Pelayan Kesayangan Pangeran

Pelayan Kesayangan Pangeran
Kisah Aire


__ADS_3

Yuri menatap takjub pada istana yang ada di hadapannya. Bentuknya begitu megah laksana rumah impian setiap orang yang mengharapkan surga. Istana berwarna putih dengan pilar-pilar raksasa di bangun di atas danau besar tampak bersinar meski dari kejauhan. Tempat yang dikhususkan sebagai tempat tinggal keluarga raja dan kaum bangsawan terpilih. Elf biasa tidak bisa tinggal di sana kecuali mendapatman anugerah sebagai prajurit atau pelayan istana. Proses seleksi yang dilakukan juga sangat ketat.


Grafin sengaja menghentikan keretanya di tepi danau dekat istana. Ia pernah mendengar putrinya memang sangat ingin melihatnya. Sejenak hatinya terasa sedih dan muncul rasa bersalah. Ia yang telah menghapus hak Yuri untuk bisa berada di tempat itu.


"Ayah ...."


"Iya?"


"Apa Ayah bisa menceritakan tentang Ibuku? Dan bagaimana kalian bisa bertemu?"


Membahas tentang istrinya yang telah meninggal sama dengan membuka luka lama. "Apa yang ingin kamu tahu? Ibumu seorang elf bangsawan yang sangat cantik. Gara-gara jatuh cinta pada seorang midget, ia harus keluar dari istana dan melahirkan anak yang tak berhak menyandang status kebangsawanannya." Grafin menceritakannya dengan wajah sendu.


Yuri berjalan mendekati ayahnya. Ia duduk di sebelahnya seraya memeluk sang ayah. Ia lupa jika cerita tentang masa lalu juga pasti akan menyesakkan perasaan sang ayah.


"Aku menyayangi Ayah apapun yang terjadi. Aku juga tidak menyesal sudah terlahir sebagai seorang mixtus," ucap Yuri.


Grafin tersenyum. "Kelembutan dan kebaikanmu sangat mirip dengan ibumu." Ia kembali mengenang tentang masa lalu. "Entah itu suatu anugerah atau bencana karena kebaikannya yang begitu besar sampai membuatnya harus mengorbankan banyak hal." Grafin menghela napas, berusaha tegar dengan kisah masa lalunya yang kelam.


"Ibumu seorang elf yang sangat cantik dan begitu bersinar. Tubuhnya tinggi dengan rambut indahnya yang memiliki warna sama denganmu."

__ADS_1


"Kecantikannya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata saking cantiknya. Bahkan putriku sendiri kalah cantik dengan ibunya, Aire," ledek Grafin.


Yuri memanyunkan bibir. "Salah Ayah juga kan, kenapa jadi midget jelek. Aku jadi ikut jelek seperti Ayah," ejeknya.


"Hahaha ... katanya tadi tidak menyesal terlahir sebagai mixtus?" Grafin tidak merasa tersinggung dengan ucapan putrinya. Ia justru menikmati kedekatannya menjadi ayah dan anak dengan sedikit candaan. Hubungannya kini tidak sekaku dulu.


"Melihatmu berdandan seperti ini jadi semakin mirip dengan Aire," puji Grafin. "Entah benda aneh apa yang kamu pakai untuk mewarnai wajahmu, tapi kamu jadi kelihatan tambah cantik." Ia mengusap lembut kepala putrinya.


"Artinya Ayah mengakui kalau aku jelek, kan?" Yuri kembali manyun.


"Kapan Ayah bilang begitu?" kilahnya.


Memandangi istana elf membuat Grafin kembali teringat masa lalunya. "Aire, ibumu, merupakan putri dari Bangsawan Beatrick yang tinggal di dalam istana yang mengurus masalah pangan di istana."


"Kami, kaum midget sangat nyaman tinggal di area kaki pegunungan yang cenderung memiliki suhu udara yang dingin. Bahan makanan juga lengkap tersedia untuk bertahan hidup. Sayangnya, kaum ogre kerap memporak-porandakan pemukiman kaum midget dan melakukan pembantaian. Sebagian masih bertahan, sebagian lainnya memilih menghindar dengan memasuki wilayah kaum elf."


"Kaum elf merupakan kaum terbaik yang pernah ada. Mereka membuka tangan lebar-lebar menerima kehadiran kami asalkan mau tunduk dengan aturan yang berlaku. Elf yang awalnya tidak tahu menahu tentang persenjataan, mulai belajar dari kaum kami dalam menciptakan senjata yang bagus."


"Lalu, kapan ayah dan ibu bertemu?" Yuri memotong cerita sang ayah.

__ADS_1


Pandangan Grafin menatap lurus ke depan mengarah pada istana sembari membayangkan kembali tentang Aire, kekasihnya. "Pertama kali melihat sosok Aire saat desa ayah diserang kaum midget. Itu pertama kalinya ayah melihat seorang elf wanita yang tampak gagah menaiki kudanya sembari memegang busur panah. Aura elf yang terpancar darinya begitu terang hingga seperti matahari yang berjalan. Setiap anak panah yang dilesatkan selalu tepat mengenai sasaran. Untuk bisa membunuh kaum ogre, harus memanahnya tepat pada bagian leher agar terputus urat kehidupannya."


"Jadi, ayah sudah pernah bertemu dengan kaum ogre?" tanya Yuri penasaran.


Grafin tertawa kecil. "Sejak kecil ayah sudah sering berpindah-pindah karena keberadaan mereka. Ayah sampai hafal bau mereka yang sangat busuk dan menjijikan. Kalau nanti kamu mencium bau seperti daging busuk, segera bersembunyi atau lari sejauh mungkin. Jangan berurusan dengan mereka, Yuri."


Grafin masih menghabiskan waktu di tepi danau sembari berbagi cerita dengan Yuri. Hal yang pertama kali baru mereka lakukan setelah sekian tahun. Yuri yang sejak kecil sudah harus bekerja di tempat orang, memiliki kebencian tersendiri kepada ayahnya. Ia tak pernah mau dekat dengan orang yang sudah sengaja memberikannya kepada kaum bangsawan untuk dijadikan pelayan.


Grafin memiliki alasan tersendiri untuk menyingkirkan Yuri dari sisinya. Ia tidak ingin Yuri setiap hari hidup dengan ejekan masyarakat sebagai anak seorang midget. Ia juga tidak ingin Yuri tahu siapa sebenarnya ibu kandungnya dan kenapa dia bisa terlahir sebagai mixtus yang hina.


Grafin pernah menyelamatkan Aire yang terluka saat perang. Aire mendapat luka sayatan pedang saat bertarung dengan kaum ogre. Grafin yang merawat Aire selama berbulan-bulan hingga ia sembuh. Grafin juga yang memberikannya sebilah pedang sebagai senjata saat pertempuran. Dari pertemuan itu, keduanya jatuh cinta. Tentu saja keputusan Aire untuk menikah dengan Grafin mendapat pertentangan yang hebat dari keluarga bangsawan Beatrick sekaligus keluarga kerajaan.


Pangeran Emerson yang saat ini menjadi raja, telah menyampaikan niatnya untuk memperistri Aire. Bangsawan Beatrick juga telah menyetujuinya. Akan tetapi, Aire menolak menikah dengan pangeran. Ia lebih memilih Grafin yang telah menyelamatkan nyawanya.


Akibat keputusan Aire, kerajaan sempat mengumumkan perang terhadap kaum midget. Mereka menyerang pemukiman kaum midget yang ditempati Grafin. Kerajaan ingin membumihanguskan tempat tinggal mereka. Nanyn, Aire datang untuk mencegahnya. Ia mengancam akan bunuh diri jika kerajaan berani menyerang orang yang bersalah. Menurutnya, permasalahan mereka hanya urusan pribadi, bukan pertentangan kedua kaum yang berbeda. Ia meminta pangeran untuk berbesar hati karena dia tak bisa menerima cintanya.


Bunuh diri merupakan hal paling terlarang di kerajaan elf. Akhirnya, kerajaan menyerah dan mencabut permusuhan dengan kaum midget. Sebagai konsekuensinya, Aire dikeluarkan dari kerajaan.


Aire hidup mengasingkan diri bersama Grafin menerima berbagai cemoohan dari masyarakat sekitar akibat keputusan mereka yang dianggap egois. Grafin, midget yang tidak tahu diri menikahi seorang elf bangsawan yang menjadi kebanggan kerajaan. Sementara, Aire terlalu naif memperjuangkan hidupnya hanya untuk cinta.

__ADS_1


Keduanya mencoba mengabaikan setiap ucapan orang. Mereka merasa cukup bahagia dengan keputusan untuk hidup bersama. Hingga akhirnya, seorang mixtus lahir di antara mereka yang diberi nama Yuri. Kebahagiaan mereka terasa semakin lengkap dengan kehadiran malaikat mungil itu.


Tak berselang lama setelah kelahiran Yuri, terjadi peperangan kembali antara kaum elf dan kaum ogre. Aire, meskipun telah dikeluarkan dari istana, namun jiwanya merasa terpanggil sebagai salah satu ksatria elf. Ia meminta izi kepada Grafin untuk ikut turun ke medan perang. Aire meninggal saat berusaha membela kaumnya di medan perang.


__ADS_2