
Yurika bisa menghela napas sejenak setelah seluruh hidangan telah disajikan. Ia dan pekerja yang lain bisa beristirahat dan makan sembari menunggu pesta di dalam rumah usai. Setelah pesta selesai, mereka masih memiliki kewajiban untuk berberes-beres kembali. Mereka memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik mungkin.
Enaknya bekerja di dapur, mereka bisa ikut makan sisa hidangan yang tidak dibawa ke dalam. Mereka bis mencicipi apa yang kaum bangsawan makan. Namun, mereka juga butuh ekstra tenaga karena harus bekerja dari pagi hingga menunggu pesta usai diperkirakan tengah malam nanti.
Saat sedang melamun, Yurika tiba-tiba terpikir akan sesuatu. Tentang Hilda yang diceritakan akan dikerjai oleh Asteria dan Talisha. Hilda akan dipermalukan hingga dirinya pulang sembari menangis.
Ia bimbang, haruskan Yuri menolong Hilda? Atau lebih baik ia biarkan saja? Lagipula apa yang akan terjadi dengan Hilda tidak ada kaitannya dengan Yuri.
Yurika hanya perlu membuat Yuri berhenti menjadi pelayan Asteria agar hukuman gantung yang kelak akan diterimanya gagal. Lagipula, pada akhirnya Hilda akan hidup bahagia meskipun dalam perjalanannya mendapatkan banyak kesulitan, terutama dari pihak Asteria.
"Asteria pasti masih marah pada Yuri. Kalau aku ikut campur lagi, ia bisa lebih murka. Bisa-bisa Yuri akan langsung digantung." Yurika berbicara kepada dirinya sendiri.
Meskipun ia sudah tahu resikonya, Yurika bukan orang yang tega dengan orang lain. Perasaannya menjadi gundah gulana saat memutuskan akan tetap diam. Ia akan ikut merasa bersalah jika hanya diam dengan apa yang menimpa Hilda.
Setelah menimbang beberapa saat, Yurika akhirnya memutuskan untuk kembali ke tempat pesta. Ia mengenakan jubah luarannya. Yurika tidak bisa membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Hilda padahal ia tahu dan bisa mencegahnya.
Asteria tidak menyukai Hilda karena wanita itu selalu mencuri perhatian banyak elf pria bangsawan. Ia ingin menjadi satu-satunya elf wanita yang dikagumi banyak orang.
Yurika memasuki area pesta. Ia berkeliling mencari keberadaan Hilda. Hampir saja ia lupa kalau kejadian itu terjadi di tepi kolam. Artinya, kemungkinan Hilda berada di sisi barat rumah. Ia bergegas menuju ke halaman luar dekat kolam. Di sana juga ada banyak elf yang sedang berbincang-bincang karena tempat pesta memang berada di dalam ruangan utama dan area halaman.
Sepertinya Yuri agak terlambat. Hilda sudah bersama Asteria dan Talisha. Sebentar lagi mereka pasti akan menceburkan Hilda ke dalam kolam dan menarik gaunnya hingga robek.
"Nona Hilda ... awas!" Yurika berteriak keras saat Talisha hampir mendorongnya ke dalam kolam. Semua mata tertuju pada sosok Yurika yang berani berteriak.
Byur!
Terlambat. Talisha sudah lebih dulu merobek pakaian dan mendorongnya ke kolam. Tanpa pikir panjang, Yurika melepaskan jubah dan membawanya terjun ke dalam kolam untuk menolong Hilda.
Dalam cerita novel, Asteria berpura-pura menong Hilda namun pakaian milik Hilda telah robek sampai bagian dadanya terlihat. Ada banyak elf melihat yang menganggapnya itu sangat memalukan. Hilda pulang dengan menangis akibat peristiwa yang dialaminya.
__ADS_1
Beruntung Yurika di dunianya pandai berenang. Ia tidak kesulitan saat menarik Hilda agar muncul ke permukaan.
"Nona, pakailah jubah jelek saya untuk menutupi tubuh Anda." Yurika menutupkan jubahnya di area dada Hilda.
Hilda membulatkan mata. Ternyata area dadanya sangat terbuka. Ia menutupkan erat-erat jubah milik Yurika. Mereka berenang ke tepian bersama hingga akhirnya bisa naik kembali ke atas.
"Maaf, Nona. Anda jadi terpaksa memakai pakaian buruk milik saya," ucap Yurika. Sungguh, pakaiannya sangat mengganggu kecantikan yang terpancar dari dewi yang ada di sampingnya.
Hilda tersenyum. "Menurutku ini tidak buruk apalagi bisa menyelamatkanku dari rasa malu." Ia sangat bersyukur ada seorang pelayan yang menolongnya.
Beberapa elf tampak menghampiri Hilda yang mengkhawatirkan kondisinya. Yurika segera menyisihkan diri setelah merasa keberadaannya tidak diperlukan lagi. Ada banyak orang yang perhatian dengan Hilda.
Yurika berniat kembali ke dapur. Langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Asteria dan Talisha yang menatap geram padanya. Sudah dipastikan mereka akan marah-marah lagi.
"Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Asteria dengan tatapan murka. Tujuannya ingin mempermalukan Hilda justru membuat wanita saingannya itu semakin mendapat perhatian dan dipedulikan oleh elf lain.
"Saya hanya menolong Nona Hilda." Yurika berusaha menjawabnya dengan setenang mungkin.
"Ada apa ini, Asteria? Kenapa kamu malah memukul dia?"
Hilda muncul di saat yang tepat. Ia heran kenapa Asteria memukul pelayannya sendiri yang bahkan telah menyelamatkannya. Ia juga menatap tidak suka ke arah Talisha.
"Maafkan aku, Hilda. Pelayanku yang tidak tahu diri ini berani-beraninya memberikan pakaian kumalnya kepadamu." Asteria tampak sedikit panik melihat Hilda menghampirinya. Apalagi beberapa elf yang lain juga ikut menemani Hilda.
"Memangnya kenapa? Aku justru sangat berterima kasih kepada dia yang sangat sigap menolongku." Hilda berbicara dengan nada datar seakan menunjukkan kekecewaan pada Asteria. "Kalau tidak ada pelayanmu ini, mungkin aku sudah menangis karena malu oleh seseorang yang sengaja merobek pakaianku." Hilda kembali menatap ke arah Talisha melemparkan tuduhannya.
Semua orang jadi bertanya-tanya siapa yang berani ingin mempermalukan Hilda. Talisha jadi panik sendiri. Ia tidak menyangka rencananya disadari oleh Hilda. Saking paniknya, pisau lipat yang ia sembunyikan jatuh. Talisha menjadi pusat perhatian.
"Jadi, ini ulah kamu?" seorang elf lelaki bernama Grey memungut pisau lipat yang terjatuh dari pinggang Talisha.
__ADS_1
"Wah, tidak aku sangka Talisha tega berbuat seperti itu ...."
"Punya masalah apa dia dengan Hilda?"
"Aku juga tidak tahu. Bisa-bisanya dia berniat mempermalukan Hilda."
Talisha gemetaran. Perbuatannya terbongkar. Kini, semua orang memberikan tatapan tidak suka kepadanya. Mereka membicarakan perbuatan Talisha dan menyindirnya secara langsung sampai suasana menjadi riuh.
Talisha menatap ke arah Asteria, berharap temannya itu akan menolong. Perbuatan yang ia lakukan juga sebenarnya atas dasar ide dari Asteria yang sangat tidak suka kepada Hilda. Talisha hanya berniat membantu. Akan tetapi, Asteria malah menunduk. Sepertinya ia tak mau membelanya.
"Talisha, aku tidak menyangka kamu bisa sejahat ini kepada teman sendiri. Lebih baik kamu pergi daripada aku menyuruh pengawal untuk mengusirmu," ucap Asteria.
Talisha membelalakkan mata tak percaya dengan apa yang barusan Asteria katakan. "Asteria, maksudmu apa? Aku ...."
"Kita memang berteman, tapi aku tidak suka kalau kamu jahat kepada orang lain."
"Kamu ...." Talisha merasa geram. Seharusnya yang dipermalukan di sana adalah Asteria karena yang jahat sebenarnya dia. Wanita itu tega mengorbankan temannya demi nama baiknya sendiri.
"Aku bilang pergi!" Sekali lagi Asteria mengusir Talisha.
"Kamu akan membalas apa yang saat ini kamu lakukan padaku, Asteria. Kamu tahu kalau aku tidak bersalah!" Talisha merasa tak bisa membela diri. Ia lebih memilih pergi dari sana sembatu menanggung rasa malu di hadapan banyak elf lainnya. Asteria sangat keterlaluan kepada dirinya. Ia akan selalu mengingat hari ini.
*****
Sambil menunggu update selanjutnya, mampir dulu ke karya teman author ya 😘
Judul: Muhasabah Cinta
Author: Lusiana Anwar
__ADS_1