucap Priska.
“Tidak apa-apa. Semua orang kan bisa khilaf.”
“Aku sempat egois. Aku pikir dunianya Awan hanya ada aku. Tapi kemudian aku sadar itu salah. Anyway, ikut senang kamu dan Awan bahagia.”
“Terima kasih, Priska! Semoga kamu juga mendapatkan jodoh yang baik.”
__ADS_1
“Aamiin. Setidaknya aku sudah sedikit lega setelah bertemu dengan kamu di sini dan meminta maaf langsung. soalnya, tidak lama lagi aku akan pindah ke Jerman.”
Pelangi mengangguk pelan. Sebelumnya ia sudah mendengar rencana kepindahan Priska dari suaminya. “Aku tahu. Mas Awan sudah cerita.”
“Dia cerita bahwa kami pernah bertemu?”
Pelangi mengangguk. "Iya. Semoga di tempat yang baru nanti, kamu mendapatkan kebahagiaan."
"Terima kasih, Pelangi."
Mereka melanjutkan makan siang dengan membicarakan banyak hal. Diakui Priska, Pelangi adalah sosok wanita lemah lembut. Tak heran jika Awan begitu mudah bertekuk lutut.
“Oh ya, sudah hampir siang. Aku harus ke kantor, masih ada banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Senang bisa bertemu dengan kamu di sini,” ucap Priska kemudian.
“Sama-sama. Aku juga senang bertemu kamu hari ini.”
Dua wanita itu saling merangkul sebelum berpisah.
Pelangi hendak mendorong troli belanjaannya keluar. Namun, hal tak terduga tiba-tiba terjadi. Ia merasakan segala sesuatu di sekitarnya seperti berputar. Pelangi memejamkan mata beberapa saat, namun hasilnya tetap sama. Semua tetap membuyar dalam pandangannya.
“Kamu kenapa?” Priska menghampiri Pelangi.
“Aku merasa agak pusing.” Pelangi memijat pelipisnya, sebelum akhirnya terhuyung ke belakang. Beruntung, Priska segera menangkap tubuhnya, sehingga tak terbentur lantai.
"Pelangi, bangun! Kamu kenapa!" teriaknya dengan panik, terlebih saat menatap wajah pucat wanita itu.
...........
...Kalau ada typo, tolong kasih tau yaa 🥰🥰...
__ADS_1