
Hari liburan akhirnya tiba. Yuri masih sibuk mengemas barang-barang miliknya yang akan dibawa pulang. Pandangannya terpaku pada pakaian indah yang ia dapatkan dari Ezra. Ia bahkan tak berani memakainya di sana saking bagusnya. Jika ada yang melihat, bisa-bisa ia akan dituduh sebagai pencuri. Ia juga menyembunyikan jepit rambut yang dihadiahkan oleh Hilda kepadanya di tumpukan paling bawah.
Remi ada di sampingnya melakukan hal yang sama. Ia lebih banyak mengemasi makanan yang akan ia bawa di perjalanan. Jika ada sisa, akan ia berikan kepada keluarga. Wajah wanita itu kelihatan ceria menjelang kepulangannya.
"Remi, istana ... apakah jauh dari tempat kita?" tanya Yuri. Ia ingin sekali melihat istana para elf.
Remi menghentikan kegiatannya sejenak. "Istana? Aku rasa itu tidak terlalu jauh. Mungkin butuh sekitar 3 hari perjalanan dengan kereta kuda. Tempatnya cukup dekat dengan pegunungan di wilayah barat." Remi mengikat ujung-ujung kain berbentuk segi empat itu sehingga bisa membungkus rapat barang bawaannya.
"Apa kamu sudah selesai berbenah? Kalau sudah, ayo kita menuju rumah besar untuk mengambil bayaran kita."
Yuri ikut-ikutan cara Remi mengemas barangnya. Ia menenteng barang miliknya dan bersiap pamit kepada keluarga Asteria.
Selain Yuri dan Remi, ada beberapa pekerja lain yang juga sama memakai jatah liburnya untuk pulang kampung. Mereka mengantre menemui Nyonya Catlin yang bertugas membagikan penghasilan mereka selama bekerja. Di samping Nyonya Catlin, ada Asteria yang tampaknya sedang mencecar Yuri. Terlihat dari sorot matanya yang sedari tadi fokus pada Yuri.
'Tenang, Yuri. Sebentar lagi kamu akan pulang. Aku akan membantumu mencari cara agar tidak perlu bekerja di tempat ini lagi,' kata Yuri dalam hatinya.
Satu per satu pekerja mendapatkan sekantong koin sebagai upah selama mereka bekerja. Bentuk mata uang yang digunakan sebagai alat tukar terbuat dari tembaga yang dibuat bentuk lingkaran dan diberi lubang pada bagian tengah.
Akhirnya, tiba giliran Yuri menerima upahnya. Ada yang aneh dengan kantong yang diterima olehnya. Rasanya kantong miliknya lebih kecil dan enteng dari yang diterima pekerja lain.
"Kenapa?" tanya Asteria dengan nada meledek dan senyuman menyeringai kepadanya. "Karena selama bekerja di sini kamu selalu membuat masalah, upah yang aku berikan hanya setengahnya saja. Itu masih lebih baik dari pada tidak memberimu sama sekali. Cepat pergi dari sini!" usir Asteria.
Yuri tidak ingin memperpanjang masalah. Ia menerima saja apa yang menjadi jatahnya. Simpanan dari penghasilannya dulu selama ia tidak pulang juga cukup banyak. Ia meninggalkan kediaman bangsawan Jansen dengan perasaan biasa saja.
"Nona Asteria sangat keterlaluan. Dia tidak seharusnya berbuat seperti itu," gerutu Remi. Sebagai teman, justru ia yang kesal dan ingin memaki.
__ADS_1
"Sudah, tidak apa-apa," ucap Yuri menenangkan Remi.
Keduanya menaiki kereta kuda yang akan membawa mereka pulang ke kampung masing-masing. Ada dua orang lain yang juga ikut satu kereta dengan mereka. Arah pulang mereka sama, hanya saja berbeda desa. Yuri yang tinggal paling jauh tempat tinggalnya. Biaya menyewa kereta kuda cukup mahal, namun sebanding dengan jarak yang harus mereka tempuh.
Sepanjang perjalanan, Yuri terus melihat ke arah luar melalui lubang jendela di sisi tempat duduknya. Seperti yang sudah ia bayangkan, sepanjang jalan hanya terdapat pepohonan di dalam hutan. Jangan berharap melihat hotel atau rumah makan di sana. Tidak bertemu binatang buas saja sepertinya sudah beruntung.
Saat malam tiba, mereka membangun perkemahannya sendiri di tengah hutan untuk beristirahat dan tidur. Pengendara kereta harus tahu daerah yang aman dan berbahaya sepanjang perjalanan. Jika salah menentukan lokasi istirahat, bisa saja mereka menjadi sasaran perampok.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Yuri sampai di depan tugu bertuliskan Desa Eluigwe. Ia turun dari atas kereta sembari memberikan upah kepada pengendara kereta.
Pandangan Yuri menatap lurus ke depan memandangi jalan setapak yang akan ditempuhnya. Dari awal masuk desa sudah tampak beberapa rumah penduduk yang letaknya cukup berjauhan. Rumah-rumah sederhana milik penduduk hampir memiliki bentuk serupa. Bentuknya dibuat melingkar dengan atap menjulang tinggi seperti gunung yang terbuat dari rumput kering.
Yuri mengenakan penutup kepala jubahnya. Ia mulai berjalan menapaki jalan desa menuju rumah yang bahkan ia sendiri belum tahu.
"Tidak aku sangka dunia di dalam novel bisa seluas ini. Aku seperti ikut masuk ke dalam sebuah film dan merasakannya secara langsung," gumamnya.
Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya ia sampai di tengah pedesaan yang terdapat lebih banyak rumah-rumah dan jaraknya tidak terlalu jauh. Ia menemukan beberapa anak kecil yang sedang bermain di halaman rumah.
"Hai, Nak! Apa aku boleh minta bantuan?" Yuri berusaha menghampiri ketiga elf kecil yang imut itu.
Ketiga anak itu menatap ke arah Yuri dengan tatapan keheranan. Mereka saling melihat satu sama lain.
"Siapa kamu? Apakah kamu ogre?" tuduh salah satu dari mereka.
"Sepertinya dia Ogre! Wajahnya sangat jelek!" sahut anak lainnya yang tubuhnya paling tinggi. Ia jadi kesal disebut jelek oleh anak-anak kecil. Walaupun memang sebenarnya ia jelek.
__ADS_1
"Ogre! Pergi kamu!" anak yang lain memukuli Yuri karena mengira dia Ogre. Kedua anak yang lai ikut-ikutan memukuli Yuri.
"Ogre! Pergi kamu! Dasar Ogre jelek! Suka makan elf!"
"Aduh!" pekik Yuri merasakan pukulan anak-anak itu. "Aku juga elf seperti kalian! Lihat ini, telingaku sama!" Yuri menyibakkan rambut agar telinganya kelihatan. Setelah melihat bentuk telinga itu, mereka langsung berhenti memukul.
"Apa kamu Yuri?" terdengar suara dari salah satu rumah. Seorang elf wanita keluar dari dalam rumah itu dan berjalan mendekat ke arah Yuri. Ia memperhatikan tubuh Yuri dari atas hingga baeah sambil tersenyum seperti orang mengejek. Akhirnya kamu berani pulang juga. Aku kira kamu akan selamanya tinggal di tempat Bangsawan Jansen dan meninggalkan ayamu."
Yuri tidak tahu apa yang orang tersebut katakan. Dari cara bicaranya, sepertinya orang itu membenci Yuri. 'Yuri, apa kamu juga jadi musuh orang-orang di di desa' tanya Yurika dalam hati.
"Anak-anak, antar dia ke rumah Pak Grafin. Mungkin terlalu lama pergi dia sudah lupa rumahnya."
"Pak Grafi penjual minuman tidak enak itu?" tanya salah satu anak kecil.
"Benar, antarkan dia padanya!" perintah wanita itu.
"Baiklah, ayo!" Anak-anak itu dengan penuh semangat berjalan untuk mengantarkan Yuri ke tempat tujuan.
Yuri sampai tertegun. Ia yakin ada yang tidak beres dengan di sana. Akan tetapi mengikuti kemana langkah anak-anak itu pergi.
*****
Sambil menunggu update selanjutnya, mampir ke karya teman author ya 😘
Judul: My Sexy Bodyguard
__ADS_1
Aurhor: Eveliniq