
Jika ditanya kota manakah yang menjadi impian Pelangi, mungkin ia akan memilih Kota Mekah sebagai jawaban. Namun, jika ditanya tempat mana yang paling disukainya untuk melepas penat, maka Puncak adalah jawabnya. Sebuah tempat yang menawarkan keindahan dengan udaranya yang sejuk.
Melalui sebuah pembicaraan panjang, Awan berhasil membujuk Pelangi agar mau menghabiskan waktu hanya berdua saja. Tanpa harus melibatkan keluarga.
Mungkin bagi Awan yang masa lalunya diisi dengan beberapa wanita, kencan seperti ini menjadi hal biasa. Namun bagi Pelangi yang baru mengecap makna cinta, sudah pasti ini menjadi saat-saat paling mendebarkan.
Berbagai kejutan dipersiapkan Awan dengan sempurna. Makan malam romantis dengan pemandangan langit di malam hari yang dihiasi gemerlap cahaya kembang api. Dan ditutup dengan kegiatan menguras tenaga di sebuah vila mewah dengan pemandangan lampu-lampu kota.
"Kamu suka kejutannya?" tanya Awan yang masih betah memeluk Pelangi dalam balutan selimut.
"Suka. Kapan-kapan kita ke sini lagi, ya."
"Iya, Sayang," jawabnya seraya membelai rambut panjang istrinya.
Udara Puncak cukup sejuk malam itu. Membuat Pelangi seperti enggan untuk beranjak.
Bahkan selepas menjalankan ibadah subuh, ia kembali tertidur.
...........
Diakui Awan, menjadi seorang suami idaman itu tidaklah mudah. Wanita adalah sosok yang sulit dipahami. Kadang mereka berkata tidak, namun dalam hati memendam keinginan yang begitu menggebu-gebu.
Seperti halnya Pelangi ketika Awan menanyakan tentang makanan kesukaannya. Wanita itu hanya menjawab dengan kalimat ambigu.
__ADS_1
“Aku suka semua jenis makanan.” Tanpa menyebutkan salah satu di antaranya.
Hingga akhirnya, Zidan pun menjadi pilihan terakhir bagi Awan untuk bertanya. Namun, jawaban yang diberikan pemuda itu membuat Awan ingin menenggelamkan dirinya ke dasar Bumi.
“17 ribu pulau di Indonesia, 34 provinsi dengan 3529 jenis kuliner nusantara kenapa harus opor ayam yang dipilih?” Gerutuan panjang itu menjadi kalimat pertama yang terucap dari mulut Awan pagi ini.
Di hadapannya sudah tersedia beberapa bahan masakan lengkap dengan buku resep. Sebuah kain bermotif kotak-kotak ia ikatkan pada pinggang untuk melindungi pakaiannya dari noda minyak.
“Usia gue hampir tiga puluh tahun tapi belum pernah masak, Bro!” ucapnya lagi dengan tatapan mengarah pada beberapa potong ayam.
Sebenarnya, ia bisa saja memesannya pada restoran setempat atau meminta penjaga vila untuk memasaknya. Namun, sebagai wujud permintaan maaf dari insiden salah kalung kemarin, ia bertekad untuk memasaknya sendiri.
Bukankah wanita akan menilai seorang pria yang rela memasak untuknya sebagai tindakan romantis?
Awan memulai setiap langkah dengan mempercayakan rasa pada buku resep.
Elah, mana gue tahu bau sedap itu kayak apa? Sepanjang memasak, ia tak henti-hentinya menggerutu.
“Tambahkan daun salam.” Awan terdiam sejenak menatap buku resep di tangannya.
“Gue tahu gue baru hijrah, tapi gue juga nggak bodoh-bodoh amat. Gila aja disuruh kasih salam sama makanan.”
Pria itu meletakkan buku ke atas meja dengan ekspresi kesal. “Tapi kalau nggak dikasih salam, nanti makanannya nggak enak.”
__ADS_1
Ia mendekati masakannya yang mulai mengeluarkan asap panas, lalu berbisik pelan, “Assalamu’alaikum.”
Gue kok kayak orang beg*o, ya?
Sembari menepuk dahinya sendiri, Awan meraih kembali buku dan membaca dengan serius. "Masukkan garam secukupnya."
Secukupnya itu sebanyak apa? Kenapa nggak dijelasin?
Masih dalam keadaan bingung, ia melirik sebuah wadah kecil bertuliskan garam. Meraih sesendok makan dan menambahkan pada masakannya.
"Kok hambar sih?" gumamnya sesaat setelah mencicipi hasil masakannya. "Masukin aja garamnya semua kali ya, biar cukup."
Kata siapa memasak itu mudah? Demi apapun Awan ingin memaki sang penulis buku resep tersebut yang telah membuatnya bingung setengah mati.
“Jangan ngumpat, jangan ngumpat! Ngumpat dalam hati juga dicatat malaikat sebagai dosa, Wan!”
Ia mematikan kompor setelah meyakini opor ayam buatannya telah matang. Dilihat dari warna tak ada yang aneh. Cukup menarik dan mirip dengan gambar pada buku.
Tetapi jika ditanya rasa, mungkin Awan harus kembali mencicipinya terlebih dahulu sebelum diberikan kepada sang istri sebagai kejutan pagi.
Ini kuah opor apa air laut?
Semakin kesal saja Awan dibuatnya. Pria itu menatap buku resep dengan menipiskan bibir. Lalu kemudian menghempas dengan kasar ke lantai.
__ADS_1
“Buku resep sialan!”
...........